Perilaku Hijau untuk Menjaga Lingkungan Hidup

Ilustrasi. Seorang petugas BPBD Aceh Barat sedang memadamkan api di Gampong Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat. @ist/BPBD Aceh Barat

Oleh Talitha Novesasara Dayo*)

Kobaran api pilpres terus saja menyala dengan terangnya. Koalisi ini menyerang koalisi itu. Tak ada habisnya. Sibuk dengan hasil survei. Anti hoaks. Semuanya memanas. Beberapa orang semakin bingung, pilih ini atau itu? Ada juga beberapa di antaranya tidak terusik, bertekad kuat dengan pilihan hati nurani.

Berhenti sejenak, bagaimana kalau kita coba melihat sisi yang lain? Coba perhatikan lingkungan sekitar. Ada apa? Spanduk Pilpres? Lain lagi, coba lihat yang lain. Lebih seksama. Bumi kita. Kira-kira bagaimana nasibnya? Apakah isu bumi sama “panas” dengan isu Pilpres? Silahkan tanya hati nurani.

Renungkan sejenak. Bumi, tempat tinggal kita, sudah tidak lagi seharmoni dahulu. Kini raganya rapuh dan lemah. Lautnya tidak lagi indah untuk penghuninya. Langitnya tidak lagi jernih seluas mata memandang. Daratannya tidak lagi begitu imbang.

Kita, manusia, mungkin saja merasakan berbagai kemudahan. Namun, bagaimana dengan keadaan makhluk hidup lainnya? Hewan? Tumbuhan? Apakah ekosistem mereka tetap terjaga, jika manusia terus saja mengeksploitasi? Badak yang diburu culanya demi keperluan medis, hiu yang diburu siripnya untuk dikonsumsi, dan gajah liar yang diburu gadingnya demi status sosial. Trenggiling. Hewan bersisik yang diburu secara liar tiada henti, dieksploitasi dijadikan bahan obat, perhiasan, minuman, hewan peliharaan, bahan makanan, atau justru untuk keperluan status sosial. Akibatnya, hewan-hewan tersebut dinyatakan hampir punah.

Dunia sirkus, yang dianggap mendidik dan menghibur para penonton, namun tetap saja ada eksploitasi tersembunyi di baliknya, dan tidak ada yang peduli. Lumba-lumba yang seharusnya hidup di alam bebas tapi terkekang. Beruang madu yang tidak hanya dieksploitasi bagian tubuhnya untuk dijadikan obat, tetapi juga dilecehkan alat kelaminnya oleh pawang sirkus, ketika sedang “menghibur” penonton sirkus. Terjadi di mana? Tanah Air Indonesia.

Belum lagi tambahan kasus yang sedang marak, Orang Utan yang ditembaki dengan 74 peluru atau bahkan 104 peluru! Orang Utan yang harus menahan tembakan tersebut, dikarenakan oleh manusia, dianggap memasuki batas wilayah. Padahal, habitat orang utan yang justru hilang terganti dengan area perkebunan. Alasan lain Orang Utan ditembaki, umumnya yang ditembaki adalah induk Orang Utan; dikarenakan anak Orang Utan diambil untuk dijadikan peliharaan. Bukankah hewan-hewan tersebut lebih indah apabila tinggal di “rumah” sendiri? Ahmad Albar saja melantunkan kalimat bahwa lebih baik di sini, rumah kita sendiri.

Masalah lain yang belum selesai
Beberapa contoh tersiksanya kehidupan hewan di daratan juga tidak kalah dengan yang di lautan. Kematian paus sperma dengan sampah 5,9 kilogram di perutnya. Jika tanyakan dimana, sayangnya terjadi di Indonesia, tepatnya Sulawesi Tenggara. Masih juga di Indonesia, di perairan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Ada juga seekor kuda laut tertangkap kamera membawa sampah cotton bud di ekornya, tetapi yang mengabarkan berita kuda laut tersebut siapa? Aktivis media di luar Indonesia. Pastinya sudah menjadi ranah Internasional, tapi kabar buruk tersebut terjadi di Indonesia. Apa yang Anda rasakan?

Jika dilihat dari akar masalah yang ada, penyebabnya adalah sampah di lautan. Terutama sampah plastik. Coba hitung berapa jumlah sampah plastik yang Anda hasilkan dalam sehari? Kemudian tambahkan jumlah tersebut dengan jumlah sampah plastik oleh ayah Anda, ibu Anda, anak-anak Anda, orangtua Anda, rekan-rekan Anda, tetangga Anda, dosen Anda, atasan Anda, bawahan Anda, komunitas Anda, konsumen Anda? Bagaimana? Ya memang plastik sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Namun, zaman dahulu juga tidak ada plastik bukan? Jika zaman dapat mengubah perilaku menjadi konsumsi plastik. Tentu, zaman juga dapat diubah kembali menjadi tanpa plastik. Setidaknya berkurang.

