Masjid Qisas, Tempat Hukuman Pancung di Arab Saudi

Jeddah bukanlah kota tujuan utama umat Islam yang menunaikan ibadah umrah dan haji. Terletak di luar tanah haram, Jeddah menjadi penting karena menjadi tempat dibangunnya pelabuhan laut dan bandar udara. King Abdul Aziz Internasional Airport, yang mencakup bandara raja, bandara haji, bandara Saudia dan bandara Internasional, dengan satu landasan pacu.

Di Jeddah, ada sebuah masjid yang terkenal. Namanya Mesjid Qisas. Penamaan ini dikarenakan di tempat inilah, usai shalat Jumat, hukuman qisas dilaksanakan oleh Pemerintah Saudi terhadap para pelanggar yang melakukan pelanggaran seperti pembunuhan. Tidak setiap Jumat hukuman pancung dilaksanakan. Bahkan, menurut informasi, sudah agak lama pelaksanaan hukuman itu tidak digelar.

Masjid Qisas terletak di Balad Jeddah, berhadapan langsung dengan Departemen Luar Negeri Kerajaan Arab Saudi. Lokasinya tepat di antara Jalan Bagdadiyah, Jalan Syeikh Al Juffali, dan Jalan Madinah.

Rombongan umrah ulama Aceh bersama Partai NasDem, singgah di mesjid ini pada Senin, 8 April 2019, ketika masuknya waktu Ashar. Kami tiba di sana sudah agak terlambat. Walau memberikan fasilitas shalat lima waktu, tapi mesjid ini hanya dibuka waktu shalat saja.

Ustad Ahmad yang menjadi pemandu, memberikan arahan agar kami segera melaksanakan shalat, karena sebentar lagi mesjid akan ditutup. Petugas cleaning service pun memberikan aba-aba agar kami bersegera menunaikan shalat. Bila jadwal tutup tiba, tanpa basa-basi, mereka akan segera menutup pintu.

Usai shalat kami berkeliling. Tidak ada yang istimewa dari masjid ini. Bangunan teramat sederhana dengan gaya arsitektur lama. Seluruh warna luarnya putih. Berlokasi di dekat danau buatan yang bersambung dengan Laut Merah.

Tidak jauh dari arah qiblat, terletak sebuah bangunan tanpa dinding, semacam tenda, tapi permanen, yang dibangun di area parkir. Di sanalah hukuman pancung dilaksanakan.

Menurut Ustad Ahmad, dalam pelaksanaan hukuman pancung, algojo yang berpakai serba hitam dan memakai topeng, sebelum melaksanakan tugasnya, tetap menunggu pemaafan dari keluarga korban terhadap pelaku. Tiga langkah terakhir sebelum pedang jagal berlabuh di leher yang bersalah, dengan sangat hati-hati mereka menanti, mengamati dan menunggu pemaafan dari keluarga korban. Baik berupa isyarat maupun tanda lainnya.

Bila sampai langkah ketiga tak ada tanda, maka hukuman pun dilaksanakan.

Mesjid ini, bila dilihat dari namanya, tentu mengerikan. Tapi sesungguhnya Mesjid Qisas tidak ubahnya dengan mesjid lain. Tempat melaksanakan shalat fardhu berjamaah. Arsitekturnya sederhana. Dengan deretan Quran di shaf paling depan.

Di halaman depan, sekian puluh meter dari mesjid, di area tanah lapang yang merupakan halaman mesjid, berjejer pedagang tanpa tenda, yang berjualan di terik matahari. Tidak ada warga Saudi, semunya pendatang. Baik dari Indonesia, bahkan dari Yaman.

Mulai dari bakso, kurma muda, hati unta, hingga tasbih di jual di sana. Pelataran mesjid pun menjadi tempat bermain anak-anak tempatan. Seperti bermain bola, kejar-kejaran dan lain sebagainya.

Beberapa rombongan umrah dari berbagai negara, sibuk foto bareng di halaman mesjid. Mereka mengabadikan momen itu, dengan latar Mesjid Qisas.

KOMENTAR FACEBOOK