Prospek KEK Pariwisata Singkil-Pulau Banyak

foto @reyginawisataindonesia.blogspot.com

Oleh: Bulman Satar dan Surkani, S.E.

Menteri Pariwisata Arief Yahya, pada saat Launching Calendar of Event (CoE) Aceh 2019 di Jakarta, Sabtu (23/3) lalu, menyarankan kepada Pemerintah Provinsi Aceh agar membentuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata. Sungguh saran ini hadir pada saat yang tepat, karena tentunya bukan tanpa dasar mengingat beberapa keunggulan sektor kepariwisataan Aceh, seperti statusnya sebagai salah satu world best halal destination, tingginya animo masyarakat menjadikan Aceh sebagai salah satu tujuan wisata favorit, trend meningkatnya kunjugan wisatawan domestik dan mancanegara dari tahun ke tahun,  keindahan alamnya yang tak kalah dibanding daerah-daerah destinasi wisata unggulan lainnya di Indonesia, plus satu faktor lagi yang sangat penting, kedekatan posisi Aceh dengan pasar – lebih dekat jika dibandingkan dengan destinasi-destinasi wisata unggulan lainnya di Indonesia. 

Saran dan dukungan Menteri Arief ini juga sangat relevan dengan program Aceh Hebat yang salah satu arah kebijakannya adalah menjadikan pariwisata sebagai sektor utama pendukung perekonomian Aceh. Turunan konkrit dari kebijakan pemerintahan Aceh ini adalah menetapkan kawasan wisata Singkil-Pulau Banyak sebagai salah satu prioritas utama pembangunan destinasi wisata di Aceh, disamping destinasi agrowisata Dataran Tinggi Gayo. Kita berharap komitemen kepala daerah ini dapat ditindaklanjuti secara progresif oleh Bappeda Aceh selaku perencana pembangunan daerah, dan SKPA-SKPA teknis terkait dengan segera mengkonsolidasi langkah-langkah pembangunan dan pengembangan pariwisata Pulau Banyak hingga bisa menjadi destinasi wisata berskala internasional berikutnya di Aceh setelah Sabang.

Kembali ke konteks saran dan dukungan Menteri Pariwisata di atas, maka rencana KEK Pariwisata ini sangat klop dan sinambung dengan komitmen Pemerintah Aceh mengembangkan destinasi wisata Singkil-Pulau Banyak. Jika dimasukkan dalam skema KEK, maka peluang pengembangan kepariwisataan Singkil-Pulau Banyak akan lebih besar karena sebagaimana disebutkan menteri Arief, Aceh akan mendapatkan kemudahan-kemudahan seperti terkait perizinan bagi investor, dan pembangunan infrastruktur dan pengadaaan fasilitas yang akan didukung penuh oleh pemerintah pusat.

Setidaknya ada tujuh alasan mengapa Singkil-Pulau Banyak sangat tepat dijadikan KEK Pariwisata di Aceh. Pertama, jelas karena arah kebijakan Pemerintah Aceh yang telah menetapkan pengembangan Singkil-Pulau Banyak sebagai destinasi wisata prioritas utama di Aceh. Kedua, pertimbangan representasi wilayah. Sebagaimana kita ketahui dari aspek kewilayahaan, Aceh sudah memiliki Kawasan Pelabuhan Bebas Sabang mewakili wilayah ujung Barat Aceh, ada KEK Arun mewakili pantai Utara-Timur, lalu Kawasan Strategis dan Khusus Dataran Tinggi Gayo Alas (KSK-DTGA) mewakili Poros Tengah, dan terakhir rencana KEK Barsela mewakili wilayah Pantai Barat Selatan. KEK Pariwisata Singkil-Pulau Banyak dapat kita tambah satu lagi untuk mewakili kawasan ujung Selatan Aceh.

Ketiga, sejalan dengan arah kebijakan Pemerintah Aceh dalam mengurangi disparitas antar wilayah, maka menjadikan Singkil-Pulau Banyak sebagai KEK Pariwisata adalah pilihan yang paling mewakili semangat “pembangunan berkeadilan” di Aceh. Keempat, selaras dengan pertimbangan ketiga, kabupaten Aceh Singkil juga adalah satu-satunya daerah yang masuk dalam status atau kategori daerah tertinggal di Aceh. Dengan hadirnya KEK Pariwisata di bumi Abdurrauf As-Singkili ini, maka proyek ini kita harapkan bisa menjadi stimulan mengangkat perekonomian Aceh Singkil hingga terbebas dari status daerah tertinggal.

