Banda Aceh, Kota Cinta, Kota Pusaka

Banda Aceh bukan sekedar ibukota Propinsi. Kota yang telah berusia 814 tahun ini adalah kota pusaka yang dibangun dengan semangat cinta untuk memberi. Di tangan Aminullah, kita ini dibangun dengan pendekatan religi, sebagai bukti kecintaan pada Ilahi Rabbi.

Walikota Banda Aceh Aminullah Usman dan Wakilnya Zainal Arifin, serta kompatriot mereka yaitu Ketua DPRK Banda Aceh, Arif Fadillah, adalah tiga serangkai kota bandar ini. Mereka, secara terpisah dan bersama, selalu saja menyampaikan pernyataan yang memunculkan ghirah pembangunan. Dalam beberapa tahun ini saja, nyaris tidak ada pernyataan masing-masing mereka yang memunculkan kontroversi. Semua saling mendukung.

Ketiganya, beserta komponen masing-masing berhasil membangun Banda Aceh menjadi kawasan kosmopolit yang tetap menjadikan Islam sebagai ruh pembangunan. Hal ini bukan sekedar kalimat pujian semata, tapi terlihat dari kegiatan sehari-hari pelaksanaan pemerintahnya. Mulai dari pelayanan publik kian bagus, rateep seuribee yang semakin mendapatkan tempat di Kutaraja, hingga pelaksanaan penegakan syariat Islam yang tetap saja dilakukan. Bahkan beberapa waktu lalu, Banda Aceh juga menggelar Maulid Akbar dalam rangka memperingati Kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW. Maulid ini menjadi yang terbesar di seluruh Aceh dalam beberapa tahun ke belakang. Bahkan dikunjungi oleh pengunjung dari Turki dan beberapa negara tetangga.

Banda Aceh di Mata Penghuninya

Imran (23) perantau asal Pidie, yang kini sedang menempuh studi di UIN Ar Raniry, Rabu (17/4/2019) mengatakan sejak SMP dia sudah hijrah ke Banda Aceh. Menjadi pelajar yang menempuh studi di Kutaraja. Sejak dulu hingga kini, hal utama yang menjadi daya tarik Banda Aceh adalah, warganya yang tidak rasis dan bersahabat dengan pendatang.

“Belasan tahun sudah saya di sini, sampai sekarang tidak seorang pun warga asli di sini yang menanyakan kampung halaman saya. Ini membuktikan bahwa warga Kota Banda Aceh terbuka bagi siapa saja. Sejauh kita bisa harmoni dengan mereka,” ujar Imran yang kini sedang berjuang menyelesaikan studinya si kampus jantong hatee rakyat Aceh.

Hal menarik pernah disampaikan oleh Ketua Pemuda Gampong Tibang, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Lelaki yang akrab disapa Lan, yang sehari bekerja sebagai petani tambak. Ia mengatakan Tibang adalah salah satu gampong yang paling banyak dihuni oleh perantau dari berbagai daerah di Aceh. Bagi warga Tibang, para perantau itu adalah saudara. Tidak ada perbedaan antara penduduk asli dengan pendatang.

“Tibang seperti terminal. Silih berganti perantau masuk. Baik yang bekerja maupun mahasiswa. Banyak himpunan mahasiswa membuka asrama di sini. Termasuk Himabir. Satu-satunya syarat tinggal di sini hanyalah saling menghormati dan menjaga kerukunan,” ujar Lan, pada medio Maret 2019.

Kota Pusaka, Kota Sejarah
Banda Aceh dibangun dari bekas pertapakan ibukota Kerajaan Aceh Darussalam, yang pernah dikuasai oleh penjajah Belanda, meskipun mereka tak benar-benar mampu berkuasa atas Aceh secara 100 persen. Ragam cagar budaya yang masih tersisa di sini, menunjukkan fakta itu.

Gunongan dan taman Putro Phang, adalah bukti utama tentang kemegahan Aceh di era kesultanan Aceh Darussalam. Juga berbagai tinggalan nisan di se antero kota yang kini semakin rajin digali dan didokumentasikan oleh komunitas pecinta sejarah seperti Masyarat Pecinta Sejarah Aceh (Mapesa). Dari nisan-nisan itu, para peneliti berhasil mengungkap berbagai fakta baru yang pernah terkubur ratusan tahun di bawah tanah.

