Menulis Nama di Jabal Rahmah

Gunung batu yang bernama Jabal Rahmah bukan tempat yang istimewa. Tidak ada amalan khusus di sana. Bahkan tak ada fadhilah shalat di atas gunung yang berada di Padang Arafah itu.

Demikian himbauan yang disampaikan dalam beberapa bahasa oleh petugas pengelola kawasan tersebut. Tapi para peziarah dari berbagai bangsa tak peduli pada amaran tersebut. Ada yang shalat sunat, ada yang mengusap bebatuan. Bahkan ada pula yang menulis namanya di sana.

Saya dan rombongan ulama Aceh yang umrah bersama Partai NasDem, tiba di Padang Arafah pada Sabtu (6/4/2019) sekitar pukul 09.30 WSA. Ribuan manusia sudah menyemut di sana. Mereka diangkut dengan bus-bus berbadan besar yang rata-rata hasil produksi pabrikan Cina.

Berbagai manusia dari seluruh penjuru dunia terlihat sangat menikmati wisata sejarah Islam di sana. Walau ada himbauan bila yang tidak memiliki tenaga prima dianjurkan untuk tidak mendaki, tapi hampir semua peziarah tak peduli. Dengan tertatih-tatih, para lansia dan orang yang terlihat tidak cukup sehat, menapaki anak tangga yang dibuat oleh Pemerintah Saudi Arabiya.

Di atas bukit itu, ada yang sibuk swafoto, ada yang berdoa, ada pula yang shalat. Para pedagang dadakan dari negara India, Pakistan dan pedagang Baduy terlihat sibuk menjajakan barang dagangan berupa cindera mata dan obat gosok. Tidak ada yang istimewa dari dagangan mereka. Karena dari pengamatan sepintas, yang mereka jajakan itu serupa dengan barang di pasar malam di Aceh. Meriah tapi tak low quality.

Baju gamis perempuan, gamis laki-laki, siwak, tasbih, gantungan kunci hingga obat urut dijajakan. Rumput fatimah, bubuk ramuan yang tidak saya kenali, hingga majalah edisi khusus gambar Masjidil Haram turut dijajakan.

Jabal Rahmah adalah bukit tempat Nabi Adam ‘Alaihissalam dan Siti Hawa bertemu, setelah ratusan tahun berpisah semenjak mereka diturunkan dari surga oleh Allah. Inilah sejarah paling monumental di sini. Pemerintah Saudi pun membangun sebuah tugu di puncak bukit.

Saya memperhatikan dengan seksama kondisi Jabal Rahmah. Hmmm, lumayan jorok. Sampah bertebar di tiap celah batu berupa botol bekas dan bungkusan makanan ringan. Di tiap batu penuh dengan tulisan nama-nama orang yang berharap cinta mereka akan awet seperti Adam dan Hawa. Mulai dari nama berbau Indonesia, India, hingga penjuru dunia lainnya.

Para peziarah seperti tak peduli pada amaran pengelola yang melarang praktik tak perlu di Jabal Rahmah. Salah seorang lelaki yang mirip India, sempat saya potret menulis sesuatu di atas sebuah dinding batu.

Di sini pengemis dengan mengandalkan kecacatan tubuhnya, bersimpuh di tangga. Memohon rasa iba dari pengunjung. Dari rupa mereka, sepertinya bukan warga tempatan. Saya menduga mereka dari India. Terlihat dari logat dan rupa.

Hari ini, menurut informasi dari pemandu, pedagang luar leluasa berjualan karena polisi tidak datang. Mereka menggelar lapar di mana saja. Mulai dari kaki bukit hingga ke puncak bukit.

Saya tak tertarik untuk berbelanja. Saya perhatikan, hampir semua barang yang dijajakan itu produk luar. Kebanyakan dari Cina. Hahahaha, Cina memang gigeh, sampai cinderamata kecil mereka yang produksi.

Tapi hati-hati, para pedagang itu kerap memaksa jamaah untuk membeli. Langkah paling aman jangan menawar apapun pada mereka. Nanti akan sulit untuk melepas diri. Harga pun, kalau tak pandai menawar, akan menyebabkan kantong bocor.

Mereka menyenangi peziarah dari Indonesia. Karena hobi berbelanjanya yang akut. Saya perhatikan, banyak orang yang satu rombongan dengan saya, tiap singgah selalu berbelanja. Maka tidak salah seperti disampaikan oleh pengurus NasDem Aceh Rizal Fahlefi. Bahwa orang Aceh datang ke Mekkah dan Madinah, selain untuk ibadah juga untuk melempar Riyal.

KOMENTAR FACEBOOK