Lidah Kampung di Penerbangan Internasional

Berangkat dari Sultan Iskandar Muda International Airport, Minggu (31/3/2019) pukul 15.00 WIB, rombongan umrah bersama ulama Aceh, yang difasilitasi oleh Ketua Umum DPP Partai NasDem H. Surya Paloh, tiba di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) 2 pukul 17.30 WIB. Nyaris tak ada waktu untuk bernafas santai. Karena rombongan segera dibawa ke KLIA 1.

Rombongan rata-rata perokok aktif. Tapi di Bandara itu, selain di tempat antar jemput penumpang, tidak ada spot untuk perokok. Bahkan sejauh pengamatan saya tidak ada satupun counter rokok di sana. Kalau minuman beralkohol dengan aneka ragam merek internasional, tersedia. Jangan tanya harga, minuman haram itu tidak ramah dengan kantong kita. Dari informasi yang saya dapatkan, minuman itu tidak dijual untuk warga tempatan. Semua pembeli dimintai passport.

Saya tidak mencari tahu lebih lanjut.

Rombongan umrah yang berjumlah 93 orang itu, diberangkatkan ke Malaysia dengan dua kloter. Saya masuk kloter 2, sehingga tiba sore. Sempat ada perasaan gembira, karena tidak perlu terlalu lama “mondok” di bandara. Maklum, sebagus apapun bandara dan di manapun itu, tetaplah sebuah terminal yang tidak membuat kita nyaman dalam waktu lama. Apalagi mengingat jarak tempuh yang tidak dekat dari satu tempat ke tempat lain.

Saya dan Rizal Fahlefi, pendamping rombongan dan merupakan pengurus NasDem Aceh, karena sangat ingin menyundut rokok, harus berjalan jauh menuju tempat pemberhentian bus untuk mengangkut dan menaikan penumpang. Di seberang jalan, di “trotoar” telah ada para penghisap rokok dari berbagai bangsa, laki-laki dan perempuan. Ketika kami ikut bergabung, wajah Asia dan Eropa menyatu padu sebagai komunitas tak resmi Perhimpunan Pencinta Rokok se Dunia (PPRD). Dalam alam khayal, saya daulat seorang perempuan berkulit eksostis sebagai ketua. Karena saya lihat ia sangat lihai membentuk macam ragam rupa asap rokok.

Bersama Rizal, kami di sana hanya menghabiskan sebatang rokok. “Ayo balik ke terminal tadi,” ajak Rizal. Kami pun kembali menyusuri koridor bandara dengan langkah semakin berat. Ragam manusia, dengan berbagai jenis bangsa, dengan bahasa yang berbeda, ada yang kongkow, ada pula yang terlihat buru-buru melangkah. Dari perempuan yang memakai celana jeans ketat super pendek, hingga perempuan muslim yang berpakaian sangat tertutup.

Mata yang nakal, mata yang menunduk, mata yang cuek, dan ragam tingkah polah manusia dari dua jenis kelamin, bercampur baur dalam polah yang saya berinama “airport juice”. Jangan pesan “juice itu” karena tak ada dalam daftar menu, setidaknya sampai saya menulisnya untuk Anda.

***
Sekitar pukul 22.00 waktu Malaysia, kami mendapat kabar bila pesawat Arabia Airlines yang mengangkut kami ke Jeddah, delay. Bukan hanya kami, seluruh penumpang yang sudah berada di bandara, terlihat lesu. Pesawat akan tiba pukul 02.00 dinihari.

Kami pun mulai diserang kantuk. Wajah-wajah jamaah terlihat mulai meredup. Kantong mata sudah memberikan signal lelah. Satu persatu pun mulai “tumbang”. Ada yang tidur di kursi, lantai dan di mana saja, sejauh nyaman untuk kondisi darurat.

Saya pun tidak punya semangat lagi untuk melakukan apapun. Mata ingin tidur. Apalagi pada malam sebelumnya saya tidak sempat tidur yang cukup karena harus menyelesaikan pekerjaan.

Pukul 02.00 pagi kami dibawa masuk ke ruang tunggu. Di sana beberapa orang melanjutkan tidur.

***
Pesawat Saudi Airlines dengan nomor penerbangan 843D itu bertubuh besar. Jumlah kursi sekitar 380. Dibagi dalam tiga kompartemen, dengan masing-masing kompartemen memiliki tiga lajur. Per lajur tiga kursi tiap barisnya.

Saya bersama seorang guru pesantren susuk di kursi baria 41. Saya kebagian di dekat jendela pas di sayap pesawat. Hujan lebat mengguyur langit Malaysia. Kapal terbang dengan santai. Sesekali bergetar juga. Mungkin bertubrukan dengan ruang kosong di angkasa.

Pukul 04.00 waktu Malaysia, pesawat tiba di angkasa Aceh, tepatnya di Lhokseumawe. Pramugari yang terdiri dari wanita berbangsa Arab dan dua lainnya sepertinya dari Indonesia, mulai membagikan makanan. Pramugari berwajah Arab agak kurang ramah. Seperti tidak memiliki kemampuan untuk senyum. Ia terlihat kaku ketika berkomunikasi dengan penumpang dari lintas bangsa.

Bayangkan, jangankan yang belum pernah terbang, saya pun sempat dibuat “gagal” berkomunikasi karena suaranya yang nyaris tak terdengar dan mimik wajahnya yang gagal ramah.

Kawan di samping saya terlihat tidak biasa dengan menu yang ada di hadapannya. Matanya sempat melirik kiri dan kanan. Ia mencoba menyicip keju yang dibungkus kecil-kecil dan ditaruh di dalam boks makanan.

Belumpun ia kunyah, segera ia menyapu mulutnya. “Phuh…phuh…phuh!” Saya pura-pura tidak mendengar. Setelah prosesi makan itu selesai, saya pun terlelap.

Saya baru tahu teman itu benar-benar tak nyaman dengan makanan ketika kami disajikan sarapan pagi. Kala itu kami masih di ketinggian 8000 kaki dari bumi.

“Entah-entah apa dikasih makanan. Semalaman perut saya kurang enak,” kata sang teman sembari membolak-balikkan bungkusan keju. Kemudian dia membuka nasi. Nasi biryani dengan ikan yang dibalur saus yang tak saya tahu jenisnya. Sang teman kembali mengernyitkan dahi. “Aduh, entah gimana rasanya ni.”

Saya tertawa kecil. “Dimakan saja. Keju itu masukkan saja ke dalam roti,” kata saya. Ia memberikan keju itu kepada saya. “Lidah saya rasa kampung. Tak bisa makan beginian,” katanya. Kemudian dia hanya mengunyah roti tawar dan meneguk air mineral.

Saya tak lagi memperhatikan. Rasa bosan duduk di kursi menyergap saya. Terdengar pengumuman bila kami hampir tiba di king Abdul Aziz International airport. []

KOMENTAR FACEBOOK