Jabal Uhud, Hindun dan Luka Hati Rasulullah

Jabal Uhud adalah gunung batu di bumi, yang setelah kiamat akan dipindahkan oleh Allah ke dalam surga. Di gunung itu pamanda Rasullullah gugur di tangan kafir Quraisy. Hindun adalah nama yang paling diingat karena memakan jantung Hamzah, paman Nabi Muhammad.

Rabu (3/4/2019) saya bersama rombongan umrah ulama Aceh yang difasilitasi oleh Ketua Umum Partai NasDem, H. Surya Paloh, menuju Jabbal Uhud, yang berlokasi di utara Madinah dengan ketinggian sekitar 350 meter.

Uhud adalah gunung batu. Lazimnya gunung batu di Saudi Arabia, gunung bersejarah ini berwarna hitam. Di sana sebuah pertempuran antara pasukan Rasulullah melawan kafir Quraisy.

Pertempuran Uhud adalah pertempuran yang pecah antara kaum muslimin dan kaum kafir Quraisy pada tanggal 22 Maret 625 M (7 Syawal 3 H). Pertempuran ini terjadi kurang lebih setahun lebih seminggu setelah Pertempuran Badr. Tentara Islam berjumlah 700 orang sedangkan tentara kafir berjumlah 3.000 orang. Tentara Islam dipimpin langsung oleh Rasulullah sedangkan tentara kafir dipimpin oleh Abu Sufyan.

Walau sudah sempat memenangkan perang, pasukan Islam akhirnya kalah karena ketidaksabaran saat mengumpulkan ghanimah. Pasukan tidak mematuhi komando dari Rasulullah karena tergiur harta pampasan perang. Termasuk di antaranya sebagian besar pasukan pemanah yang ikut turun dari puncak gunung untuk berebut ghanimah. Melihat hal itu, pasukan Quraisy melakukan serangan mendadak setelah melumpuhkan sisa pemanah yang masih di atas bukit.

Sejumlah sahabat yang menjadi perisai Rasulullah ikut gugur. Baginda Nabi Muhammad ikut terluka.

Perang ini pun membuat luka memdalam di hati Rasulullah. Ketika terjadi perang Badar Al-Kubra, ayah Hindun, pamannya yang bernama Syaibah, dan juga saudaranya yang bernama Al-Walid terbunuh. Hal ini menyebabkan tumbuhnya rasa dendam yang membara di hati Hindun. Ketika di pasar Ukazh, Hindun menangis sehingga membuat Al-Khansa keheranan, “Apa yang membuatmu menangis wahai Hindun?” Hindun pun menjawab dengan melantunkan bait syair:

Aku menangis karena rasa sakitnya dua luka. Menjaga keduanya dari perusak yang akan membinasakannya. Aku menangis karena ayahku ‘Utbah yang telah berbuat baik. Duhai celakanya … Ketahuilah. Juga karena Syaibah yang telah menjaga yang patut untuk dibela. Mereka itulah keluarga yang mulia di atas rata-rata keluarga. Di saat kewibawaan mulai tumbuh berlipat ganda.

Ketika perang Uhud, Hindun bin Utbah memainkan peranan sebagai juru perang yang handal. Ia berangkat bersama kaum musyrikin Quraisy dan ketika itu pemimpin mereka adalah suaminya yakni Abu Sufyan. Hindun mengobarkan semangat perang kepada pasukan Quraisy bersama para wanita musyrikin lainnya sembari memukul rebana dan bersyair:

Kami adalah wanita-wanita jalanan. Yang berjalan membawa bantal yang empuk. Jika kalian maju kami peluk. Jika kalian lari akan kami cerai. Dia juga mengulang-ulang syair, Wahai Bani ‘Abdi Dar. Wahai para pejuang. Pukullah dengan segala senjata yang tajam.

Pada peristiwa itu nama Hindun tertulis dalam lembaran yang hitam kelam yang tak pernah dilupakan oleh sejarah. Catatan tersebut berupa perlakuannya terhadap Hamzah bin ‘Abdul Muththalib, bapak sekaligus penghulu para syuhada’.

Sebelum berangkat perang Uhud, Hindun memerintahkan budaknya yakni Al-Wahsyi bin Harb untuk membunuh Hamzah karena ingin membalaskan dendamnya atas kematian ayah dan pamannya. Jika budaknya berhasil, Hindun menjanjikan kemerdekaan baginya. Api permusuhan senantiasa berkobar di dadanya sehingga dia berkata kepada budaknya, “Wahai Abu Dasmah, obatilah aku! Sembuhkanlah luka hatiku!”

Tidaklah mengherankan ucapan tersebut keluar dari lisan seseorang yang menyimpan dendam kesumat. Akan tetapi hal yang tidak dapat diterima adalah perlakuannya yang tidak wajar terhadap mayat pahlawan yang syahid. Setelah Al-Wahsyi berhasil membunuh Hamzah, Hindun segera menghampirinya dan memotong hidung dan kedua telinganya. Kemudian dia merobek perut Hamzah dan mengambil jantungnya lalu mengunyahnya. Hanya saja dia tak kuasa untuk menelannya sehingga dia meludahnya kembali.