Kelima, KEK Pariwisata Singkil-Pulau Banyak akan terkoneksi dalam sebuah hubungan “saling mendukung dan memperkuat’ dengan KEK Barsela hingga keduanya akan sinergis menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di pesisir Barat-Selatan Aceh. Keenam, proyeksi KEK Singkil-Pulau Banyak sangat strategis dikembangkan dalam skema konektifiitas, sinambung dengan destinasi-destinasi wisata di Sumatera Utara. Tersiar kabar Pemprov Sumatera Utara sedang-gencar-gencarnya meloby Pemerintah Pusat untuk membangun ruas tol Medan-Berastagi. Kenapa tidak rencana tol Medan-Berastagi ini, dengan sedikti tambahan koneksi ke Danau Toba, dapat dilanjutkan ruasnya hingga ke Kabanjahe, Sidikalang, sampai ke Singkil, hingga dapat menghubungkan destinasi-destinasi wisata unggulan dari kedua daerah, yaitu wisata danau (Danau Toba), wisata agro (Tanah Karo), dan wisata bahari (Singkil-Pulau Banyak). Untuk tujuan ini Pemerintah Aceh dapat mengajak dan meyakinkan Pemprov Sumatera Utara untuk mengajukan proposal bersama tol Medan-Berastagi-Kabanjahe-Sidikalang-Singkil, dengan berpijak pada prinsip mutal assistance and benefit, (baca link : http://aceh.tribunnews.com/2018/12/18/prospek-tol-barat-selatan-aceh).

Ilustrasi ruas tol Medan-Berastagi-Kabanjahe-Sidikalang-Singkil

Pemerintah Pusat sangat berkepentingan mempertimbangkan skema konektivitas ini, karena jika ini terwujud maka sangat besar peluang ketiga kawasan destinasi wisata unggulan ini, dengan kekuatan konektifitasnya, menjadi “Bali kedua” di Indonesia bagian Barat. Nilai ekonominya jelas akan menjadi sangat penting bagi Pemerintah Pusat, konon lagi jika mau ditempatkan dalam konteks kepentingan Indonesia dalam paradigma geoekonomi Samudera Hindia. baca link https://www.acehtrend.com/2019/03/24/aceh-menuju-magnet-ekonomi-dunia/).

Peta IORA (Indian Ocean Rim Assosiation), organisasi kerjasama negara-negara yang berbatasan dengan Samudera Hindia. Dengan posisi strategisnya di tengah kawasan, Aceh sangat berpeluang besar untuk mengembangkan sektor kepariwisataannya.

Bahkan dalam paradigma ini, dalam skup yang lebih luas Pemerintah Pusat juga sangat potensial mengembangkan sebuah kawasan wisata yang terintegrasi dan terkoneksi antar pulau-pulau di perairan Barat-Selatan Sumatera, mulai dari Mentawai, Nias, Pulau Banyak, hingga Simeulue untuk menjadi satu paket kawasan wisata bahari unggulan di wilayah Barat Indonesia,  mengimbagi kawasan wisata bagian Tengah dan Timur Indonesia yang telah masuk dalam daftar “10 Bali baru”. Jika pemerintah komit dan serius, tidak setengah-tengah mengintervensi, Insya Allah ini akan terwujud.

Lalu ketujuh, sebagai modal dasar, Pulau Banyak memiliki potensi wisata bahari yang luar biasa indah, mempesona, asri tanpa polusi. Plus trend kunjungan wisatawan yang terus meningkat dari tahun ke tahun, gugusan Pulau Banyak dengan keindahan dan kebersihan laut dan pantainya adalah destinasi wisata yang memiliki beragam keunggulan karena menyediakan banyak spot untuk diving, snorkeling, surving, kayaking, dan hicking. Semuanya hadir dalam satu paket eksotisme wisata Pulau Banyak, memanjakan mata dan rasa para wisatawan dengan keindahan baharinya. Bertabur daya tarik ini, tak heran ada yang mensejajarkan keindahan Pulau Banyak dengan Maldive yang telah dikenal luas dikalangan turis mancanegara sebagai destinasi wisata bahari terindah di dunia. Ditambah khasanah budaya masyarakat kepulauan yang setiap tahun dikemas dalam atraksi budaya Festival Pulau Banyak, dan kuliner khas kepiting dan lobster membuat destinasi wisata Singkil-Pulau Banyak semakin menggoda untuk dikunjungi dan dinikmati.

