Semangat dr. Husna, Berjuang untuk Aceh Lewat Politik

Irsalina Husna Azwir @istimewa

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Mempertahankan semangat agar tetap menggebu-gebu, mungkin tidak begitu mudah. Apalagi bila harus menunggu waktu hingga lima tahun lamanya. Namun, keinginan yang kuat untuk perubahan, ditambah visi misi yang jelas, membuat perempuan muda ini mampu menunggu waktu selama itu agar bisa mendaftarkan kembali dirinya sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

dr. Irsalina Husna Azwir, S.H namanya. Akrab disapa Husna. Periode lalu, ia pernah mencalonkan diri sebagai anggota DPD RI. Namun ketika itu ia tidak terpilih. Tidak patah arang, di periode kali ini Husna memantapkan niatnya untuk kembali maju. Dalam kurun waktu lima tahun itu, banyak hal yang dilakukan Husna, di antaranya fokus pada pendidikan.

“Setelah menjadi cagur alias caleg gugur pada pemilihan 2014 lalu, Husna menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum. Selain itu juga melanjutkan studi Magister Biomedik Antiaging Medicine atau pencegahaan penuaan di Universitas Udayana Denpasar dan Program Studi Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin di Universitas Hasanuddin Makassar,” ujar Husna saat berbincang dengan aceHTrend pertengahan Maret 2019.

Di sela-sela aktivitas kuliah, ia juga aktif mengikuti kegiatan sosial bersama teman-temannya yang sama-sama memiliki kepedulian di bidang pendidikan seperti komunitas Aku Mengajar, Pecinta Anak Jalanan, dan rutin melakukan bakti sosial setiap tahun.

“Semangat itu harus setiap hari. Dan yang menjadi pokok untuk semangat kembali pada periode ini, adalah harapan para simpatisan akan kemajuan Aceh ke depan,” ujar putri pasangan notaris Azwir dan Mediati Hafni Hanum ini.

Sebagai anak muda, Husna memiliki pandangan tersendiri dalam melihat politik. Bila umumnya anak muda cenderung apatis dengan dunia yang satu ini, ia justru melihat sebaliknya. Baginya, politik bukanlah tujuan, melainkan cara untuk membantu orang lain dalam cakupan yang lebih luas. Motivasinya sederhana saja, melakukan apa yang dicintai, dengan menjadikan diri bermanfaat bagi banyak orang.

Dalam pandangannya, politik bisa menjadi salah satu sarana untuk berdakwah. Politik seperti itu menurutnya telah dicerminkan oleh Nabi Muhammad saw melalui keseharian, ketegasan, dan sikapnya yang membebaskan jiwa dan pikiran manusia dari kebodohan.

“Makanya tadi Husna sampaikan, bahwa politik bukan tujuan, melainkan cara membantu dalam lingkup yang lebih luas, mengarahkan, mengayomi, serta menghasilkan kebijakan-kebijakan yang pro kepentingan umum,” ujar alumnus Dokter Umum dan Sarjana Hukum Universitas Abulyatama, Aceh Besar itu.

Ia juga mewanti-wanti, bila anak muda bersikap “masa bodoh” dengan politik, dan bangga dengan tindakan golput alias tidak mau memberikan hak pilihnya, siap-siap saja dengan kebijakan-kebijakan yang akan jauh dari yang diharapkan.

“Islam bisa menjadi rahmatan lil alamin juga karena suatu proses politik. Di zaman Nabi dahulu, ada perang dalam merebut kekuasaan. Kalau kita sekarang diam saja, mungkin Islam hanya sebatas nama yang dikenal sejarah.”

Karena itu, dalam setiap kesempatan bertemu dengan konstituen, Husna tak bosan-bosannya menjelaskan visi misinya, dan berdiskusi untuk membuka pikiran dan pandangan anak-anak muda. Ia lebih suka mengobrolkan hal-hal terkait dengan sejarah Aceh dan kondisi saat ini, serta apa harapan generasi muda Aceh ke depan? “Bila sepaham dan sejalan mohon didukung. Yang Husna butuhkan juga bukan hanya suara anak muda, tetapi juga suara perempuan. Sehingga bila terpilih nanti ada yang mengawasi realisasi kebijakan-kebijakan di masyarakat,” kata dara kelahiran 1 Januari 1991 itu.

Maju sebagai caleg DPD, diakuinya juga ada pertimbangan khusus, karena bisa bersifat independen, serta menjadi tombak perjuangan kepentingan aspirasi lokal kedaerahan. Melalui DPD memungkinkan merancang undang-undang yang sifatnya ketentuan khusus. Contohnya RUU pesantren dan pendidikan keagamaan. Hal ini memungkinkan dirinya berkontribusi memperjuangkan kepentingan umat dengan mengedepankan akhlak mulia dan penghapusan diskriminasi antara pendidikan swasta dengan negeri.

“Husna mengagumi Nabi Muhammad sebagai sosok politikus. Dan yang memotivasi Husana untuk terjun langsung adalah kedua orang tua, kebetulan ibu juga pernah menjadi anggota DPD RI periode 2004-2009. Dengan mereka Husna selalu berdiskusi apa sih yang menjadi permasalahan kita dan apa solusinya. Orang tua banyak memberikan pandangan-pandangan kehidupan, membekali diri dengan pendidikan, serta kewajiban memanfaatkannya untuk kepentingan banyak orang,” ujar caleg DPD nomor urut 32 ini.

Apalagi ia melihat, Aceh yang kaya dengan potensi alam juga ditopang oleh aliran dana Otonomi Khusus yang sudah berjalan selama 12 tahun. Dengan dana ini penggunaannya bisa dimaksimalkan untuk pemberdayaan ekonomi rakyat, pengentasan kemiskinan, kesehatan, pendidikan, pembangunan, serta pemeliharaan infrastruktur.

Itulah yang membuat Husna –meskipun usianya masih muda–merasa seolah-olah waktunya sangat sempit untuk berbuat sesuatu bagi Aceh. Tak heran, walaupun kariernya di bidang hukum atau kedokteran telah menanti, untuk jangka waktu singkat ini ia memilih mencoba lewat jalur politik. Selaku keturunan Tgk. Chik di Reubee, darah pejuang pun tampaknya turut mengalir dalam diri perempuan muda ini.[]

KOMENTAR FACEBOOK