Seberapa Pantaskah “Quick Count” untuk Dipercaya?

Ilustrasi @Kompas

Oleh Cut Famelia*

Hasil dari pesta demokrasi Pemilu 17 April 2019 lalu di Indonesia masih dalam perdebatan panas, baik oleh peserta maupun pemilih. Siapakah kandidat pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang akan memotori pergerakan Indonesia selama lima tahun mendatang masih menjadi “teka-teki”, meski “kisi-kisi”-nya sudah ada, yaitu hasil perhitungan cepat atau “quick count” (QC) yang dilakukan oleh sedikitnya tujuh lembaga dari 40 lembaga survei yang lolos verifikasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI untuk melakukan QC pada pemilu Rabu lalu.

Ketujuh lembaga tersebut, yaitu Litbang Kompas, Indobarometer, Charta Politika, Poltracking Indonesia, Indikator Politik Indonesia, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), dan LSI Denny JA (BBC News Indonesia, 17 April 2019). Walaupun semua lembaga ini sudah terverifikasi, mengapa gelombang kontroversi terhadap prediksi pemenang pemilu masih terus menggebu? Jawabannya sederhana saja, karena salah satu kubu dari kedua kandidat tidak percaya dengan hasil QC yang beredar. Mereka menganggap hasil QC ini sebuah kebohongan. Mereka punya hasil QC internal yang berbeda dengan hasil QC dari ketujuh lembaga di atas. Ada juga yang berpendapat bahwa suara rakyat tidak dapat diwakili oleh hasil QC.

Sebelum dikupas lebih lanjut mengapa hasil QC bisa berbeda satu sama lain, mari ditelisik secara ringkas, apa itu QC? Sebagaimana namanya, QC ibarat mesin penghitung yang bekerja untuk memprediksi siapa yang akan menang pada pemilu hanya dengan menghitung jumlah suara sah dari sejumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS) saja, bukan semua TPS yang tersebar di seluruh penjuru republik ini. QC mengambil suara sah dari sebagian TPS (sampel TPS) yang dapat menggambarkan karakteristik suara sah dari seluruh TPS (populasi TPS) yang berpartisipasi dalam pemilu.

Singkatnya, hanya dengan melihat karakteristik sampel suara pemilih, QC mampu menggambarkan karakteristik populasi suara pemilih. Dengan demikian, semakin besar sampel yang diambil maka akan semakin akurat prediksi terhadap populasi. Analogi sederhananya, ketika Anda hendak mengetahui apakah air teh yang Anda racik di sebuah gelas terasa manis atau tidak, maka Anda harus mengaduk gulanya dengan merata dan Anda bisa mengetahui rasa air tehnya manis atau tidak hanya dengan mencicipinya sebanyak satu sendok saja.

Lantas, bagaimana cara memilih sampel yang sedikit itu sehingga dapat dipercaya mewakili atau merepresentasikan kondisi sebuah populasi? QC menggunakan metode “random sampling” (pengambilan sampel secara acak) yang memiliki beberapa turunan. Dua di antaranya ialah “Stratified Random Sampling” (pengambilan sampel acak dari populasi yang memiliki strata/kelompok) dan “Systematic Random Sampling” (pengambilan sampel acak secara sistematis), seperti yang diterapkan oleh tim SMRC pada QC-nya untuk pemilu yang sangat melelahkan fisik dan emosi rakyat ini.

Berdasarkan informasi yang dipublikasikan oleh SMRC baru-baru ini, mereka mengaplikasikan Stratified Random Sampling karena wilayah pemilihan (dapil) pada pemilu ini cenderung heterogen, ada wilayah perkotaan dan ada wilayah pedesaan, di mana keduanya memiliki karakteristik pemilih yang berbeda. Jadi, sebelum sampel TPS dipilih, maka populasi TPS dikelompokkan menjadi wilayah-wilayah berdasarkan karakteristik perkotaan dan pedesaan, untuk mendapatkan sebaran sampel yang lebih merata dan representatif terhadap kondisi populasi. Setelah itu, SMRC memilih sampel TPS dari populasi TPS yang sudah “dibelah-belah” tersebut dengan memakai Systematic Random Sampling untuk memastikan bahwa jumlah TPS yang dijadikan sampel akan proporsional dengan jumlah TPS di setiap kelompok wilayah populasi.

Dengan cara kerja yang sistematis dan proporsional seperti itu, apakah hasil QC bisa dipertanggungjawabkan? Tentu bisa, asalkan pengambilan sampelnya dilakukan secara acak, bukan secara politis. Sampel yang dipilih secara politis dapat diutak-atik atau disesuaikan dengan keinginan si pembuat QC, misalnya, sampel diambil dari TPS-TPS yang diprediksi akan memberikan suara yang lebih banyak untuk salah satu kandidat.