Dengan pertimbangan-pertimbangan dan faktor-faktor pendukung tersebut di atas, maka proyeksi pengembangan KEK Pariwisata Singkil-Pulau Banyak adalah pilihan yang sangat tepat dan layak untuk dipertimbangkan, konon lagi dari sisi perencanaan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) aceh, pun telah menyusun Masterplan Kawasan Strategis Pariwisata Kawasan Singkil Pulau Banyak. Jadi sudah sangat beralasan proyeksi KEK Pariwasata Singkil-Pulau Banyak ini dapat segera dieksekusi.

Kredit foto : Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Aceh

Berikut beberapa foto spot dan atraksi wisata di Singkil-Pulau Banyak yang menyajikan sensasi dan pesona eksotisme keindahan bahari Samudera Hindia kepada wisatawan, baik domestik maupun manca negara.

Lae Tarup, eksosistem rawa mangrove, “amazon”nya Aceh Singkil. Dengan ragam flora dan fauna langka di dalamnya, kondisi ekosistem rawa ini masih sangat alami dan terpelihara dengan baik. Spot wisata konservasi ini sering dikunjungi oleh turis manca negara.
Pulau Tailana. Pulau eksotis di Kepulauan Banyak yang paling diminati wisatawan baik lokal maupun asing. Dijuluki “surga tersembunyi” oleh turis-turis asing

Pulau Palambak. Pulau ini adalah spot terbaik untuk kayaking dan snorkeling.
Pondok wisata di Pulau Palambak, di pinggir pantai dengan pasir putihnya yang bersih
Rayuan Pulau Kelapa. Keindahan pantai Pulau Asok dengan pesona lautnya berwarna biru toska dengan jejeran pohon kelapa di sepanjang pantainya menyajikan keindahan bahari yang sangat menggoda.
Diving di Tailana. Pulau Tailana adalah spot terbaik merasakan sensasi keindahan bawah laut Kepulauan Banyak. Keindahan terumbu karangnya memanjakan para turis penikmat keindahan bawah laut.
Seorang turis asing sedang berselancar di spot selancar Ujong Lolok Point di Pulau Banyak. Spot selancar ini berkelas dunia, sangat diminati dan menjadi spot favorit turis mancanegara.
Keindahan pantai Pulau Sikandang salah satu pulau di gugusan Pulau Banyak. Pulau ini sangat cocok untuk berjemur, berenang, eksplorasi, dan camping.
Snorkeling di Pulau Tailana. Air lautnya jenih, bening, bersih tanpa polusi, pandangan mata kita bisa menembus indahnya pemandangan hingga kedasar laut yang penuh dengan terumbu karang. Keberadaan terumbu karang dengan kondisi yang sangat baik ini mengindikasikan keasrian dan kesehatan ekosistem laut di gugusan Pulau Banyak.
Pulau Banyak juga menyimpan khasanah budaya nan eksotis. Ragam khasanah budaya masyarakat Pulau Banyak ini setiap tahun dirayakan dalam Festival Pulau Banyak, semakin melengkapi daya tarik pesona bahari kepulauan ini.

Catatan :             

Semua foto wisata dan keterangan bersumber dari buku Aceh Singkil Tourism Profile, Profil Pariwisata Aceh Singkil, Disparpora Aceh Singkil, Tahun 2017.

Foto-foto di atas berbicara banyak, lebih dari cukup untuk menggambarkan pesona keindahan wisata Singkil-Pulau Banyak. Nah dengan modalitas besar ini, maka tentu pertanyaannya kemudian adalah dari mana dan bagaimana kita harus memulai membangun dan mengembangkan pariwisata Singkil-Pulau Banyak?

Berikut beberapa tawaran langkah dan strateginya.

Prasarana dan Sarana

Langkah pertama yang paling mendasar adalah pembangunan infastruktur. Dari sisi pembangunan infrastruktur, maka ada empat aspek dasar yang perlu diperhatikan dalam intervensi pembangunan kawasan atau wilayah kepulauan, yaitu : trasnportasi, telekomonikasi, energi listrik, dan air bersih. Inilah tantangan sekaligus kebutuhan tipikal pembangunan sebuah kawasan kepulauan, tak terkecuali kawasan Pulau Banyak. Inilah aspek-aspek yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah.

