Beda Pilihan Presiden, Suami dan Istri Bercerai

ACEHTREND.COM, SEBAGAI “politisi” kelas akar rumput, pasangan Mahmudi, 36, – Fadilah, 30, benar-benar militan. Gara-gara suami bela Capres Jokowi dan Fadilah pro Prabowo, mereka tak pernah akur dalam rumahtangga. Dampaknya sampai ke mana-mana, sehingga Mahmudi yang habis kesabarannya terpaksa menceraikan Fadilah.

Sebagai ormas, Nahdatutul Ulama dan Muhammadiyah bersikap netral dalam Pilpres. Tapi anggotanya, bebas mau memilih Jokowi apa Prabowo. Karena itulah NU yang umatnya mayoritas dukung Capres No. 01, banyak pula yang dukung Capres No. 02. Begitu pula sebaliknya. Muhammadiyah yang kelihatannya pro Prabowo, umatnya juga tak sedikit yang njepluk (keluar) dukung Jokowi.

Politisasi dalam rumahtanga juga terjadi pada keluarga Mahmudi, di Surabaya. Suami yang bagian dari kaum sarungan, beda pilihan Capres dengan bininya. Mahmudi dukung Jokowi, Fadilah mendukung Prabowo. Sebagai suami sering Mahmudi menyarankan agar istrinya dukung Jokowi juga. “Kamu dukung Prabowo seperti apa, nggak bakalan dijadikan mentrinya,” kata Mahmudi.

Fadilah yang Muhammadiyah, mungkin juga anggota Aisiyah, menolak saran suami. Justru dia balik meminta Mahmudi mengubah dukungan ke Capres No. 02. Orangnya tegas, jika terpilih harga daging akan diturunkan sampai 70 persen. “Sampeyan bela Jokowi juga nggak bakalan ditunjuk jadi Dubes apa komisaris BUMN,” kata istrinya.

Karena sama-sama jadi pendukung militan, Fadilah tak pernah berhasil mengajak suami coblos Prabowo. Begitu pula Mahmudi, selalu gagal mengajak istrinya mencoblos Jokowi. Tapi di rumah, dia sendiri selalu sukses mencoblos istrinya di malam hari. Tak perlu bawa surat model C-6, dan tak perlu pula jarinya dicelup tinta pasca mencoblos.

Beda pilihan itu berdampak pula pada perbedaan paham selama ini. Jika ada tetangga meninggal, Mahmudi suka ikut tahlilan dan Yasinan, meski istri melarang. Pulang bawa besekan, istri tak mau ikut makan nasi slametan tersebut. Salat subuh pun, Fadilah tak mau makmum sama suami, karena Mahmudi pakai qunut.

Paling ironis, ketika kakek Mahmudi meninggal, Fadilah hanya takziah sebentar. Tapi malamnya tak mau datang ikut tahlilan. Maka ketika anak dan mantu almarhum kumpul bersama, hanya istri Mahmudi yang tidak nampak. “Jan mantu ora lumrah,” kata kakak-kakak Mahmudi.

Lama-lama Mahmudi tidak nyaman hidup berdampingan dengan Fadilah. Bagaimana mungkin, sebagai imam dalam keluarga, malah diempreti (tak digubris) oleh istri sendiri. Akhirnya, ilang-ilangan babon siji (baca: terpaksa korbankan istri), bebeapa hari sebelum Pilpres 17 April Mahmudi menggugat cerai ke Pengadilan Agama Surabaya. “Sebagai imam dalam rumahtangga kok disepelekan,” kata Mahmudi pada petugas pendaftar.

Bagaimana kalau jadi Imam Samodra (teroris) ya Cak?

Pos Kota

KOMENTAR FACEBOOK