Santri Diminta Lebih Optimis di Era Milenium Baru

ACEHTREND.COM,Banda Aceh- Era milenium baru akan membagi manusia ke dalam dua segmen, yaitu pemenang dan pecundang. Yang akan menjadi pemenang di era ini adalah manusia kuat. Manusia kuat yang dimaksud bukan dalam perspektif hukum rimba — yang kuat memangsa yang lemah — tetapi manusia kuat dalam perspektif ini adalah manusia yang berkarakter, intelek dan bermentalitas paripurna.

Santri sebagai salah satu komunitas terpelajar diyakini berpeluang menjadi manusia kuat di era ini karena itu santri diminta terus merawat optimisme bersamaan dengan ikhtiar yang terus menerus meningkatkan kapasitas diri.

Pernyataan tersebut di atas disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Usamah El-Madny, dalam pidatonya saat membuka Seminar Internasional dengan Thema Achieving Quality Education in The New Milenium atau Mencapai Pendidikan Berkualitas di Era Milenium Baru yang dilaksanakan di Komplek Dayah Darul Ihsan Krung Kalee, Aceh, Besar, Senin (22/4/2019)

Menurut Usamah harapannya itu bukan sebatas menyemangati dan memotivasi para santri Aceh, tetapi merupakan fakta nyata di lapangan bahwa santri diyakini sangat soiap memenangi era yang sangat kompetitif ini.

Mantan Sekretaris Kanreg BKN Banda Aceh ini menegaskan bahwa dayah dan santri memiliki prasyarat memenangkan pertarungan di era melinium ini.

Prasyarat dimaksud adalah tradisi pendidikan karakter yang berkesinambungan di dayah dan rata-rata dengan pola pendidikan karakter yang diterapkan di dayah para santri telah dibekali dan memiliki daya tahan dan daya juang yang tangguh untuk memenangi tantangan zaman. Menurut Usamah, dayah dan para santrinya telah teruji oleh zaman untuk tetap eksis dan selalu optimis menyambut berbagai tantangan waktu.

Karenanya, Usamah berharap para santri harus selalu siap dan update ketika berhadapan dengan berbagai tantangan dan perubahan era. Di era milenium baru ini dipastikan santri akan selalu dihadapkan pada perubahan nilai-nilai lama kepada nilai-nilai baru, seperti kebudayaan asing yang saat ini sangat mudah menggerogoti masyarakat kita.

“Di era milenium baru ini, tanpa sadar negeri kita menjadi halaman belakang negeri maju untuk membuang budaya ropngsokan mereka”, kata Usamah di hadapan ratusan santri dan peserta seminar.

Usamah berharap dengan berbagai ikhtiar revolusi mental yang telah lama dan terus digiatkan di dayah-dayah, para santri dengan segenap optimisme yang mereka miliki diharapkan menjadi petarung dan pemenang di era penuh tantangan ini.

Terkait dengan kemajuan teknologi informasi yang dikhawatirkan akan mempengaruhi cara berpikir dan bertindak para santi di era milrnium baru ini, Usamah, mengatakan hal itu tidak perlu dikhawatirkan.

Menurut Usamah dengan proses revolusi mental yang terus menyebar di kalangan santri kekhawatiran itu tidak terlalu merisaukan. Karena, tambah Usamah, proses pembelajaran di dayah-dayah adalah bagian tidak terpisahkan dari redesain mentalitas cara berpikir, cara merasa, dan mempercaya yang ideal sesuai dengan tatanan Islam. “Insya Allah, pola pendidikan di dayah akan melahirkan santri yang sehat, cerdas dan berkepribadian.”

Seminar sehari yang dilaksanakan Dayah darul Ihsan Krung Kalee itu menghadirkan pembicara dari dalam dan luar negeri. Pembicara dari luar negeri yaitu Saikh Abu Muaz Muhammad Abdel Hay Al Owaina, Mesir, serta Evi Gbazali, Dr. Hj. Siti Fatimah, dan Dr. Zulkifli Ali dari Malaysia. Sedangkan dari dalam negeri adalah Tgk. Muhammad Faisal u
yang juga Rais Amm Dayah darul Ihsan Krueng Kalee.

Saat membuka Seminar tersebut, Kadis Pendidikan Dayah Aceh meminta agar rekomendasi dari seminar ini disampaikan kepada Pemerintah Aceh sebagai bagian dari bahan pertimbangan dalam pengambilan pendidikan di sektor pendidikan di Aceh. []

KOMENTAR FACEBOOK