[Cerpen]: Bibir

ilustrasi @thinkstock

Oleh Azharul Husna*

Sejak delapan bulan belakangan ini para pelintas jalan mulai sering melihatnya. Bukan apa-apa, mereka ramai sekali. Sejak waktu itu pun bendera berwarna-warni mulai berkibar di mana-mana. Layaknya sebuah komando, mereka mulai ramai menunjukkan diri.

Para pedagang yang tak biasa itu ramah sekali. Tiap kali mata bertatap selalu akan kamu dapati mereka yang tersenyum, santun, alim, dan elegan. Kapan pun tanpa absen, pagi, siang, bahkan tengah malam. Mulai pancaroba hingga gelombang panas yang menghantam bumi. Bahkan dalam siraman hujan dari langit pada minggu terakhir pun mereka tetap ada. Tak berbatas waktu, tempat, dan cuaca. Mereka tetap di sana dan masih betah di sana: tersenyum, memberi hormat, melambai ke arah pengguna jalan.

Sebenarnya mereka penjaja musiman. Saban lima tahun berjualan. Tidak ada tempat khusus menjaja dagangan. Tidak terikat di mana pun bisa menjadi pasar, di pinggir jalan, di kebun, ladang, sawah, perempatan lampu merah. Hampir di mana-mana, para penjual itu  bergerombol berjualan.

Waktu berjalan terus dan semakin sempit, persaingan main ketat. Pasar itu terbatas. Bukankah demikian hukum ekonomi berjalan. Penawaran ada sebab permintaan. Pada para penjual bibir ini pun demikian pula. Apa? Penjual bibir? Iya mereka menjual bibir. BIBIR. BIIII..BIR! B..I..B..I..R!

Jangan heran kawan, di bawah kolong langit ini apa sih yang tidak bisa diperjualbelikan? Termasuk juga sepasang bibir atas bawah. Dagangan bibir yang sudah dipaket tersebut bisa digelar di atas tikar plastik di pinggir jalan seperti nyak-nyak Pasar Peunayong, di etalase kaca bahkan di pohon-pohon. Tergantung kemampuan penjualnya. Orang yang memiliki modal besar membungkusnya dengan plastik bening atau box kaca sehingga terlihat lebih elegan. Tetapi ada pula yang membungkusnya dengan daun pisang yang jelas tak transparan. Kadang membuat kita curiga lantas bertanya di dalam hati.

“Adakah sepasang bibir di sana atau yang dijual hanya bungkus kosong?”

Macam-macamlah, tetapi yang pasti tak ada aturan baku mengenai hal itu. Dunia yang canggih membuat cara orang berdagang kian maju dan modern. Lapak nyata tetap ramai tetapi tidak sedikit pula kini pedagang yang menggunakan media daring. Kalian tahu, seperti olshop itu.

Sehingga barang jualan bisa tetap aktif dipantau dan menjangkau calon pembeli bahkan di atas katil sebelum tidur malam. Hal tersebut ia lihat dari Maneh, istrinya. Ia  kerap mengecek akun IG alias Instagram hanya untuk melihat-lihat. Mulai dari gosip artis hingga bibir-bibir tersebut. Sesekali ia tersenyum merasa geli, tak jarang juga ia mengumpat saat ia melihat profil penjual yang sempat menipunya lima tahun yang lalu.

Rusydi ingat beberapa belas tahun yang lalu, saat pemerintah mengumumkan aturan perdagangan bibir yang bebas dan langsung. Ramai sekali yang berkerumun untuk menjual, membeli, atau sekadar melihat-lihat. Bahkan tak sedikit penjual bibir yang menawarkan bibir-bibir tersebut ke rumah-rumah warga seperti yang dilakukan penjual sandal keliling, obat gatal atau para upline MLM.

Setiap pergi dan pulang kerja kadang-kadang gatal juga mata Rusydi melirik ke sana. Ke pinggiran jalan dekat pohon di mana para pedagang berkerumun. Jujur kadang ada juga rasa tertarik pada bibir-bibir yang bermacam rupa, ukuran, dan variasi warnanya. Penjualnya yang rajin tersenyum lebar dan berpenampilan menarik.  Tangannya tak henti memanggil. Ah, tak kuasa pada godaan akhirnya Rusydi singgah juga.

Di sinilah ia di sebuah lapak yang tidak banyak peminat yang berkerumun. Rusydi datang mendekat. Sesaat ia mengernyit. Ia mencoba menatap lebih jelas. Warna, bentuk, aroma, ia mencoba fokus. Masih merasa kurang yakin, ia bertanya:

“Ini bibir betulan?”

Mulut penjual di belakang jejeran bibir itu tersenyum ramah.

“Betullah, Pak, mana mungkin saya bohong!” ia meyakinkan.

Rusydi diam sambil menimbang. Tak puas hanya melihat, ia menyentuh bibir-bibir itu mencoba memastikan keaslian dan mendengar suara merdu nya. Rusydi masygul.

***

Lima tahun yang lalu ia dan Maneh membeli bibir. Merah, indah, merdu, dan wangi semerbak pula tetapi nyatanya artifisial. Palsu! Aroma wanginya berasal dari semprotan parfum, merahnya oleh pewarna, dan suara merdunya hilang sudah sebab baterainya habis. Beberapa waktu setelah dibeli barulah ia dan Maneh menginsafi betapa mereka telah tertipu.

Saat sadar akan hal itu ia bergegas kembali ke toko bibir tersebut. Berharap mendapat jawaban atas perihal yang ia alami. Jika memungkinkan, nanti ia akan meminta pertanggungjawaban penjual dengan tukar tambah bibir. Apalah daya, lapak-lapak bersih sudah. Penjual entah ke mana. Rusydi mencari, saat berjumpa ia bahkan tak ingat pada Rusydi dan Maneh. Namun yang paling membuat sakit hati adalah kata-kata:

“Barang yang sudah dibeli tak dapat ditukar kembali! Siapa suruh beli!”

Dalam hati kecilnya Rusydi percaya. Tak semua penjual berperangai sama. Masih ada bibir-bibir sehat yang merahnya bukan karena gincu dan suara merdu tak sebab baterai. Tetapi untuk membeli kok rasanya hati masih kesal. Rasanya trauma. Tetapi jual-beli bibir ini pun sebuah kemewahan yang tak saban waktu bisa dinikmati. Tak selalu dijual bebas – ia terikat pada batas waktu. Hanya lima tahun sekali saja. Belinya hanya sekali dalam lima tahun dengan masa pakai sampai lima tahun mendatang. Sebuah momen langka, bukan? Jika melewatkannya Rusydi harus menunggu lima tahun lagi.

Dalam ragu ia bertanya lagi pada penjaja bibir semerah bunga itu.

“Jika tahun depan saya kembali sebab bibir yang dijual ternyata tak sesuai. Masihkah Anda di sini tuan-puan?”[]

*Penulis adalah Staf Program KontraS Aceh. Warga Kota Lhokseumawe yang berdomisili di Banda Aceh.

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK