Berburu Ampun di Raudhah Nabawi

Alhamdulillah, sekitar pukul 14.30 waktu Arab Saudi, Senin (1/4/2019) kami tiba di Kota Suci Madinah. Rombongan segera diarahkan ke restauran hotel Concorde, yang terletak di dekat pintu 15 Masjid Nabawi. Saya dan beberapa orang lainnya mendapatkan kamar di lantai 12. Dari hotel di Mesjid Nabawi hanya sepelemparan batu saja. Sangat dekat.

Usai santap siang, kami segera menyiapkan diri di kamar. Tidak lama lagi masuk waktu Ashar. Usai mandi, kumandang azan terdengar dari menara mesjid. Semua orang terlihat buru-buru menuju mesjid. Di Mesjid Nabawi, manusia seperti semut di karung gula. Sangat banyak dari ragam bangsa, ragam bahasa, tapi satu agama. Madinah, laiknya Kota Mekkah, terlarang bagi non muslim, siapapun itu tidak ada kecuali.

Usai shalat Ashar, saya kembali ke hotel. Sejenak menghilangkan lelah. Saat shalat agak terasa badan hoyong. Mungkin terkena jet lag, tapi hanya itu. Tidak ada kelelahan yang berarti.

Di Mesjid Nabawi, sandal jamaah boleh dibawa masuk ke dalam. Bahkan di tiap shaft ada tempat menaruh sandal. Tapi bagi musafir, apalagi musafir yang telat masuk mesjid, sebaiknya membawa serta sandal. Karena kalau ditaruh di tempat sandal, akan agak kesulitan ketika mencarinya. Maklum, mesjidnya besar.

Jangan kaget, ragam gaya orang shalat di sini. Menurut mazhab yang mereka ikuti. Yang pasti tak ada bacaan qunut kala subuh. Itu kalau mengikuti imam mesjid. Kalau dirikan shalat jamaah sendiri, silahkan. Tapi tentu setelah shalat jamaah selesai diselenggarakan oleh imam mesjid.

Kota ini jarang ada sepeda motor. Sepanjang jeddah-Madinah, saya tak melihat pemotor melintas di jalan. Bahkan di kota pun tidak terlihat pemotor. Menurut keterangan pemandu kami, yang digunakan warga adalah motor gede. Maklum, kesejahteraan warga Madinah sudah sangat bagus. Walau tandus, kota ini dianugerahi minyak dan tentu saja situs sejarah Islam seperti Mesjid Nabawi yang memiliki keunggulan tersendiri. Mesjid Quba, Mesjid Qiblatain, Gunung Uhud, makam Baqi, dan beberapa lainnya. Jutaan pelancong religi tiap hari tumpah ruah ke sini. Uang tak henti-hentinya mengalir ke kota ini.

Tiap Senin dan Kamis, selalu ada yang menyediakan buka puasa gratis di dalam mesjid. Bahkan di luar pagar mesjid, saya diberikan roti plus yogurt oleh seorang lelaki yang katanya melakukan sedekah makanan.

***

Gedung-gedung tinggi menjulang, mengelilingi mesjid yang sedang diperluas oleh Pemerintah Saudi. Di lantai satu, toko-toko souvenir berjejeran. Pedagang emas, pedagang parfum hingga pedagang obat kuat. Di sini hajar jahannam sangat mudah didapatkan. Harganya hanya 35 riyal, termasuk murah untuk kelas obat perkasa yang sulit didapat di Indonesia.

Pedagangnya banyak yang bisa bahasa Indonesia. Mereka begitu melihat wajah Indonesia segera menyapa dengan bahasa kita. Ada yang fasih, ada pula yang tilo alang.

Di sebuah toko souvenir, seorang pramuniaga menyapa kami sembari menanyakan kabar Jokowi. “Bagaimana Jokowi?” Tanyanya. Saya tertawa dan menjawab “Baik-baik saja.”

Toko emas berjejer di sepanjang koridor. Para turis religi silih berganti masuk dari toko ke toko. Madinah adalah kitq dagang, saya lihat selain kurma, selebihnya mereka menjula barang-barang dari ragam negara lain seperti Cina, Taiwan, Turki, Jerman, bahkan Indonesia. Mie instan adalah salah satunya. “Lapar? Makan saja mie g***s,” kata seorang pedagang di lobby hotel.

***
Usai shalat Isya, para peziarah secara berombongan masuk ke Raudhah yang sekarang berada di dalam mesjid. Di dekat makam Rasulullah, antara mimbar dan bekas rumah Baginda Nabi Muhammad. Raudhah adalah salah satu tempat di humi yang doanya lebih cepat diterima oleh Allah. Di sana, tiap orang akan melaksanakan shalat taubah sebanyak dua rakaat, dan dilanjutkan dengan memanjatkan doa. Waktu untuk semua hajat itu lebih kurang 30 menit. Untuk perempuan waktu ziarah ke Raudhah adalah setelah shalat subuh hingga jelang Dhuhur.

Masuk ke Raudhah memiliki keseruan tersendiri. Kita harus masuk kelompok yang dibagi melalui sekat-sekat. Terkadang dorong-mendorong kecil terjadi juga, saling berebut duluan tiba, dan sebagainya. Maklum, semua ingin shalat sunat taubah di sana, sekaligus memohon ampun atas segala dosa.

Satu jam lebih saya harus berdesak-desakan. Pinggang terasa sakit. Tapi tak ada pilihan lain. Semuanya harus patuh aturan. Petugasnya, walau tetap tersenyum tapi sangat tegas. Berkali-kali saya harus menarik nafas panjang, untuk meringankan nyeri di pinggang.

Usai shalat dan berdoa, selanjutnya diarahkan ke makam Rasulullah. Kita hanya bisa melihat makam dari jarak beberapa meter. Itupun dibuat pagar antara dinding dengan peziarah. Di sana semua orang bershalawat untuk Rasulullah. Banyak yang menangis terisak-isak. Di sini, ikatan emosional antara kita dan Rasulullah, seakan tak berbatas.

Usai ziarah makam, kita akan diarahkan ke pintu keluar. Ingat, hati-hati ketika melangkah mengelilingi mesjid. Karena ada kawasan yang terlarang bagi laki-laki. Di sana, di sekitar pintu gerbang 30-an ada wilayah yang hanya untuk perempuan. Laki-laki tidak boleh masuk ke sana. Kalau masuk akan diteriaki: Haji, haji! Haram!

KOMENTAR FACEBOOK