Maria Karsia, Tinggalkan “Zona Aman” Demi Tanoh Indatu

Hj. Maria Karsia, perempuan kelahiran Jakarta 11 Juli 1967 adalah salah satu putri Aceh yang sukses berkarir di ibukota negara. Lahir dari pasangan H. Jalaluddin bin H. Ibrahim asal Cunda, Kota Lhokseumawe, dan Nuriah asal Juli, Bireuen, Maria adalah perempuan Aceh tulen yang tidak melupakan kampung halaman kedua orangtuanya.

Keponakan dari salah seorang negosiator GAM di Helsinki –yang melahirkan MoU Helsinki antara GAM dan RI pada 15 Agustua 2005– Teungku M. Nur Djuli, pernah lama membantu advokasi Aceh kala konflik. Profesinya sebagai jurnalis kala itu membuat ia memiliki akses lebih luas untuk mewartakan Aceh ke seluruh dunia.

Walau dilahirkan dan besar di Jakarta, tetapi Maria selalu terikat dengan kampung halaman. Jika libur sekolah, setidaknya dua tahun sekali ia dan keluarganya pulang kampung untuk menghabiskan masa liburan, yang seringnya jatuh di bulan Ramadhan di kampung Juli.

Di Juli, setiap hari di masa liburan itu, Maria kecil berjalan- jalan di bukit depan rumah sehabis subuh, mencari ticempala kuneng, mendengar suara merdu burung pemerah sapi, dan bermain di sawah atau dikejar angsa putih misyik Hj. Khadijah Juli, karena Maria membawa lari telur angsa.

Hj. Khadijah adalah sosok yang disegani oleh angsa itu. Bila sudah kepepet, Maria selalu berlindung di balik tubuh nenek yang subur. Bila sudah demikian, angsa itu akan berhenti mengejar dan pura-pura bersikap manis.

Bila malam tiba, sehabis shalat magrib di Keude Dua, ia dibonceng bersepeda di malam gelap dan hanya diterangi lampu sepeda ontel. Sesekali ia dan keluarga berangkat mandi di Krueng Simpo yang berair jernih.

***

Karena kesibukan menempuh studi, Maria remaja terakhir ke Aceh tahun 1986. Sebelum ia diterima di Universitas Indonesia, Fakultas Sastra jurusan Sastra Jepang. Ia menamatkan kuliah S1 pada tahun 1992, sambil menyambi kerja sebagai interpreter di Satriavi Tours and Travel, Maria melayani penerbangan Garuda Indonesia ke Jepang selama 1 tahun. Sambilan kerja ia juga mencari peluang untuk memperdalam Bahasa Jepang. Pengalaman bekerja menjadi interpreter membuka peluang Maria melanjutkan sekolah ke Jepang.

Maria memperdalam Bahasa Jepang di Universitas Wanita Showa, di Tokyo dari 1992- 1994. Lalu melanjutkan pendidikan strata S2 di Universitas Kanazawa Jepang untuk bidang yang sama yaitu Sastra Jepang selama 2 tahun yaitu 1994 dan lulus 1996. Kembali ke Indonesia, Juni 1996 dan menikah Hj. Achmad Tavip Syah, MA, seorang PNS yang bekerja di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Hasil pernikahan itu, mereka dikaruniai seorang anak lelaki bernama Muhammad Irfansyah July Samudra Mahardika, yang lahir di bulan Juli 1997. Nama Juli yang disandangnya adalah nama bulan kelahiran dan juga persembahan nama dari ibu Maria, untuk penghormatan kepada kampung halamannya.

***

Kembali dari Jepang Maria sempat mengajar menjadi dosen di dua universitas swasta di Jakarta. Tapi kariernya berbelok arah ketika ditawari pekerjaan sebagai asisten koresponden media Jepang, The Mainichi Shimbun di tahun 1996.

Masa sulit pergolakan politik tanah air pun menjadi liputannya sehari-hari. Gerakan Reformasi menjadi kawah candra dimuka yang harus Maria hadapi sebagai wartawan baru. Ia menjadi akrab dengan tokoh-tokoh reformasi, dan juga partai politik. Termasuk berkenalan dengan PDI dan Megawati Soekarnoputri.

Ketika gejolak konflik kian kencang, Maria pun ditugaskan ke Aceh. Ia tidak menolak walaupun tahu resikonya sangat besar. Ia berpikir bahwa mewartakan Aceh ke seluruh dunia sangatlah penting.

Walau Maria harus menjalani liputan yang berbahaya karena situasi Aceh saat itu, akan tetapi kembali pulang ke Aceh adalah sebuah berkah baginya. Profesi sebagai wartawan telah membawa ia meliput banyak peristiwa politik di Aceh. Keterkaitan emosional sebagai orang Aceh, menginginkan Aceh damai, dan berharap konflik memakan korban jiwa dari masyarakat yang tak berdosa segera berakhir adalah doa yang selalu ia panjatkan. Ia sangat lega dan sempat menangis haru ketika MoU Helsinki ditandatangani di Finlandia.

Tahun 2009, Maria berhenti bekerja sebagai wartawan karena harus mendampingi suami bertugas ke Berlin, bekerja di KBRI selama tiga tahun lamanya. Ia gunakan kesempatan itu untuk menunaikan haji bersama suami pada tahun 2011.

Pulang dari Jerman tahun 2012, Maria diterima bekerja di salah satu perwakilan Bank Jepang di Jakarta. Ia tidak kembali ke dunia liputan, tetapi networking sebagai jurnalis, tak pernah ia tinggalkan. Juga hubungan baik dengan PDI Perjuangan.

Atas hubungan itu pula ia mendapat kesempatan bersama wartawan-wartawan peliput reformasi menulis buku: Megawati di Mata Wartawan, Menangis dan Tertawa Bersama Rakyat.

“Juga berikutnya kami mendapat kesempatan untuk menulis biografi Megawati lewat tutur kisah 6 orang perempuan , sahabat kecilnya. Buku itu berjudul, “Cerita Kecil dari Cikini,” kata Maria Karsia.

***
Pada pemilu 2019 Maria ikut ambil bagian. Sebagai caleg PDIP untuk DPR RI Dapil II Aceh nomir urut 2.

Ia pulang ke Aceh, dengan meninggalkan pekerjaan yang sangat menjanjikan di Jakarta. Kalau hanya berpikir untuk diri sendiri, apa yang ia miliki saat ini, lebih dari cukup untuk menikmati hidup sembari terus membangun peradaban keluarga.

Tapi, bagi Maria inilah saatnya pulang ke kampung halaman untul mengabdi bagi segenap tumpah darah, demi terwujudnya kesejahteraan rakyat yang lebih luas.

Ia memiliki koneksi yang luas di Pusat. Juga memiliki basis komunikasi politik yang mumpuni. Sehingga semua koneksi dan pengetahuan itu akan Maria curahkan untuk membantu memajukan Aceh bersama pemerintah. Ia bercita-cita perempuan Aceh terberdayakan dengan sebaik-baiknya. Ia ingin daerah terisolir mendapatkan program yang lebih mengena dengan mereka. []

Foto: Hj. Maria Karsia. (Ist)

KOMENTAR FACEBOOK