Peran Dayah Sebagai Pembentuk Agent of Change

Santri di Dayah Amala Aceh Timur. Foto ilustrasi dikutip dari official website Tribrata Polres Aceh Timur.

Oleh Baihaqi*)

Kata bangunan moral di kalangan santri dalam istilah nahu, merupakan susunan kalimat mudaf dan Mudaf ilaih yang berarti bangunan dari moral. Dengan kata lain pembangunan yang tercipta merupakan sikap dari moralitas.

Pembangunan infratruktur dan lain-lainnya di Indonesia akan lebih efisien dan terlaksana dengan cepat, jelas dan berkualitas, bila Sumber Daya Manusia (SDm) yang membangunnya memiliki moral, akhlakul karimah dan aturan-aturan agama hingga terlepas daripada kasus-kasus korupsi yang meraup uang negara yang efeknya akan mengakibatkan pembangunan di negeri ini menjadi lambat dan tidak berkualitas.

Berdasarkan data dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang dilansir oleh Kompas.com pada tahun 2017 terdapat 123 kasus dan di tahun 2018 terdapat 76 kasus terpidana korupsi di negeri. Ini merupakan angka yang cukup besar. Di daerah kita di Aceh yang terkenal dengan penerapan Syari’at Islamnya juga terdapat kasus dugaan korupsi yang menjerat Bupati Bener Meriah Non Aktif Ahmadi. Kini ia telah diputuskan bersalah dan harus mendekam di hotel prodeo selama dua tahun beserta pencabutan hak politiknya selama beberapa waktu. Ia terlibat suap-menyuap dengan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dalam kasus Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA).

Kenapa bisa terjadi hal yang demikian? Ini semua karena moralitas para penyelenggara negara yang sudah mulai terdegradasi, sehingga mereka berani mengambil yang bukan haknya.

Bangunan moral akan tercipta apabila yang membangun pembangunan ini adalah orang-orang yang memiliki moralitas dan ilmu Agama yang cukup. Sehingga ia sudah punya pegangan dalam menepis bisikan-bisikan yang datang pada dirinya untuk mengambil yang bukan hak.

Bicara tentang moralitas, pendidikan yang sangat mengedepankan moralitas dan akhlakul karimah ialah pendidikan di dayah/pesantren.

Di dalam dayah kesehariaanya para santri diajarkan kehidupan bermoralitas, mulai bagaimana cara bersikap degan guru-guru dan bagaimana cara bersikap dengan teman-temannya. Begitupun dengan kedisiplinan yang selalu ditekan oleh para pembimbing kepada para santrinya. Mulai dari jadwal makan, tidur, mengaji dan shalat berjamaah, semuanya telah diatur.

Bila melanggar akan diberikan hukuman sebagai efek jera. Sehingga para santri akan terbiasa dan terbawa moral dalam bersikap dan disiplin dalam melakukan aktifitas ketika ia sudah mulai terjun ke dalam kehidupan bermasyarakat.

Dengan demikian, kita para santri harus menjadi pemuda Islam yang nasionalis cinta pada tanah air. Tidak boleh hanya terbatas dengan mempelajari kitab-kitab kuning saja, tetapi juga harus memandang keluar melihat perkembangan negeri ini. Jangan sampai negeri ini dipimpin oleh pemimpin yang tidak bermoral hingga merugikan negara.

Para santri harus menjadi yang terdepan dalam membangun negeri yang kita cintai ini agar terciptanya pembangunan yang bersih, bermoral terlepas dari tindak pidana korupsi.

Para santri tidak boleh berdiam diri, tapi harus terus maju untuk membangun bangsa ini menjadi bangsa yang baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur.

*)Penulis adalah santrilDayah Bustanus Malikulsaleh Kota Langsa. Peserta pelatihan jurnalistik yang digelar Dinas Dayah Propinsi Aceh pada akhir Februari 2019.

KOMENTAR FACEBOOK