Lalu dia naik ke atas bukit dengan perasaan puas dan berteriak dengan suara yang lantang bahwa ia telah puas setelah mengunyah jantung Hamzah.

Perlakusn Hindun terhadap jenazah Hamzah di luar batas kemanusiaan, membuat luka di hati Baginda Rasulullah.

***
Hindun akhirnya masuk Islam kala Fathul Mekkah. Ia yang membuat Rasul terluka hatinya, akhirnya takluk di bawah panji Islam.

Hindun binti Uthbah bin Robi’ah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf al-Umawiyah al-Qurasyiyah. Ibunya bernama Shafiyyah binti Umayyah bin Haritsah bin al-Auqashi bin Murah bin Hilal bin Falih bin Dzikwan bin Tsa’labah bin Bahtah bin Salim.

”Ibuku adalah wanita yang sangat berbahaya di masa Jahiliyah dan di dalam Islam menjadi seorang wanita yang mulia dan baik,” ujar Mu’awiyah bin Abi Sofyan mengungkapkan sifat sang ibu. Setelah memeluk Islam, Hindun dikenal sebagai seorang wanita yang memiliki sifat luhur, fasih dalam berbicara, pemberani, kuat, dan berjiwa besar.

Ia juga dikenal sebagai seorang pemikir, penyair, dan seorang wanita yang bijak. ”Beliau adalah seorang wanita yang berjiwa besar dan memiliki kehormatan,” tutur Imam Ibnu Abdil Barr. Cahaya Islam mulai menyinarinya, ketika pasukan tentara Islam di bawah komando Rasulullah SAW berhasil menguasai Makkah dalam sebuah peristiwa bersejarah yakni Futuh Makkah.

Kemenangan itu diraih kaum Muslimin di bulan Ramadhan. Penduduk Makkah pun berbondong-bondong berbaiat kepada Rasulullah SAW. Setelah membaiat kaum laki-laki, Rasulullah SAW kemudian membaiat kaum wanita. Di antara wanita-wanita yang berbaiat kepadanya adalah Hindun.

Dalam riwayat Imam ath-Thabari disebutkan, Hindun datang memakai cadar untuk menutupi wajahnya, karena takut dikenali. Hindun masih merasa takut akibat tindakannya terhadap Hamzah di masa lalu. Di atas bukit Shafa, Nabi SAW berkata,”Aku meminta kalian berjanji untuk tidak menyekutukan apa pun dengan Allah (syirik).” Lalu Umar RA yang berada di bawah bukit menyampaikan perkataan Rasulullah itu kepada kaum wanita dan memastikan jawaban mereka.

Rasulullah melanjutkan, ”Dan tidak boleh mencuri.” Tiba-tiba Hindun berkata, ”Sesungguhnya Abu Sufyan sangat kikir. Bagaimana jika aku mengambil sebagian hartanya tanpa dia ketahui?” Abu Sufyan yang berada tidak jauh dari tempat tersebut menimpali, ”Semua yang engkau ambil telah kuhalalkan.”

Mendengar jawaban itu, Nabi SAW pun tersenyum, lalu berkata, ”Engkau pasti Hindun?” Wanita bercadar itu pun menjawab, ”Benar. Maafkanlah segala kesalahanku di masa lalu, wahai Nabi Allah. Semoga Allah mengampunimu.”

Rasulullah SAW melanjutkan, ”Dan tidak boleh berzina.” Hindun lalu menimpali, ”Apakah wanita merdeka suka berzina?” Nabi SAW berkata lagi, ”Dan tidak boleh membunuh anak-anak kalian.” Hindun berkata, ”Kami telah bersusah payah membesarkannya, tapi setelah besar, kalian membunuhnya. Kalian dan mereka lebih mengetahui tentang hal ini.”

***
Saya menapak kawasan Uhud yang kini telah berubah menjadi kawasan wisata. Banyak pedagang berjualan aneka produk di sana. Jutaan peziarah menapak tanah berbatu itu setiap harinya.

Di lokasi tempat pasukan pemanah Islam berdiri, telah banyak coretan nama-nama peziarah yang nakal. Nakal dalam artian “meninggalkan jejak” dengan mengabaikan kelestarian Uhud yang sangat bersejarah itu.

Di lokasi ini juga ada pemakaman syuhada Uhud, termasul Hamzah. Pemakaman itu dipagar tinggi dan di dekat dinding bagian luar dipasang besi pembatas. Selalu ada tukang cerita yang setiap usai ceritanya kita boleh membayar secara sukarela.

Sumber sirah: dikutip dari berbagai literatur online dan wawancara dengan penunjuk jalan.

KOMENTAR FACEBOOK