Remaja yang Kurang Mandiri Cenderung Cemas Saat Kuliah

ilustrasi @dok Humas Unsyiah

Setiap orang tua tentu ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Bahkan saat anaknya ingin masuk perguruan tinggi sekalipun, orang tua terkadang masih ikut campur.

Mereka memilihkan jurusan untuk anak-anaknya yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan anak. Orang tua juga kadang memilihkan kegiatan di luar sekolah untuk anaknya, tanpa memerhatikan minat buah hatinya.

Upaya-upaya untuk mengendalikan dan meningkatkan kehidupan anak ini, bagaimanapun, pada akhirnya dapat menjadi kerugian bagi anak tersebut. Dalam sebuah studi baru, remaja yang merasakan kurangnya kemandirian dan otonomi dalam kehidupan mereka, saat memasuki perguruan tinggi lebih cenderung khawatir tentang keseluruhan pandangan perguruan tinggi.

Studi yang dilakukan di University of Mississippi di Journal of Social Psychology, menunjukkan bahwa memberdayakan anak-anak untuk mengekspresikan siapa mereka dan merasa berhasil berkat upaya mereka sendiri dapat mengurangi tekanan untuk memulai kuliah.

“Setiap kali pergi ke lingkungan baru, pasti ada hal-hal yang membuat kita merasa tertekan,” jelas psikiater yang bekerja dengan mahasiswa di Universitas Negeri Ohio, Dr. Meera Menon, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, kepada ABC News.

Kecemasan dan depresi adalah hal yang umum di kalangan mahasiswa. Sekitar 41 persen siswa mengalami kecemasan dan 36 persen mengalami depresi, menurut data survei dari Asosiasi untuk Direktur Pusat Konseling Universitas dan Perguruan Tinggi.

Menon mengatakan jumlah mahasiswa yang dirawat karena kecemasan dan depresi juga meningkat dari waktu ke waktu. Namun, sulit untuk mengatakan apakah itu karena kondisinya menjadi lebih lazim atau karena kampanye kesadaran publik mengakibatkan lebih banyak siswa mencari perawatan.

Untuk penelitian ini, 355 siswa yang memasuki tahun pertama mereka di perguruan tinggi menjawab survei selama pekan orientasi di kampus yang sama. Respondedn diminta untuk melaporkan seberapa benar tiga pernyataan tentang diri mereka.

Pernyataan tentang “Saya merasa bebas menjadi diri saya sendiri” ditujukan untuk mengukur otonomi dan perasaan kebebasan. “Saya merasa sangat mampu dan efektif” guna mengukur kompetensi. Terakhir, “Saya merasakan banyak kedekatan dan keintiman” untuk mengukur keterkaitan.

Para siswa kemudian memberi peringkat seberapa khawatir mereka akan memulai kuliah dan perasaan bersalah mereka atas prestasi mereka. Para peneliti menemukan bahwa hanya siswa yang melaporkan merasakan otonomi yang lebih besar kemungkinan memiliki lebih sedikit kekhawatiran tentang memulai kuliah.

Peringkat yang lebih tinggi pada skala otonomi dan kompetensi keduanya dikaitkan dengan rasa bersalah yang kurang tentang tingkat prestasi siswa. Menjadi orang pertama dalam keluarga yang mendaftar di perguruan tinggi tidak mengubah hasil ini.

“Ini adalah masa yang sulit bagi mahasiswa,” kata Menon.

“Tidak hanya mereka mencari pendidikan, tetapi mereka belajar untuk hidup sendiri, yang bisa membuat stres.”[]

Sumber : Republika

KOMENTAR FACEBOOK