Jumat Perdana di Masjidil Haram

ACEHTREND.COM, Riyadh- Pukul 10.00 Waktu Saudi Arabiya (WSA), Jumat (5/4/2019) kami sudah meninggalkan Hotel Majestic yang berpaut sekitar 500 meter dari Masjidil Haram, Kota Mekkah. Berangkat pada jam demikian jangan lagi berharap dapat shaf depan di lantai dasar yang sejajar dengan pondasi Kabah. Dapat lantai dua saja di shaf agak belakang, sudah suatu kenikmatan.

Saya yang awalnya ingin berangkat dengan Ketua Bappilu NasDem Aceh Taf Haikal serta pengurus teras NasDem Aceh Rizal Fahlefi serta seorang jurnalis Acehkini.id, Suparta alias Ucok, gagal ikut serta, karena “panggilan alam”. Akhirnya saya terlambat sekitar 15 menit. Jangankan 15 menit, dua menit saja terlambat, kita tidak akan menemukan sejawat di jalan menuju mesjid, konon lagi di Masjidil Haram. Jutaan manusia dari ragam bangsa, dengan pakaian dominan putih, adalah sebuah kesia-siaan untuk mencari mereka.

Saya pun menyusuri jalan menurun menuju lembah Mekkah yang di sana oleh Nabi Ibrahim telah dibangun Ka’bah. Kabah dan Masjidil Haram berada di lembah yang dikelilingi oleh gunung batu, yang kini telah berubah menjadi “gunung” gedung bertingkat. Tower Zam-Zam Hotel adalah yang termegah untuk saat ini.

Saya melangkah cepat dalam jubelan manusia yang semuanya menuju mesjid. Maklum, Jumat adalah hari yang penting. Semua orang ingin mendapatkan tempat di shaf yang teduh di depan Ka’bah. Tapi datang di atas pukul 09.00 WSA, adalah sebuah kesia-siaan. Karena manusia lainnya bahkan ada yang bertahan di sana sejak subuh.

Alhamdulillah, tanpa perlu bersusah payah, saya berhasil mencapai lantai dua mesjid dari arah Tower Zam-Zam. Di sana masih ada ribuan manusia yang sedang tawaf. Maklum, tawaf dan sa’i baru berhenti kala kumandang azan kedua terdengar. Di sini, pelaksanaan Jumat dilakukan setelah kumandang azan kedua.

Para askar harus bekerja keras. Jamaah kerapkali tidak mematuhi aturan askar. Mereka melanggar garis pembatas yang dibuat sebagai bentuk rekayasa lalu lintas manusia. Di sini terlihat jelas bahwa bagi yang melanggar, kemanapun tetap tak patuh. Kalau saja para askar bersikap lembek, sungguh akan kacau balau. Semua ingin di depan. Untung saja para askar, walau kerap tersenyum, tetap menjalankan tugas. Jamaah baru bisa duduk di manapun, kala sudah masuk waktu pelaksanaan ibadah Jumat.

Saya sepenuhnya tidak paham isi ceramah yang full dalam bahasa Arab. Panjang lebar pengkhutbah menyampaikan nasehatnya yang saya dengar dengan baik. Baik dalam artian tidak berbicara dan tidak sibuk dengan telepon genggam.

Berada di lautan manusia dengan ragam aliran keislaman, tentu merupakan pengalaman menarik. Macam-macam gaya ketika mereka shalat. Yang kalau di kampung kita, saya pastikan akan ribut. Tapi di Masjidil Haram siapa yang akan memperdulikan itu? Ini adalah mesjid bersama seluruh umat Islam, baik sunni, syiah, salafi, dan sebagainya.

Tak ada yang memperhatikan ibadah orang lain. Karena semua sibuk berpikir tentang diri sendiri.

Di Masjidil Haram, perempuan juga ikut melaksanakan shalat Jumat.

***
Usai shalat, Jumat dilanjutkan dengan shalat jenazah. Shalat jenazah dilakukan setiap usai waktu shalat fardhu ain. Biasanya imam memberikan luang waktu bagi jamaah untuk melaksanakan shalat sunat.

Pelaksanaan shalat Jumat di sini, tanpa yang dibaca oleh imam dan diaminkan oleh makmum. Siapa yang butuh bermunajat, maka doa dipanjatkan sendiri.

Usai berdoa, jamaah pun beranjak meninggalkan mesjid. Di jalan, manusia pun terlihat kembali padat merayap. Ketika pelaksanaan shalat Jumat, jalan menuju mesjid ditutup. Di sana didirikan shaf-shaf shalat oleh yang masbuq. Demikian juga di hari lain, trotoar jalan dan badan jalan selalu menjadi tempat shalat bagi mereka yang masbuq dan yang tidak tertampung ke dalam pekarangan mesjid.

Bagi saya, ini adalah pengalaman pertama. Berkesempatan menunaikan shalat Jumat di Masjidil Haram, berkat dipercaya mendampingi jamaah umrah ulama Aceh bersama Partai NasDem, yang dibiayai sepenuhnya melalui sedekah pribadi Ketua Umum Partai NasDem H. Surya Paloh, seorang putra Aceh yang sukses membangun kerajaan bisnis di Ibukota Indonesia, Jakarta. []

KOMENTAR FACEBOOK