Ternak Digital dalam Kontestasi Pemilu

Oleh Ichsan Maulana*

Kurang lebih seminggu lagi perhelatan pesta demokrasi akan dirayakan oleh segenap rakyat Indonesia. Banyak hal yang muncul mengisi ruang publik, memantik imajinasi, hingga menggerogoti alam pikiran warga. Salah satu yang paling masif dan terjadi berulang-ulang ialah lahirnya digital baru dengan banyak bentuk.

Di Indonesia, rasa-rasanya setiap pemilu selalu dikuti dengan ternak digital yang terbilang banyak. Produknya berupa kemunculan media dadakan (terutama online), menjamurnya akun-akun bodong di lintas platform sosial media. Dalam hal ini secara umum terbagi menjadi dua: fanatikus politik yang membelah diri, menciptakan akun-akun siluman setelah akun pribadi yang rela berjihad demi junjungan dan buzzer. Terakhir, yang paling dekat ialah grup WhatsApp (WA) bak jamur di musim hujan.

Fenomena di atas saya istilahkan dengan ‘ternak digital’. Hal itu muncul sebagai bentuk strategi untuk meng-endorse para caleg maupun capres dengan maksud mengiklankan kepada khalayak. Informasi yang diulang-ulang dan dibagikan oleh ternak digital ini, diharapkan mampu menggaet maupun meyakinkan pemilih. Namun, di sisi lain dimanfaatkan untuk menjelekkan lawan.

Sederhananya, bila tidak mampu meyakinkan untuk memilih yang ia dukung, setidaknya menjadikan target agar ragu untuk memilih pilihan yang sempat diniatkan untuk dipilih.

Pola semacam ini bukanlah sesuatu yang baru dalam kontestasi pemilu, baik dunia maupun Indonesia. Hal ini merupakan bagian daripada revolusi 4.0 ketika digital menjadi lokomotif informasi menembus sekat pembatas. Sedangkan data, seakan menjadi peluru di abad kekinian. Peluru itulah digunakan untuk berperang di ranah digital dalam kontestasi pemilu.

Mengapa ternak digital digandrungi? Hal ini dilakukan untuk memengaruhi para pemilih, mengontrol pikiran. Sebab, pertarungan politik pemilu sekarang jauh berbeda dengan yang lampau. Dulu kita melihat adu mulut antartimses, upaya perusakan baliho, dan seterusnya. Sekarang jika pun masih ada maka relatif jauh sudah berkurang intensitasnya. Semua bergerak di medan tempur digital.

Pilihannya beragam, sekalipun biasanya dua yang paling umum: adu kuat gagasan atau wacana, menyuguhkan bahwa kandidat tertentu merupakan harapan sebab memiliki sejumlah agenda yang terkonsep, futuristik, logis serta menyentuh kebutuhan rakyat. Atau, pilihan lainnya, adu kuat menjelekkan hingga membunuh citra maupun karakter lawan. Caranya beragam, salah satunya dengan penyebaran fitnah maupun hoaks.

Demi meraih tujuan kedua pola di atas, maka ternak digital dilaksanakan dengan sasaran psikologis para peselancar digital. Hal ini terbilang efektif karena pengguna internet di dunia bahkan Indonesia sangat tinggi. Boleh dibilang, setiap rumah tangga, minimal memiliki satu smartphone. Maka dari itu, faktor penentu dicoblos tidaknya satu kandidat sekarang ini tidak lagi seberapa besar serangan fajar semata, tetapi seberapa sukses Anda menguasai jagat digital.

Ternak digital hadir untuk menjembatani itu. Menghubungkan kepentingan kandidat yang bertarung dalam kontestasi pemilu antara konsultan, timses, dengan calon pemilih. Secara neurosains, otak manusia cenderung mengikuti apa yang dirasa sejalan dan menguntungkan dirinya. Bagi masyarakat di jagat maya, berlomba-lomba meng-update status terkait calon masing-masing. Sedangkan media partisan yang dadakan, terus memproduksi informasi sesuai dengan misi. Sudah pasti, selalu menemukan pembacanya yang kerap dibagikan berulang-ulang.

Yang menarik ialah dialektika yang dihasilkan dari pada penetrasi ternak digital ini. Warga negara saling menyerang dan meng-counter informasi. Sayangnya, tidak setiap individu bijaksana dalam pertarungan itu. Setiap orang memang dianugerahi akal untuk berpikir, tapi kadang, dalam soalan pemilu dengan bom informasi yang menggaet emosi berlebih warga, menyebabkan pertarungan di jagad digital menjadi irasional.

Celakanya, pertarungan dunia maya malah diturunkan ke tingkatan dunia nyata. Bukankah banyak di antara kita yang sempat meng-unfollow teman sebab kita anggap terlalu berisik? Pun ada, yang ‘cuti’ silaturahmi hanya karena pemilu.

Ternak digital suka atau tidak suka harus diakui telah berhasil mempermainkan emosi manusia. Yang mengubah cara pandang dengan pelangi perspektif. Namun, ketidaksadaran tampaknya juga terbilang masih tinggi. Lupa, bahwa emosi yang berhasil direbut oleh konstruksi informasi ternak digital dapat dimanfaatkan sedemikian rupa.

Seorang kandidat sudah ramai membubuhkan nomor WA-nya di baliho atau kartu nama, dengan tujuan agar lebih dekat dengan rakyat. Sama halnya dengan timses capres, yang membuat grup WA untuk pemilih, alasannya: agar kalau ada apa-apa mudah dan accessible (dapat diakses). Namun kita bisa bertaruh, bahwa kelak atau mungkin sekarang, nomor maupun grup tersebut hanya menjadi ruang hampa satu pihak. Warga yang melaporkan keluh kesah tapi tanpa respons.

Kita paham, bahwa dalih yang akan disampaikan para pemilik nomor WA maupun admin grup, seperti ini: Banyak kegiatan, sibuk. Saya mengurusi bukan satu orang/kelompok saja, dan sebagainya. Jadi, ternak digital pada dasarnya juga mengenal waktu ‘bulan madunya’. Setelah segalanya usai, semua kembali pada realitas hidup sesungguhnya, bahwa harapan yang di-branding menjanjikan dengan ternak digital, ternyata tidak sebombastis jumlah click and share.

Pada masanya, ternak digital akan mati. Akun bodong, media dadakan, dsb laksana bayi tabung demokrasi yang kekinian. Dirahimi musiman, dan mati dini. Yang tinggal hanya jejak digital. Sedangkan efeknya tetap berlanjut, pengkultusan yang agung atau kebencian yang tetap mendendam. Satu hal yang pasti, ternak digital juga membawa dosa bagi penikmatnya, entah itu dosa secara moral maupun dosa yang akan kita pertangungjawabkan di hadapan Tuhan.[]

*Penulis adalah Manajer Publikasi Aceh Institute. Email: ichsanmaulana.icm@gmail.com

KOMENTAR FACEBOOK