Sulaiman Tripa Terbitkan 44 Buku: Kado Ulang Tahun Ke-43

Sulaiman Tripa @aceHtrend/Ihan Nurdin

SULAIMAN Tripa telah berhasil membuat orang-orang –khususnya pegiat literasi–cemburu. Di balik sikapnya yang selalu tampak kalem dan bersahaja, ternyata jiwanya memendam bara perlawanan yang membara. Ya, perlawanan pada kebodohan. Bara itu kini telah terlihat rupanya. Dalam wujud 44 buku yang diluncurkan bertepatan dengan hari lahirnya yang ke-43 pada 2 April 2019.

Buku, bukankah selalu diidentikkan dengan “senjata” untuk melawan kebodohan? Ke-44 buku tersebut secara resmi akan diluncurkan oleh Rektor Universitas Syiah Kuala di Ruang Senat Unsyiah pada Selasa siang (2/4/2019). Dengan kenyataan itu, bukankah sepatutnya kita cemburu pada Sulaiman Tripa?

Sulaiman Tripa bukanlah pendatang baru di dunia “persilatan” literasi di Aceh. Namun, konsistensinya pada dunia tulis-menulislah yang membuat ia tetap eksis hingga detik ini. Ia juga dikenal sebagai penulis serbabisa karena mampu menulis dengan beragam jenis tulisan.

Sebagai seorang dosen di Fakultas Hukum Unsyiah, menulis buku dengan tema-tema yang berkaitan dengan disiplin ilmu hukum sudah menjadi makanan pokok baginya. Dari 44 buku yang diterbitkan hari ini, sebut saja beberapa judul seperti: Hukom Suloh; Peradilan Gampong; Rekonstruksi Gampong di Aceh; atau Hukum dan Masyarakat Kontemporer.

@aceHTrend/Ihan Nurdin

Ia juga piawai meracik isi kepalanya menjadi tulisan-tulisan bergizi dan padat dalam bentuk opini. Bila ingin menyelami isi kepalanya lebih banyak, buku berjudul Mbong, Kolom Analisis Harian Aceh bisa menjadi “rujukan” yang tepat. Atau, membaca tangkapan-tangkapan realita yang ia narasikan dalam buku berjudul Cuak. Buku ini berisi kumpulan opini Sulaiman Tripa yang terbit di Serambi Indonesia.

Sementara bagi yang penasaran pada imajinasinya, Sulaiman Tripa juga telah menyediakan ruang melalui karya-karya fiksi. Kehadiran Surat untuk Malam dan Sajak Cerita Cinta, dalam “khanduri buku” Sulaiman Tripa kali ini sudah cukup untuk menegaskan bahwa ia seorang penulis multigenre.

Laiknya seorang perempuan yang mengandung, ke-44 buku itu “lahir” tepat pada waktunya. “Penerbitan semua buku tersebut telah dipersiapkan sejak sembilan bulan lalu,” kata Direktur Bandar Publishing, Mukhlisuddin Ilyas, yang menjadi “mak bidan” lahirnya buku-buku tersebut saat temu pers di Cafe A & R Lamgugob, Banda Aceh, Senin siang (1/4/2019).

Sebenarnya, Sulaiman sendiri menyiapkan 43 buku untuk diterbitkan agar cocok dengan angka usianya saat ini, tetapi karena ada satu buku tambahan yang menjadi kewajiban dari kampus, jumlahnya genap menjadi 44 judul buku.

Sambil menikmati kopi dan camilan di Cafe A & R yang berada persis di sebelah Bandar Publishing, Sulaiman Tripa membagikan rahasia dapurnya dalam menulis. Sebagai seorang pengajar yang disibukkan dengan berbagai kegiatan akademik, ia selalu menyediakan waktu khusus untuk menulis.

“Saya rutin menulis 400 kata sehari,” ujar pria kelahiran Pante Raja, Pidie Jaya, 2 April 1976 itu.

Kebiasaan itu mulai ia lakukan sejak enam tahun lalu. Dan kini sudah memasuki hari ke 1.472. Hasil dari kebiasaan itu, setidaknya telah menghasilkan 11 kumpulan esai.

Sulaiman Tripa mulai menyukai dunia tulis-menulis sejak kelas tiga SMP, tetapi baru intens menulis sejak SMA melalui wadah majalah dinding atau mading. “Mading itu bisa dibilang khusus disediakan oleh sekolah untuk saya, karena cuma saya seorang yang menulis,” katanya.

Bakat menulisnya semakin terasah setelah ia menjadi mahasiswa dan rutin mengirimkan tulisan ke media massa. Saat menjadi mahasiswa, ia juga pernah bergiat di Warta Unsyiah.

“Waktu itu saya rutin mengirimkan tulisan ke Serambi Indonesia dengan tulisan tangan, tetapi tidak pernah dimuat,” ujarnya sambil tertawa. “kapan tulisan pertama saya dimuat di Serambi tidak terlacak,” ujarnya lagi.

@aceHTrend/Ihan Nurdin

Selain 44 buku yang diluncurkan hari ini, sejak tahun 2001 hingga sekarang, pengampu blog kupiluho.wordpress.com ini sebelumnya juga sudah menulis 33 buku, serta 37 buku secara keroyokan. Selain itu ia juga pernah menyunting 29 buku dan 4 buku pendampingan.

“Saya mendapatkan banyak pengalaman ketika mendampingi empat buku itu. Ada dua buku ditulis santri, satu buku anak sekolah menengah, dan satu lagi sekolah terpadu,” ujar pria berkacamata itu.

Direktur Bandar Publishing, Mukhlisuddin Ilyas, mengaku senang bisa menerbitkan karya-karya Sulaiman Tripa secara bersamaan. Di matanya, doktor alumnus Universitas Diponegoro Semarang itu unik.

“Ia bisa menulis banyak hal. Dulu saya biasanya membaca opini dan hari Minggu membaca artikel budaya. Makanya dari 44 ini selain ada buku hukum, ada juga buku puisi, cerpen, dan novelet,” katanya.

Dengan semangat Sulaiman, wajar bila ia mendapat apresiasi. Bahkan, salah seorang koleganya di kampus, Teuku Muttaqin Mansur, berharap agar ia segera menjadi profesor tanpa menunggu kelengkapan administrasi.

“Karya-karyanya yang konsisten melampaui Scopus yang dikejar banyak akademisi,” kata Teuku Muttaqin. Secara khusus ia memberi ucapan selamat kepada Sulaiman Tripa. “Semoga karya-karyanya dikenang dan dihargai,” ujarnya.[]

KOMENTAR FACEBOOK