Mari Lakukan Perubahan

Setiap masalah ada solusi. Kadang kita saja yang tidak peduli dengan solusi tersebut. Permasalahan satwa liar solusinya dengan menjadi konsumen yang cerdas, dengan cara menolak hasil perburuan yang tidak sah. Apabila permintaan berkurang, maka penjualan juga akan berkurang. Hal kecil yang cukup membantu aparat yang sedang mengemban tugas menjaga keadilan. Jika memang tidak terlibat, tetapi mengetahui, berarti sudah satu langkah di depan. Hanya saja, belum cukup sampai di situ, boleh dibantu untuk dilaporkan.

Laporan adanya hasil perburuan satwa liar dapat dilaporkan melalui BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Aceh maupun aplikasi e-Pelaporan Satwa Dilindungi oleh Bareskrim Polri. Apalagi sebelumnya pernah memelihara satwa liar dilindungi, lalu dengan kesadaran diri kemudian melaporkan ke lembaga terkait, maka tindakan berjiwa besar Anda patut diapresiasi. Bagaimana dengan sirkus? Jawabannya adalah sama, tidak menjadi konsumen, tidak menonton. Jika mengindikasi ada unsur ketidakadilan, silahkan bantu laporkan. Bertindak untuk berjiwa besar.

Sisi lain, usaha untuk mengurangi sampah plastik sudah pernah dicoba, namun tampaknya belum memiliki proses berkelanjutan. Pada tahun 2016, pernah disahkan kebijakan oleh walikota Banda Aceh akan kantong plastik berbayar senilai Rp.500 di salah satu pusat perbelanjaan modern di Setui. Namun, di tahun 2019 belum terlihat proses kemajuan yang berarti, masih terlihat masyarakat yang wara-wiri belanja dengan kantong plastik. Tak heran jika Banda Aceh gagal mempertahankan Piala Adipura periode 2017-2018. Pada akhirnya, kemungkinan ada regulasi yang perlu ditinjau ulang, apakah anggaran yang masih minim atau kebijakan yang belum tegas dan konsisten.

Selalu Ada Solusi

Seiring berjalannya waktu ternyata semakin terjadi kemunduran, lalu bagaimana solusinya? Jika diperhatikan, sudah banyak gerakan yang dapat membantu menjaga lingkungan, namun perubahan besar berawal dari perubahan kecil. Dimulai dari diri sendiri, dengan mengganti produk sekali pakai dengan produk berkelanjutan yang sifatnya ramah lingkungan.

Sekarang sudah tersedia berbagai produk ramah lingkungan yang mudah untuk ditemukan. Misalnya, sedotan berbahan bambu, sedotan berbahan stainless, kantong belanja reusable, produce bag yang dapat digunakan untuk menggantikan plastik ketika membeli buah atau sayuran, tumbler sebagai pengganti botol plastik sekali pakai, sikat gigi bambu, maupun peralatan makan reusable sebagai pengganti kemasan plastik.

Tidak hanya itu, menghemat listrik juga menjadi cara tambahan untuk menjaga lingkungan.

Sudah mencoba menggunakan produk ramah lingkungan? Tentu selanjutnya diperlukan tindakan yang terus-menerus dijaga untuk dilakukan, agar terlihat hasil yang nyata. Tindakan seperti mencabut stopkontak yang tidak terpakai, mematikan listrik yang tidak terpakai, mematikan pendingin ruangan yang tidak terpakai, dan mematikan kran air yang tidak terpakai, juga menjadi beberapa contoh untuk menjaga bumi.

Lawan rasa malas. Tingkatan rasa peduli. Ternyata bukan tidak mungkin untuk menjaga bumi agar tetap lestari. Hanya saja perlu tekad yang lebih kuat dan jiwa yang lebih besar. Oleh karena itu, lakukan apapun yang dapat membantu keseimbangan alam. Hal kecil sangat berarti jika dilakukan terus-menerus. Masih ingat dengan kalimat: kebaikan akan dibalas dengan kebaikan lainnya, kan?

*)Penulis adalah mahasiswa Prodi Psikologi Universitas Syiah Kuala.
Email: talithanoveasara@gmail.com.

KOMENTAR FACEBOOK