Air Mata Haru di Depan Baitullah

Tiba di Kota Mekkah Al Mukarramah, Rabu malam (3/4/2019) jarum jam baru menunjukkan pukul 21.30 WIB. Tanah Haram Mekkah terlihat sangat sibuk. Ribuan manusia terlihat lalu lalang di jalan menuju Masjidil Haram. kendaraan yang terdiri dari bus berbadan besar dan kendaraan minibus, van, juga hilir mudik di atas badan jalan yang tidak pernah sepi.

Rombongan jamaah umrah NasDem bersama ulama Aceh, turun dari bus dan segera menuju Hotel Majestic, yang berjarak sekitar 500 meter dari Masjidil Haram. Ahmad, yang didaulat sebagai pemandu rombongan oleh Amanah Fadhilah Insan (AFI) yang ditunjuk oleh Surya Paloh sebagai agen perjalanan kami, memberikan sejumlah penjelasan terkait agenda yang akan kami lakukan setelah makan malam.

Saat beranjak dari Madinah Al Munawwarah, lima jam sebelumnya, kami sudah membaca niat umrah di Bir Ali, tempat miqat bagi siapa saja yang ingin menunaikan umrah maupun ibadah haji, yang berjarak 11 km dari Mesjid Nabawi. Bir Ali, adalah perbatasan Tanah Haram Madinah. Lazim disebut sebagai Miqat Zamani oleh penduduk Madinah.

Di sinilah, bagi Jamah yang tiba dari Madinah, menunaikan niat umrah maupun niat haji. Lengkap dengan pakaian ihram. Dari sinilah, setelah menunaikam shalat tahiyatul mesjid dua rakaat, semua larangan ketika berihram, mulai diberlakukan.

Pukul 22.00 WIB Waktu Saudi Arabia (WSA), semua jamaah yang didampingi oleh pengurus teras DPW NasDem Propinsi Aceh yaitu Taf Haikal dan Rizal Fahlefi, berkumpul di lobby hotel. Ahmad dan seorang rekannya yang lain, kemudian membawa rombongan menuju Masjidil Haram, dengan berjalan kaki menapaki jalan yang menurun. Baitullah berada di lembah Mekkah, di ceruk antara gunung-gunung batu raksasa, yang kini telah disulap menjadi berbagai bangunan menjulang tinggi. Mayoritas dari bangunan itu adalah hotel. Hotel Zam-Zam Tower yang berdiri di dekat itu, terlihat sangat besar dengan menaranya yang memiliki jam besar dan bulan sabit yang menghadap langit.

Rombongan yang sudah wudhuk di hotel, ketika tiba di Masjidil Haram, segera melaksanakan shalat jamak takhir Magrib dan Isya secara berjamaah. Seorang anggota rombongan ditunjuk sebagai imam.
Usai shalat, kami pun dibawa ke lokasi tawaf.

Di sana, jutaan manusia silih berganti mengelilingi Ka’bah secara bergantian. Masing-masing manusia mengelilinginya (tawaf) sebanyak tujuh kali. Ada yang tawaf sendiri, banyak pula yang tawaf secara berombongan dan dipandu oleh pemandu masing-masing.

Usai tawaf, kami semua dibawa ke Hijr Ismail, untuk menuaikan shalat sunat dua rakaat dan berdoa di sana. Di Hijr Ismail, adalah tempat paling mustajab doa di sini. Maka wajar semua orang berebutan shalat sunat di sana dan kemudian tenggelam dalam doa masing-masing. Memanjatkan keampunan dan permintaan apa saja kepada Allah.

Tiba di sini, semua orang terlihat semakin individualis. Tak peduli lagi kepada orang lain. Suasana religius samgat terasa di sini. Di sini saya sempat melihat rekan seperjalanan saya yaitu Suparta (Ucok Parta) dari media Acehkini.id, mitra Kumparan, berlinang air mata sembari shalat sunat. Taf Haikal juga terlihat sangat serius dan sempat menitikkan air mata, serta seseorang yamg sangat mirip rizal Fahlefi, yang menangis sesenggukan hingga seluruh badannya bergetar.

Usai dari sana, kami pun melaksanakan sa’i antara Safa dan Marwa. Seluruh putaran itu sebanyak tujuh kali. Saya tidak menghitung jarak yang kami tempuh tiap kali berkeliling. Menurut keterangan, jarak antar keduanya 700 meter. Seluruh rukun umrah selesai kami tunaikan pukul 02.00 dinihari.


Pulang dari Baitullah, kepala kami mayoritas sudah plontos oleh aksi super cepat tukang pangkas asal India yang membuka barber shop di dekat hotel. Banyak kepala kami yang tersilet oleh aksi super cepat mereka itu. Bayarannya 10 riyal untuk tiap kepala. Mereka bekerja untuk tiap kepala tidak sampai lima menit. Mereka hanya mau memangkas rambut atau mengunduli kepala. Tidak ada layanan cukur kumis atau merapikan kumis dan jenggot.

***

Kamis (4/4/2019) seusai shalat Duhur berjamaah di Masjidil Haram, kami berkeliling mesjid yang sangat luas itu. Betis terasa masih sakit, karena malam sebelumnya baru selesai menunaikan rukun umrah.

Kabah dibangun oleh Nabi Ibrahim di lembah Kota Mekkah yang dikelilingi oleh gunung batu. Di masa lampau, rumah-rumah penduduk dibangun di ceruk atau di atas gunung batu. Termasuk rumah tempat Nabi Muhammad dilahirkan oleh Ibundanya, Aminah. Juga rumah tempat Baginda tinggal bersama Khadijah. Rumah tempat menetap Rasulullah, sekaligus lokasi tempat paling banyak turunnya wahyu dari Allah, sudah diratakan dengan tanah. Di sana kini dibangun perpustakaan oleh Pemerintah Arab Saudi. Di samping rumah Nabi, yang kini dijadikan toilet, adalah rumah Abu Lahab. Pemerintah Arab Saudi berencana merubuhkan rumah tempat Nabi Muhammad dilahirkan. Tapi urung dilakukan setelah adanya masukan dari pemerintah negara-negara di dunia.

Terkait perubuhan rumah Nabi, menurut sumber Konsultasi Syariah disebutkan: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah meninggalkan Mekah bersama para sahabat. Mereka berhijrah meninggalkan tanah dan rumah yang mereka miliki di Mekah. Hingga di tahun 8 H, beliau berhasil menaklukkan kota itu, menjadi bagian wilayah kekuasaan kaum muslimin.

Aturan yang berlaku, orang yang telah hijrah meninggalkan Mekkah, pantangan bagi mereka untuk mengambil kembali apa yang sudah ditinggalkan.

“Tidak halal bagi orang yang telah hijrah dari Mekah ke Madinah untuk kembali ke Mekah dan tinggal di sana,” kata Nabi pada suatu khutbah.

[]

Artikel ini telah mengalami tiga kali penyuntingan.

KOMENTAR FACEBOOK