YARA Warning Rencana Pagelaran Rapai Geleng Massal di Abdya

Ketua Yara Abdya, Miswar, SH @acehtrend/Masrian Mizani

ACEHTREND.COM, Blangpidie – Wacana pemerintah daerah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) untuk menggelar rapai geleng massal dalam momen 17 Agustus 2019 mendapat sorotan dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Perwakilan Abdya. Pasalnya, kegiatan itu direncanakan mengambil anggaran Dana Desa Rp25 juta per desa.

“Kita meminta kepada para geuchik untuk berhati-hati dalam melakukan pengelolaan Dana Desa, seperti rencana pengadaan alat kesenian rapai geleng yang akan direncanakan dalam Anggaran Desa Tahun 2019 sebesar Rp25 juta per gampong yang tertuang dalam Rincian Prioritas Penggunaan Dana Desa No 5 Tahun 2019 Tentang Pengolalaan Keuangan Gampong dalam Kabupaten Aceh Barat Daya,” ungkap Ketua YARA Abdya, Miswar, kepada aceHTrend, Selasa (26/3/2019).

Menurut Miswar, pengadaan alat kesenian ini tidak ada manfaat bagi masyarakat gampong, karena kegiatan tersebut bukan hasil dari musyawarah di tingkat gampong dan kecamatan, tetapi prioritas di tingkat kabupaten.

Seharusnya, kata Miswar, desa yang memiliki hak musyawarah antara badan musyawarah desa, pemerintah desa, dan unsur masyarakat desa, menyepakati hal bersifat strategis tersebut sesuai dengan Pasal 1 Undang-Undang No 6 Tahun 2014 tentang Desa.

“Seharusnya Dana Desa itu dimanfaatkan dan diusulkan oleh masyarakat di desa masing-masing, karena tidak semua desa pogram keseniannya rapai geleng. Seharusnya Dana Desa janganlah diintervensi terlalu jauh. Dana Desa itu harus bisa dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat desa agar pertumbuhan di desa bisa berjalan efektif,” ujarnya.

Miswar mengingatkan, dana desa jangan sampai dimanfaatkan oleh pihak lain, sehingga ketika mengalami masalah dengan hukum, pihak desa itu sendiri yang akan dirugikan.

“Contohnya seperti pengadaan ayam KUB yang memakai anggaran Dana Desa tahun 2018 yang hingga kini belum selesai dan sedang dilakukan audit oleh inspektorat. Maka jangan sampai timbul hal-hal baru yang berkaitan dengan hukum,” jelasnya.

Apalagi sambung Miswar, gelaran rapai geleng yang diwacanakan tersebut menguras anggaran desa hingga Rp25 juta per desa, sedangkan azas manfaatnya tidak menyuntuh langsung kepada masyarakat. 

“Seharusnya dana sebesar itu bisa dimanfaatkan untuk pembangunan desa itu sendiri, seperti bisa dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur, membuat saluran peningkatan jalan di desa, dan bisa dimanfaatkan di bidang kesehatan. Apalagi sekarang masih sangat banyak masyarakat yang sakit, kurang biaya untuk melakukan pengobatan, dan juga bisa dianggarkan untuk pencegahan gizi buruk (stunting), dan pencegahan demam berdarah (DBD). Maka pemerintah harus pro terhadap rakyat sebagai bukti realisasi pogram kembalikan harapan rakyat,” paparnya.

Menurut Miswar, persoalan kesejahteraan desa lebih penting dibandingkan dengan pagelaran rapai geleng, sebab mewujudkan Abdya yang hebat harus mendidik generasi dan masyarakat yang hebat pula.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK