Sexy Killers Siap Membunuh Objektivitasmu

Oleh Ami Murti
Kalian sudah menonton Sexy Killers? Euforianya begitu tinggi. Saya melihat ini dari timeline media sosial. Film ini banyak direkomendasi oleh teman-teman saya yang rata-rata merupakan para aktivis sosial dan jurnalis. Ini sebuah karya visual bergerak milik Dandhy Laksono dan Suparta. Saya ingin mengulas film ini dari sudut pandang saya. Namun sebelum membaca, ada baiknya kita sama-sama menetralkan dulu pilihan politik kita. Netralkan semua subjektifitas kita dan mulai objektif.

Pertama, saya ingin membahas, apa itu film dokumenter? Menurut Misbach Yusabiran, film dokumenter adalah suatu dokumentasi yang diolah secara kreatif dan bertujuan untuk memengaruhi (mempersuasi) penontonnya. Dengan definisi ini, film dokumenter seringkali menjadi sangat dekat dengan film-film bernuansa propaganda. Saya sepakat dengan statement beliau.

Sexy Killers, sebuah dokumenter naratif yang disisipi animasi dalam bentuk skema sirkuit ini menceritakan perjalanan sutradara mengelilingi Indonesia. Ini bagian dari serial dokumenter mereka yang diberi judul ‘Ekspedisi Indonesia Biru‘. Film ini berhasil menciptakan euforia yang tinggi, memanfaatkan platform digital bebas YouTube dan juga ruang putar alternatif yang bekerja sama dengan beberapa lembaga independen juga komunitas pergerakan sosial. Film ini membentuk banyak forum diskusi. Senada dengan kata Misbach Yusabiran tentang dokumenter, film ini sukses mempersuasi banyak kalangan. Secara umum film ini mencoba membongkar borok birokrat Indonesia. Nasib masyarakat areal pertambangan dan PLTU, serta siapa saja yang terlibat dalam sirkuit kapitalis.

Film ini hasil kerja keras kolaborasi antara Jurnalis dan videografer. Melihat latar belakang kru film tersebut saya manggut-manggut sewaktu film ini ditayangkan. Maka dari itu, ini merupakan catatan dari kacamata tiga puluh ribu milik saya.

Saya pernah mengerjakan beberapa proyek dokumenter, bergabung dengan para senior dan bercerita mengenai apa itu dokumenter. Dari pengalaman saya dokumenter memiliki beberapa tipe, salah satunya seperti film dokumenter buatan Dandhy Laksono ini. Ya, film ini adalah film dokumenter dengan tipe Expository.

Bagaimana sebenarnya film dokumenter Expository?

Beberapa teman-teman yang pernah mengikuti workshop dokumenter atau mungkin baca-baca buku perfilman atau yang lebih pro lagi pernah sekolah film pasti tidak asing dengan tipe dokumenter ini.

Expository adalah jenis dokumenter di mana visual yang disajikan dalam film tipe ini dibarengi dengan narasi atau beberapa ada yang menggunakan presenter. Dalam film jenis ini Point of View atau ringkasnya disebut pesan dari film akan lebih mudah didapatkan dari sang narator ketimbang visualnya. Visual yang disajikan cenderung sebagai penguat dan bukan kekuatan dalam film, jika dalam fiksi kita menemukan continuity, maka dalam dokumenter expository kita menemukan visual sebagai penunjang argumentasi. Baca di sini bila teman-teman ingin mengetahui jenis-jenis film dokumenter.

Argumantasi dalam tipe expository umumnya bertendensi memaparkan informasi langsung kepada penonton, bahkan dokumenter dengan tipe ini umumnya mengarahkan penonton pada satu kesimpulan. Inilah yang membentuk dokumenter dengan tipe ini populer di kalangan program televisi. Mereka menutup kemungkinan adanya misinterpretasi.

Namun kelemahannya ialah karena seluruh gambar mereka jelaskan, hal ini membuat visual mereka tidak meyakinkan, mereka merasa perlu menyampaikan narasi dan beberapa visual penunjang buatan seperti animasi untuk memperkuat argumentasi mereka dan menutupi kelemahan visualnya. Ringkasnya visual mereka belum mampu bercerita. Dalam beberapa kalangan dokumentarian tipe ini mulai ditinggalkan. Kehadiran voice over cenderung membatasi bagaimana gambar harus dimaknai. Gambar disusun berdasarkan narasi yang sudah dibuat sebelumnya, membuat karya visual tipe ini kehilangan konteks. Sehingga jika film ini ditonton tanpa audio pasti akan sulit sekali menangkap makna film ini. Terlebih karena film ini hadir tanpa kontinuitas serta koherensi.

Dokumenter film yang faktual?

Yap, benar sekali. Dokumenter merupakan film faktual yang persuasif. kehadirannya hadir untuk memengaruhi penonton dengan konteks yang sudah direncanakannya. Kontennya bisa saja kemanusiaan, HAM, kerusakan lingkungan. Namun lagi-lagi konteksnya apa? Politik kepentingan? Branding suatu lembaga? Atau pemasaran program sebuah instansi? Tapi tenang, ada juga filmmaker independen yang memiliki konteks kemanusiaan dan isu lingkungan. Biasanya dokumenter-dokumenter seperti itu dikerjakan bertahun-tahun dengan memikirkan visual yang matang. Bahkan, bukan hanya visual utama, dokumenter seperti itu bahkan memikirkan progresi untuk perpindahan frame by frame dengan sangat matang. Jelasnya biasanya filmmakernya tidak memiliki kepentingan dan memang seorang filmmaker.

Ada aroma kepentingan politik ?

Bagaimana seorang filmmaker berkerja? Filim merupakan karya seni, tidak ada keharusan dalam seni. Hanya ada kalimat “berusaha menyajikan karya terbaik”. Pastinya untuk itu mereka tidak membutuhkan agenda setting. Dari beberapa diskusi saya dengan teman-teman tanpa kacamata dan kacamata tiga puluh ribu juga, saya mendapatkan satu pemikiran untuk ‘Sexy Killers’. Kenapa ditayangkan harus pas dengan momen pemilu kalau memang tidak ada kepentingan politik? Ini pertanyaan yang cukup argumentatif.

Sebelum diskusi kami mulai, kami sama-sama membuang jauh-jauh keberpihakan politik kami. Kami membahas dan mengungkapkan pendapat kami dengan netral. Beberapa dari kami ada yang memang berprofesi sebagai pembuat film dokumenter, salah satunya saya. Beberapa lagi ada yang jurnalis, travel blogger, dan aktivis sosial. Ada beberapa ketimpangan pemaparan atau point negatif yang condong kepada satu kubu. Walau untuk bermain aman tidak memuji kubu lainnya. Kemudian film ditutup dengan aksi heroik sebuah lembaga yang fokus pada kerusakan lingkungan. Ini menjadi point bagi kami untuk tersenyum dan mengajak teman-teman berpikir. Bagaimana kondisi objektifitas teman-teman setelah menonton Sexy Killers?

Ami Murti, Alumni Eagle Documentary 2016

KOMENTAR FACEBOOK