Sekarang mari kita lihat kondisi eksistingnya. Dari sisi transportasi, saat ini sudah ada armada trasportasi laut baik boat mesin maupun speed boat yang melayani penyeberangan dari Singkil ke gugusan Pulau Banyak, baik itu milik masyarakat maupun yang dikelola oleh Pemerintah Aceh Singkil. Namun tentu dalam proyeksi pengembangan pariwisata Pulau Banyak ke depan, trasnportasi di kepulauan ini sudah harus ditingkatkan baik dari sisi intensitas maupun kualitasnya, seiring meningkatnya trend kunjungan wisatatawan baik domestik maupun mancanegara dari tahun ke tahun ke Pulau Banyak. Karena itu, Pemerintah Aceh dan Kabupaten Aceh Singkil perlu menambah atau memastikan armada tranporstasi, idealnya speed boat dan kapal cepat, sampai pada tingkat dan jumlah yang cukup dan memadai dalam rangka menunjang dan memajukan aktifitas kepariwisataan di gugusan Pulau Banyak.

Sejalan dengan peningkatan fasilitas armada trasportasi, maka perlu juga direhab atau dibangun dermaga yang representatif di pulau-pulau yang menjadi spot utama kunjungan wisatawan, seperti Pulau Panjang, Tailana, Asok, Bangkaru, Palambak, Ujung Lolok, Sikandang, Lambodong, Tambarat. Kemudian poolkan beberapoa speed boat di pulau-pulau tersebut untuk mendukung transportasi dan mobilisasi antar pulau para wisatawan.

Sementara itu untuk transportasi udara, akan sangat menarik jika Pemerintah Aceh dan Pemkab Aceh Singkil bisa menjalin kerjasama dengan pihak swasta mengembangkan paket wisata ekslusif dengan penerbangan pesawat amfibi ringan yang bisa mendarat di air. Jadi tidak perlu dibangun bandara khusus di Pulau Banyak. Pesawat yang membawa wisatawan bisa mendarat di bibir pantai dekat pondok-pondok wisata yang disisi lain kita harapakan dapat terus dibangun dan dikelola dengan baik oleh masyarakat setempat. Alangkah bagus jika BUMG-BUMG di Pulau Banyak dalam hal ini bisa mengambil peran mengelola pondok-pondok wisata untuk para wisatawan ini sehingga dampak kamajuan kepariwisataan di kepuluan ini bisa memberi dampak positif langsung kepada masyarakat setempat.

Kemudian terkait telekomunikasi, rencana pembangunan jaringan telekomunikasi adalah sebuah langkah tepat dan menjadi prasyarat utama bagi keberhasilan dan kemajuan kepariwisataan di Pulau Banyak. Pembangunan tower-tower telekomunikasi di Pulau Banyak dirasa sudah sangat mendesak dalam mendukung program kepariwisataan di gugusan pulau ini.

Sementara untuk energi kelistrikan, untuk pulau-pulau yang belum mendapatkan pasokan energi listrik, sebagai alternatif maka dapat dipertimbangkan pengembangan listrik tenaga surya (solar cell) dengan cost yang lebih murah, sehingga dapat merata memenuhi kebutuhan listrik di pulau-pulau yang menjadi destinasi wisata. Tak kalah penting juga adalah membangun instalasi air bersih untuk memastikan ketersedian air bersih sebagai kebutuhabn paling dasar tidak menjadi masalah yang jutru menghambat kemajuan kepariwisataan di Pulau Banyak.

Peningkatan Status

Ada tiga cluster status destinasi dalam Rencana Induk Pariwisata Nasional (Riparnas) mulai  dari Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional (KPPN-220 destinasi),  Kawasan Strategis Pariwisata Nasional( KSPN-8 destinasi),  hingga yang tertinggi status Kawasan Pariwisata Nasional Sangat Prioritas (KPN+2 – 10 kawasan).  

Untuk mendapatkan perhatian dan  intervensi yang lebih besar, maka status wisata Singkil-Pulau Banyak otomatis perlu dinaikkan. Saat ini kawasan wisata Singkil-Pulau masih berada dalam cluster KPPN padahal jika dilihat potensi dan keindahannya tidak kalah dengan destinasi-destinasi wisata lainnya di Indonesia yang masuk dalam cluster KSPN dan KPN+2.