Banda Aceh juga memiliki Masjid Raya Baiturahman, yang merupakan situs penting di Kutaraja, yang menjadi bukti kebesaran Aceh di masa lalu. Mesjid yang awalnya bergaya khas Nusantara, setelah dibumihanguskan oleh Belanda, kemudian dibangun ulang dengan tembok dan dipasangkan kubah. Di halaman mesjid itu pula, seorang pejabat militer Belanda, Jenderal Kohler, menemui ajalnya setelah terkena tembakan dari sniper Aceh.

Tak jauh dari Mesjid Raya Baiturahman, perkuburan yang dikenal dengan nama Kerkof, masih terawat dengan baik. Ratusan pusara serdadu Belanda, baik yang berasal dari Eropa maupun tentara berbayar asal Ambon dan Jawa, dirawat dengan sangat baik. Di dekat Kerkof Peucut itu, dibangun pula Museum Tsunami Aceh, yang rancangan gedungnya dibuat oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Museum itu menyimpan artefak tsunami Aceh yang meluluhkantakkan daratan Banda Aceh dan beberapa kabupaten di Aceh pada Minggu, 26 Desember 2004.

Ke berbagai situs itulah, pada Februari 2019, Kausar, siswa kelas 1 SMA 2 Bireuen, berdiwana. Ia yang datang pertama kali ke Banda Aceh dalam rangka melakukan check up kesehatan, sangat terkagum-kagum dengan kota yang masih menyimpan berbagai tinggalan sejarah Aceh.

Belia berkulit eksotis khas Aceh pesisir itu mengaku sangat bangga kepada indatunya, ketika melihat “catatan” sejarah melalui berbagai situs penting di Kutaraja.

“Baru kali ini saya melihat langsung Mesjid Raya, Kerkof, Museum Tsunami, Gunongan, Taman Putro Phang dengan Pinto Khopnya, serta berbagai situs lainnya. Kita ini benar-benar kaya dengan tinggalan sejarah kebesaran Aceh masa lalu,” ujar Kausar kepada aceHTrend.

Menurut Kausar, Banda Aceh adalah kota pusaka. Harus dijaga oleh semua pihak, agar tinggalan sejarahnya terus terawat.

“Mungkin ke depan, kanal-kanal yang pernah dibangun di masa Belanda harus dihidupkan lagi. Juga Krueng Daroy yang membelah kota ini, dibersihkan kembali, agar diorama masa lalu semakin kental, berpadu dengan kemajuan era sekarang. Perpaduannya akan menjadikan Banda Aceh semakin bagus,” ujar lajang pecinta sejarah tersebut.

Komitmen Walikota dan Ketua DPRK

Pada rapat paripurna istimewa HUT Kota Banda Aceh ke-814, Di ruang rapat DPRK Banda Aceh, Senin (22/4/2019), Walikota Banda Aceh Aminullah Usman mengatakan bahwa dirinya akan terus bekerja keras membangun kota ini untuk seluruh penghuninya. Sebuah kota yang membangkitkan cinta di dalam hati seluruh warga. Kota yang ramah, nyaman dan aman bagi siapa saja.

Menurutnya rasa memiliki sangat penting, pertama untuk menjaga bagaimana syariat Islam berjalan dengan baik. Kemudian menjaga keamanan dan kenyamanan bagi warga. Menjaga kebersihan, ketertiban kota dan selalu hidup rukun dengan sesama. Serta terciptanya kesejahteraan bagi warga kota.

“Jadi ini semua di samping kerja keras dari seluruh aparatur pemerintah kota dengan dukungan dari legislatif kita harapkan masyarakat juga bahu membahu bersama kita bangun kota ini, mewujudkan Banda Aceh gemilang dalam bingkai syariah,” tutur Aminullah Usman.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua DPRK Banda Aceh Arif Fadillah. Politikus Partai Demokrat itu mengatakan Banda Aceh harus dijaga bersama. Juga kerjasama harmonis antara eksekutif dan legislatif, dalam rangka membangun semangat kebersamaan untuk membangun Banda Aceh.

“Kalau bukan kita menjaga siapa lagi yang bakal menjaga. Jadi sinkronisasi antara eksekutif dan legislatif dan warganya ini yang kita harapkan semoga kota Banda Aceh terus berjaya,” ujar Arif Fadillah.[]

Foto: Mesjid Raya Baiturahman, Banda Aceh. Dikutip dari akun Steemit radiosbsfm.

KOMENTAR FACEBOOK