Jokowi Membangun Beranda Indonesia

Presiden RI Ir. Joko Widodo. (Ist)

Oleh Muhajir Juli*)

Menjadi pemimpin Indonesia berarti harus siap bekerja keras tanpa lelah. Negara ini disusun oleh pulau-pulau besar dan kecil, dengan jarak yang tidak dekat. Juga dengan beragam jenis manusianya, yang dari Sabang hingga Merauke, berbeda warna kulit, keyakinan dan peradaban. Bila barat Indonesia identik dengan Islam, maka timur tidaklah demikian. Indonesia dirajut dengan semangat kebersamaan yang dirangkum dalam Bhinneka Tunggal Ika.

Ketidakadilan pembangunan antar Jawa dan luar Jawa kerap menjadi bahan diskusi, sekaligus alasan mengapa beberapa daerah di luar Jawa bergolak. Aceh sendiri dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), walau basis perjuangan yang dibangun adalah etno nasionalisme, tapi isu ketidakadilan pembangunan dan diskriminasi etnis, merupakan bahan jualan yang laku keras di pasaran. Simpati rakyat atas perlawanan-perlawanan di berbagai wilayah, selalu saja dimodali dengan jargon-jargon ketidakadilan.

Ada yang berubah sejak hampir lima tahun belakangan. Era Jokowi-Jusuf Kalla menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, arah pembangunan Indonesia pun berubah. Bila sebelumnya hanya bersifat Jawa sentris, dengan melibatkan beberapa propinsi unggulan, kini arah pembangunan Indonesia menjangkau seluruh Indonesia.

Pemerataan pembangunan infrastruktur untuk seluruh Indonesia, menurut Presiden Jokowi, bukan semata dalam rangka mendongkrak perekonomian daerah. Tapi juga bukti kehadiran negara yang memberikan keadilan pembangunan untuk seluruh rakyat Indonesia.

Langkah Jokowi dengan konsep membangun infrastruktur besar itu, dengan pola ikut mengurangi subsidi tak produktif untuk rakyat, tentu tidak populer. Kebijakan pemerintah menaikkan harga minyak, menaikkan tarif listrik, dan pengurangan subsidi lainnya, tentu sesuatu yang sejatinya mengancam popularitas Joko Widodo sendiri. Ia dimaki di mana-mana.

Tapi inilah resiko menjadi pemimpin. Untuk membangun basis ekonomi, Pemerintah Indonesia kemudian melaksanakan Undang_Undang Desa dengan mengucurkan Dana Desa untuk seluruh desa di Indonesia. Fokus DD pun untuk hal-hal mendesak seperti pembenahan dan pembangunan infrasruktur kecil berbasi pedesaan, pembangunan embung desa, serta BUMDes. Tujuan Pemerintah tentu luhur. Masyarakat desa harus berdaulat dengan ekonomi kerakyataan.

Sembari terus berupaya memandirikan desa sebagai basis kehidupan sosial bangsa ini, Presiden Jokowi dan JK pun terus membangun infrastruktur besar. Sejak 2015 hingga 2018, pemerintah telah membangun 55 bendungan. 14 bendungan telah selesai dan 41 lainnya masih dalam proses pengerjaan.

Pemerintah juga membangun irigasi yang sejak 2015 hingga 2018 telah berhasil dibangun 865.389 hektar. Tahun 2019 jaringan irigasi yang akan dibangun seluas 139.410 hektar.

Embung besar yang telah dibangun 942 buah. Tahun 2019 pemerintah akan membangun 120 embung lagi. Total embung yang akan dibangun di sleuruh Indonesia targetnya mencapai 4.119 km.

Jalan tol juga mengalami perkembangan yang pesat. Sampai tahun 2018 jalan tol sudah dibangun 782 km. Sampai selesai 2019 rencana pemerintah tol yang akan dibangun mencapai 1070 km. Jembatan juga demikian. Dalam kurun waktu 2015-2018 yang telah dibangun sepanjang 41.063 meter. Tahun ini akan dibangun sepanjang 10.029 meter.

Jembatan gantung yang telah dibangun sejak 2015 hingga 2018 sebanyak 164 unit. Tahun ini akan dibangun 166 unit lagi.

Tentu data-data di atas merupakan perwakilan saja. Masih banyak sektor lain yang terus dibangun seperti bidang system penyediaan air minum, sanitasi persampahan, penanganan kawasan kumuh, perumahan, Kawasan Ekonomi Khusus, Kawasan Wisata jalur cengkeh, kawasan berbasis potensi lokal dan sebagainya.

Lima tahun ini pemerintah memang gencar membangun Indonesia dari semua arah. Daerah pinggiran yang dulunya terlupakan. Kawasan tertinggal yang dulunya dianggap tidak penting. Daerah yang jumlah penduduknya sedikit, yang dulunya tidak seksi di sisi politik, kini semuanya disapa, dipeluk dan dicium oleh pemerintah lewat pembangunan infrastruktur.

Apa yang sudah dimulai ini, tentu dengan harapan bahwa suatu saat kelak, negara ini, bangsa ini bisa menjadi salah satu super power dunia. Menjadi negara besar dan berpengaruh, kita harus memiliki fasilitasnya. Kini Indonesia sedang dibangun ke arah tersebut.

Tak ada yang mudah untuk membangun peradaban besar. Butuh kucuran keringat, deraian air mata serta perlawanan dari mereka yang kadung nyaman dengan status quo.

Jambo Muhajir adalah rubrik yang diasuh oleh Pemred aceHTrend Muhajir Juli. Berisi kritik sosial, apresiasi dan ragam tulisan lainnya.

KOMENTAR FACEBOOK