Bappeda dan Dinas Pariwiata Aceh dan Aceh Singkil perlu bersinergi dan pro aktif menaikkan status wisata Singkil-Pulau Banyak, bahkan kalau bisa masuk dalam cluster KPN+2 (Kawasan Pariwisata Nasional Sangan Prioritas), sejajar dengaan 10 kawasan pariwisata lainnya yang telah duluan masuk, yaitu Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Borobudur, Bromo Tengger Semeru, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi dan Morotai; dalam rangka mendapatkan intervensi serta dukungan program dan anggaran yang lebih intesif dan besar dari pemerintah pusat.

Beberapa syarat peningkatan status kawasan seperti jumlah kunjungan wisatawan setiap tahun, aksesibilitas, amenitas (sarana dan prasarana : listrik, jaringan telekomunikasi dan internet, dll), atraksi, (apa yang bisa dilakukan oleh wisatawan di lokasi destinasi wisata : diving, snorkeling, surving hicking, event budaya, dll), komitmen pemerintah, dan masyarakat sadar wisata, semuanya sudah harus dipikirkan.

Beberapa destinasi wisata di Indonesia yang diproyeksikan menjadi “Bali Baru”. Destinasi wisata di Aceh belum ada yang masuk dalam daftar ini.

Paralel dengan upaya peningkatan status ini, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil juga harus mengantisipasi potensi “ancaman” klaim tapal batas dan wilayah oleh provinsi tentangga. Untuk itu semua pulau di gugusan pulau Banyak perlu diberi proteksi hukum dengan membangun papan nama permanen dengan informasi nama dan status hukum pulau-pulau tersebut. Langkah ini sangat penting agar pulau-pulau tersebut tidak lagi diklaim sebagai wilayah provinsi tetangga.

Investasi dan promosi

Mengambil contoh keberhasilan kepariwisataan di Nias Selatan, Pemerintah Aceh dan Kabupaten Aceh Singkil perlu mengajak dan merangkul pihak maskapai atau perusahaan travel untuk membuka flight ke Pulau Banyak dan berinvestasi mengembangkan paket wisata ekslusif dengan armada pesawat amphibi yang bisa lepas landas dan mendarat di air. Jadi tidak perlu bersusah payah membangun bandara di Pulau Banyak, karena memang itu bukan solusi yang smart. Cukup kembangkan penerbangan pesawat amfibi yang berukuran kecil sejenis Cessna. Turis mendarat di bibir pantai langsung bisa masuk ke cottage atau pondok-pondok wisata yang dibangun di pinggir-pinggir pantai.

Kemudian rancang juga skema promosi pariwisata Singkil-Pulau Banyak secara lebih masif baik di level nasional maupun internasional, serta loby-loby ke Pemerintah Pusat agar memberi perhatian yang lebih besar dan serius terhadap pembangunan dan pengembangan pariwisata Singkil-Pulau Banyak.

Kemitraan dan Pendekatan Kerja

Perkuat komunikasi dan koordinasi antar para pihak (stakeholder), baik antar pemerintah kabuapaten-provinsi-pusat, maupun antara pemerintah dengan swasta dan masyarakat penerima manfaat. Karena pengembangan wisata Singkil-Pulau Banyak telah menjadi program strategis pemerintah provinsi, maka idealnya Pemerintah Aceh bisa menjadi fasilitator sekaligus akselerator untuk mengkosolidasi dan merumuskan skema integrasi kerja, siapa melakukan apa antar para pelaku agar program pembangunan dan pengembangan pariwisata Singkil-Pulau Banyak bisa berlangsung sinergis dan komplementer (saling mengisi dan melengkapi).

Sementara itu di tingkat akar rumput perlu perkuat modalitas sosial dalam bentuk sosialisasi dan penyuluhan sadar wisata dan sapta pesona pariwisata di tingkat masyarakat. Perkuat dan kembangkan juga UKM dan BUMG Pariwisata melalui pengembangan usaha-usaha pariwisata produktif seperti homestay, pondok wisata, rental alat transportasi, equipment, usaha kuliner, kerajinan, dsb. Keberadaan dan dukungan dana desa yang dikelola oleh perangkat kampug-kampung di Pulau Banyak dapat diarahkan untuk pengembangan kepariwisataan di daerah kepulauan ini, sehingga sinkron dengan upaya-upaya intervensi yang lebih makro oleh Pemerintah.[]

*Praktisi Pembangunan dan Kabid Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Disparpora Aceh Singkil

KOMENTAR FACEBOOK