Subuh di Baitullah, Berebut Hijr Ismail

Tahajjud adalah shalat yang sejatinya rahasia. Dilakukan sembunyi-sembunyi, dalam arti bilapun diketahui, hanya oleh kalangan tertentu seperti anggota keluarga. Kalaupun diutamakan berjamaah, tapi itu tidak menjadi trend.

Tapi, di Masjidil Haram, tahajjud dilakukan di depan publik. Di tengah lalu-lalang jutaan manusia. Di tengah kesibukan umat Islam yang datang dari perbagai penjuru bumi.

Tak ada waktu jeda di sana. Bila manusia A tertidur, maka manusia B yang bangun. Demikian seterusnya. Masjidil Haram berdenyut 24 jam. Ka’bah ditawaf 24 jam. Tawaf hanya jeda kala pelaksanaan shalat saja. Hijr Ismail pun dikosongkan. Untuk sementara. Begitu takbir imam terdengar, segera para askar membuka kembali untuk umum. Ratusan orang akan berlomba saling mendahului. Di Hijr Ismail, doa lebih aula dipanjatkan.

Sabtu, (6/4/2019), pukul 03.40 WSA, kami tiba di mesjid. Shaf depan sudah dipenuhi jutaan manusia. Tapi belum teratur. Belum terlihat para askar mengatur jamaah. Hanya saja koridor shalat sudah dibuat. Tapi tetap dilanggar. Jamaah perempuan dan laki-laki kerap bercampur baur. Para jamaah tak peduli. Bagi mereka yang penting bisa dekat dengan simbul kiblat, Ka’bah.

Ketika kumandang azan pertama usai, para askar mulai mengatur shaf. Campur baur jamaah laki-laki dan perempuan, dipisahkan. Para lelaki berjubah pun turut serta. Dengan tegas mereka melerai carut-marut shaf yang merupakan fenomena sehari-hari.

Hijr Ismail yang sudah penuh dengan jamaah pria dan wanita, dipaksa untuk dikosongkan. Beberapa jamaah yang berbahasa Arab coba melobi para askar. Tapi askar Masjidil Haram bukan petugas petugas biasa. Mereka tak bisa dirayu. Akhirnya dengan kerja keras petugas keamanan, Hijr Ismail pun berhasil dikosongkan.

Usai shalat sunat qabla Subuh, artinya seusai kumandang azan kedua, imam membaca takbir. Para askar memberikan isyarat kepada jamaah yang masih berdiri di tangga yang lurus dengan Hijr Ismail. Tanpa menunggu detik selanjutnya, mereka pun berhamburan ke Hijr Ismail. Hanya setengah yang dipenuhi jamaah. Berarti jamaah yang menunggu peluang shalat di Hijr Ismail tidak sebanyak ruang yang tersedia. Maklum, karena jamaah yang datang ke Masjidil Haram di atas pukul 04.00 pagi, tak bisa lagi masuk ke mesjid. Mereka tertahan di gerbang.

Shalat subuh di Masjidil Haram–juga di Masjid Nabawi– tanpa bacaan qunut. Imam mengikuti mazhab mayoritas yang juga diikuti oleh Raja Arab Saudi dan keluarga kerajaan.

KOMENTAR FACEBOOK