“Ribetnya” Aturan Buang Sampah di Jepang

Oleh Rezka Kenara Bintang Putra*

Saya beruntung bisa belajar banyak di Jepang dan selama tiga bulan ini saya bersama teman-teman akan fokus belajar kehidupan di Negeri Sakura tersebut. Di Jepang saya hidup bukan di pusat kota seperti Tokyo atau Osaka, melainkan hidup di pedalaman Jepang di Kota Ochi, Provinsi Kochi. Jadi cerita-cerita saya lebih banyak tentang kehidupan tradisional di Jepang, berbeda dengan cerita kehidupan di kota besar seperti Tokyo dan lain-lain.

Kali ini saya ingin bercerita mengenai budaya buang sampah di Jepang. Hal pertama yang kita dapat saat tiba di Jepang ialah tentang bagaimana membuang sampai di Jepang. Ternyata cukup membuat kaget karena aturannya sangat ketat.

Pertama, kita akan mendapatkan kantong plastik sampah yang menandakan lokasi dan tempat tinggal kita (seperti nama desa dan kecamatan). Jika sampah dibuang tidak menggunakan plastik tersebut maka sampah tidak diambil oleh petugas sampah. Sampah reguler adalah sampah yang bisa dibakar dan sampah sisa makanan. Sampah yang bisa dibakar seperti plastik, kertas, tisue, dan lainnya. Untuk sisa makanan, harus dimasukan dalam plastik kemudian diikat dan dilapisi lagi dengan plastik dan harus dipastikan tidak bocor dan membuat air dan aroma tak sedap keluar.

Kedua, sampah kardus dibuang terpisah dan hari membuang sampah kardus terpisah dengan sampah reguler. Sampah kardus yang dimaksud adalah kardus seperti bekas tempat minuman gelas, bekas barang elektronik, dan lainnya. Semua harus dilipat dan diikat dan dibuang pada hari dan tanggal yang telah ditentukan.

Ketiga, untuk sampah berbahaya seperti pecahan kaca dan duri harus dibungkus plastik setebal-tebalnya sehingga saat dipegang tidak menyebabkan terluka atau tertusuk. Dan saat dibuang harus ditulis “berbahaya” dalam bahasa Jepang atau Inggris.

Keempat, sampah botol kaleng dan kaca bekas minum akan dibuang terpisah. Semua jenis botol sebelum dibuang harus dipastikan air dalam kaleng sudah kosong dan jika terlalu kotor bisa dicuci dengan air kemudian dikeringkan.

Kelima, semua jenis sampah baterai akan dibuang setahun sekali dengan jadwal yang telah ditentukan sehingga sebelum dibuang disimpan terlebih dahulu, dan menyimpan sampah tidak boleh di depan pintu rumah yang menyulitkan untuk keluar masuk rumah dan tidak boleh menggangu jalan orang lain.

Dari semua peraturan di atas, bagi saya itu terasa sulit karena biasanya saya akan membuang sampah tanpa dipilah-pilah dan tanpa jadwal. Kapan pun saya punya sampah saya akan buang.

Orang Jepang punya filosofi “hal termudah dalam hidup adalah mengikuti aturan” sehingga di Jepang orang-orang sangat disiplin dan taat aturan. Masih berkaitan tentang sampah, filosofi lain yang diterapkan warga Jepang adalah “saat bekerja dan melakukan sesuatu, kita juga harus memikirkan orang-orang yang bekerja setelah pekerjaan kita”. Jadi dengan memilah sampah dan membuang sampah dengan tertib mengikuti aturan akan memudahkan petugas pengambil sampah.

Semoga kita semua bisa belajar dari filosofi-filosofi yang ada di Jepang dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.[]

Penulis saat ini sedang mengikuti program pelatihan di Okabayashi Farm, perusahaan perkebunan dan pengolahan jeruk di kota Ochi Provinsi Kochi, Jepang.Program ini kerja sama antara Pemerintah Jepang diwakili oleh JICA dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK