Romantisme Tanoh Gayo, Berlabuh Rindu di Lut Tawar

Laut Tawar @aceHTrend/Taufik Ar-Rifai

Sinar mentari pagi menyapa penuh kehangatan di dataran tinggi Aceh. Embun pagi terlihat masih menetes dari dedaunan pohon. Kicauan burung terdengar saling sahut-menyahut di balik rerimbunan pohon.

Aku bersama dua rekan langsung beranjak dari tempat tidur usai menempuh perjalanan dari Banda Aceh. Perjalanan kami di penghujung Maret kali ini bukan hanya menemani Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Usamah El Madny, tetapi juga ikut bersama Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah. Bersama rombongan itu, turut serta 18 kepala SKPA yang ikut menjelajahi dan sekaligus melihat kondisi masyarakat di wilayah poros tengah Aceh tersebut.

Fortuner yang kami tumpangi terus menerobos kedinginan menyusuri perbukitan berselimut kabut tebal. Selama perjalanan, kaca mobil sengaja kami biarkan terbuka sehingga bisa merasakan langsung kesejukan angin yang bertiup dari celah-celah bukit serta wanginya aroma bunga kopi.

Terbentang di wilayah tengah Aceh, dataran tinggi Gayo menyuguhkan pesona alam yang asri nan sejuk. Secara administratif, dataran tinggi Gayo meliputi tiga kabupaten, yaitu Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Ketiga kabupaten ini dahulunya merupakan satu wilayah yang kini telah dipisahkan dan memiliki otoritas masing-masing.

Sepanjang mata memandang, daerah yang memiliki kesamaan tradisi, kultur, dan bahasa ini dipagari pegunungan dan lembah-lembah perbukitan hijau. Dari arah timur, Danau Lut Tawar terlihat membentang ibarat telaga biru raksasa tatkala disinari cahaya mentari.

Begitu halnya dengan hamparan perbukitan sepanjang lintasan Bener Meriah dan Gayo Lues. Hamparan perbukitan dipenuhi pepohonan hijau kian menawarkan suasana keindahan yang serba menakjubkan.

Sekira dua jam perjalanan melintasi jalur perbukitan, rombongan kami tiba di Kemukiman Jamat, Desa Reje Payung, Kecamatan Linge, Aceh Tengah.

Desa terisolir yang terletak di antara perbukitan dan lembah dataran tinggi Gayo. Di sini, jangankan berharap ada sinyal telepon seluler, jalan sebagai sarana utama transportasi publik saja masih sangat memprihatinkan.

“74 tahun Indonesia merdeka, tapi warga Jamat masih terkucil,” gumamku dalam hati.

Keindahan panorama di Gayo Lues @aceHTrend/Taufik Ar-Rifai

Usai menggelar amal bakti sosial dengan warga setempat, kami kembali melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Gayo Lues. Di sana, Plt Gubernur Nova Iriansyah memiliki agenda padat, di antaranya peletakan batu pertama pembangunan Masjid Jamik Kuta Pajang dan meninjau pelaksanaan UNBK di SMU 1 Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues.

Selama perjalanan, kedua bola mata kami seakan tak berkedip memandangi hutan yang berada di daerah yang dijuluki Negeri Seribu Bukit ini. Meski tanjakan dan kelokan tajam di sejumlah titik, namun rasa lelah kian terobati ketika berada di Kawasan Ekosistem Leuser.

“Subhanallah, pemandangan kiri kanan seperti di Eropa,” ujar Kadis Pendidikan Dayah Aceh, Usamah El Madny kepadaku, Minggu (31/3/2019).

Di kawasan hutan yang  masih perawan ini menyimpan sejuta pesona flora dan fauna yang dilindungi. Sepanjang lintasan,  sejumlah air terjun berskala besar dan kecil yang membelah bebatuan hingga pemandangan aneka serai wangi dan jagung terlihat di sepanjang sisi jalan.

Kini, kawasan yang mayoritas didiami suku Gayo ini sedang berbenah diri menuju pembangunan yang lebih baik. Hal ini dibuktikan dengan berkembang pesatnya pembangunan di sejumlah tempat. Begitu juga halnya dengan 14 jalur lintas tengah yang hampir seluruhnya rampung. Semuanya demi mengejar kemajuan dan menuju perubahan agar masyarakatnya lebih maju dan bermartabat.

Pesona Danau Laut Tawar @aceHTrend/Taufik Ar-Rifai

Bagi wisatawan yang hobi menjajal kawasan ini, khususnya yang hobi bertualang, disarankan agar jangan melewatkan momen ini dengan mendaki Gunung Leuser di Desa Penosan, Kecamatan Blang Jerango. Selain itu, Anda juga bisa menikmati pemandian air panas di Kecamatan Puteri Betung, air terjun Blang Pengayon, air terjun Terangon dan masih banyak tempat-tempat eksotis lainnya yang masih alami.

Keesokan harinya, Senin (1/4/2019), kami langsung bertolak kembali ke Takengon. Kesempatan kecil ini kami manfaatkan untuk melepaskan penat selama di perjalanan menaiki perbukitan.

Menapak rindu, merenguk pesona Danau Lut Tawar

Mahatari sudah rebah ke ufuk barat, kami pun tiba di kota dingin Takengon. Mobil yang kami tumpangi terus meliuk-meliuk turun mengitari bukit.

Kabut putih masih menempal di atas puncaknya, kota kecil yang berada di antara himpitan perbukitan punya kenangan indah. Siapa pun yang pernah melangkahkan kakinya tidak akan pernah melupakan akan keindahan kota dingin yang memiliki danau indah.

Di sinilah, kemilau cahaya sang mentari terlukis di atas danau. Awan-awan merendah, senoktah hitam gumpalan padat menjelma menjadi rintikan hujan.

Pesona Danau Laut Tawar @aceHTrend/Taufik Ar-Rifai

Tiba di sudut kiri danau, kami berhenti di sebuah masjid untuk mengucapkan sujud syukur kami kepada Sang Pencipta.

Saatnya rehat, melepas penat usai menempuh perjalan yang lumayan memualkan isi perut. Meski kesejukan terasa menusuk tulang, kucoba tetap tegar sambil menikmatinya dengan sabar. Ini semata-mata demi mencoba belajar sambil berinteraksi dengan si telaga biru raksasa milik warga Tanoh Gayo. Mengisyaratkan bisa menaklukkan hatinya, sehingga nantinya saya tidak lagi dianggap sebagai tamu dari bukit seberang.

Kini, letih terobati dengan kemolekan si telaga biru raksasa. Cuci matamu, lepaskan penat dengan kesegaran yang engkau raih. Ibarat kata “pulang malu, tak pulang rindu”.

“Suatu hari, aku pasti akan kembali kemari. Merebut hatimu dan menjelma menjadi nakhoda ulung mengarungi bahtera di atas pundakmu. Cinta dan hasrat rinduku berlabuh di Lut Tawar,” gumamku dalam hati.[]

KOMENTAR FACEBOOK