Mesin QC memang hanya melahirkan sebuah prediksi dari sampel terhadap populasi. Namun, prediksi yang diproduksi oleh QC dengan menggunakan metodologi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan sudah semestinya memiliki level akurasi yang cukup tinggi sehingga hasilnya nyaris sama dengan hasil rekapitulasi suara total atau real count. Hal ini sudah terbukti secara nyata. Di Indonesia, QC sudah dimulai sejak Pemilu 1999 dengan mekanisme yang sedikit berbeda. Hasil QC yang diluncurkan oleh tujuh lembaga survei pada Pemilu 2014 lalu nyaris sama dengan real count yang diumumkan oleh KPU RI, meskipun dua lembaga survei lainnya punya hasil QC yang bertolak belakang sehingga kredibilitasnya dipertanyakan. Jika semua lembaga/individu melakukan QC dengan metodologi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan, maka akan sulit menemukan perbedaan yang signifikan pada hasil QC masing-masing lembaga/individu tersebut.

Oleh karenanya, jika muncul perbedaan hasil QC yang signifikan, ada empat faktor yang mungkin menjadi penyebabnya. Pertama, pembuat QC tidak punya pemahaman yang baik tentang sampling method (metode pengambilan sampel) sehingga sampel yang dipilih tidak cukup mewakili karakteristik populasi. Kedua, pembuat QC cukup paham dengan sampling method, tetapi implementasi teknis di lapangannya kacau balau sehingga data suara yang diperoleh dari TPS tidak akurat, atau terjadi system error ketika data tersebut diinput ke dalam sistem komputerisasi QC. Ketiga, pembuat QC tidak paham tentang sampling method dan tidak pula terjun ke lapangan, tidak punya kerangka sampel TPS, serta tidak punya relawan dan pusat data, alhasil, data yang dipresentasikan kepada publik hanya fiktif belaka. Terakhir, pembuat QC sangat paham tentang metodologi dan teknis di lapangan tetapi data riil yang diperoleh dari TPS diubah-ubah sesuai selera. (M. Qodari, 2014)

Pertanyaan berikutnya, apa sebenarnya manfaat dari hasil prediksi QC? Keberadaan QC tentu saja bukan sekadar untuk menyuguhi hasil prediksi siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam bentuk persentase perolehan suara. Lebih dari itu, QC dapat menjadi alat kontrol publik terhadap pemilu untuk mengawasi dan mendeteksi secara dini jika terjadi kecurangan atau pelanggaran dalam proses pemungutan dan perhitungan suara oleh penyelenggara pemilu. Menurut Estok, M., N. Nevitte dan G. Cowan (2000), QC sudah berkembang dan teruji secara komprehensif sehingga kini dianggap sebagai mekanisme terbaik yang dapat dilakukan oleh masyarakat sipil untuk mengawasi pemilu. Perlawanan dan penekanan tingkat pelanggaran dalam pemilu dengan menggunakan jasa QC sudah terbukti di sejumlah negera, contohnya, di Filipina (1986), Chili (1988), Peru (2000), dan Georgia (2003), dan pertanda lahirnya “demokrasi baru” yang berhasil menumbangkan pemerintahan otoriter di masing-masing negara ini. (Saiful Mahdi, 2017).

Meskipun QC yang dilakukan dengan benar akan melahirkan prediksi yang akurat, siapa pun kandidat yang lebih unggul versi QC tidak perlu terburu-buru untuk mendeklarasikan kemenangannya. QC diluncurkan ke publik untuk menjawab rasa penasaran rakyat selaku pemilih, sekaligus, yang paling penting, menjadi alat supervisi rakyat untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya kecurangan dalam proses pemungutan suara atau perhitungan suara (real count) yang dilakukan oleh KPU RI.

Lalu, bagaimana cara memahami sebuah QC dengan baik dan benar? Jawabannya tentu saja, bacalah QC dengan kacamata ilmiah, bukan kacamata politis. Jika Anda ragu dengan kebenaran dari hasil sebuah QC, maka lagi-lagi, perdebatkanlah secara ilmiah, bukan secara politis. Pertanyakan data dan metodologi yang digunakan, juga sumber daya manusianya. Jika secara ilmiah sebuah QC terbukti benar dan dapat dipertanggungjawabkan tetapi Anda masih dalam keraguan, mungkin Anda perlu memahami ucapan A. C. Nielsen Jr. berikut ini. “Jika Anda tidak percaya dengan Random Sampling, maka ketika Anda ingin memeriksa darah Anda, mintalah dokter untuk mengambil seluruh darah yang ada di tubuh Anda”.

Pertanyaan terakhir, seberapa pantaskah quick count untuk dipercaya? Sejauh mana Anda memahami ucapan Nielsen di atas, sejauh itulah quick qount pantas Anda percayai.[]

Penulis adalah Data Scientist – Fulbright Scholar dan Research and Publication Manager – The Aceh Institute

KOMENTAR FACEBOOK