Kegigihan Bulken Peles, Meski Putus Sekolah tapi Kini Punya Minimarket Sendiri

Bulken Peles @dok pribadi

Oleh Aidil Ridhwan*

Suaranya serak-serak. Postur tubuhnya agak kurusan membuat iba setiap mata yang memandang pria di depan saya ini. Tampilannya terlihat sederhana, tetapi modis, modern, milenial.

“Yeah, gini Dil aktivitas harian saya,” ujarnya menjawab pertanyaanku.

Hingga detik ini, dari tadi, ia tak pernah tetap duduk di kursinya itu. Karena harus keluar-masuk mini market, melayani para pelanggan. Bulkaini, adalah nama pria berumur 24 ini. Bulken Peles, nama kerennya. Kami akrab menyapanya: Ken.

Ia merupakan salah seorang pemuda sukses asal Pante Garot. Mini Market yang dikelolanya saat ini mampu menghasilkan omset jutaan rupiah perbulan.

Melihat trackrecord-nya, Bulken bukanlah anak yang suskes dalam dunia pendidikan. Bahkan, ketika sedang seru-serunya masa bersekolah SMP, ia memilih putus dari sekolah tersebut. Baginya, mengambil tindakan itu bukanlah tak beralasan.

Saya emang gak suka sekolah, Dil, ujarnya jujur.

“Makanya waktu itu saya langsung kepengin nyari uang. Lagian untuk membantu orang tua juga sih,” lanjutnya. Asap rokok sesekali mengepul dari mulutnya.

Sekeluarnya dari SMP, tak buang-buang kesempatan, Bulken langsung ikut saudaranya bekerja jualan telur ayam. Berada di Kota Sigli. Tak betah di situ, setelah tujuh bulan bekerja, kemudian ia mengadu nasibnya di toko jual rempah-rempah, juga di Kota Sigli.

Pilihannya juga tak tepat, setelah satu setengah tahun di sana, ia pun pindah lagi, bekerja di doorsmeer, di Desa Pante Garot. Perjalanannya semakin rumit. Tak lama di doorsmeer, ia pindah lagi, mengadu nasib ke luar daerah: Lhokseumawe. Di sana, ia mencoba bekerja di warung kopi.

Cuma bertahan sebulan di Kota Petrodolar itu, tiba-tiba ia ditelepon seseorang menawarkan kerja untuknya. Ia diminta bekerja di toko grosir Cahaya Family, Sigli. Setelah mantap, ia pun mengiyakan ajakan bos tersebut.

Dari situlah ia belajar banyak. Baginya, belajar tak hanya di dalam ruangan. Bekerja sama orang lain juga bisa menjadi ilmu bagi setiap yang melakoninya. Selama di sana, ia sangat menikmati profesi barunya itu.

Setelah beberapa tahun kemudian, ia minta izin kepada bosnya untuk membuka toko sendiri. Awalnya ia agak takut mengabari hal tersebut kepada bos. Namun setelah dijelaskan, ternyata bos sangat merespons, bahkan mengapreasi inisiatifnya tersebut. Tak hanya itu, ia juga dimodali oleh bosnya itu.

Awal merintis tokonya, Bulken agak hampir kecewa dengan realita yang ia terima. Hanya bermodalkan 900 ribu di sakunya, ia menyewa salah satu toko di Desa Pante Garot.

“Itu saya ngutang lagi 100 ribu rupiah. Awal susah banget, Dil. Bahkan pernah tutup dua minggu,” keluhnya. Saya menyimak dengan saksama.

Pemasokan barang awal, ia harus mengutang kepada bosnya, berjumlah Rp4,5 juta rupiah. Dengan berkat doa dan usaha, semakin dijalani, toko miliknya semakin berkembang.

“Bahkan saya pernah masokin barang 100 jutaan. Ngutang juga sama bos,” ujarnya. Raut mukanya kecut, mengingat memori masa-masa pedih dulu.

Cuma karena tajak buet ateuh gareh, Dil, makanya geubri berkah le Allah,”

“Dan alhamdulillah bos pih brat that geupeucaya keulon,” tambahnya.

Baginya, dalam hal bekerja sangatlah diperlukan adanya amanah. Kepercayaan dari bos adalah awal kegemilangan bagi paka pekerja. Kepercayaan sangatlah penting.

Itulah dasar yang benar dipegang teguh olehnya. Berkat kegigihan dan kepercayaanya itu, kini ia tinggal menikmati hasil jerih payahnya, sembari tetap meningkatnya pelayanan tokonya. Tanpa harus bersekolah manajemen, Bulken mampu berdikari, dan menghasilkan omset 5 jutaan perbulannya.

Saat ini, minimarket yang diberi nama Bulken Market itu dikelolanya bersama sang adik, Wahyu (19). Jadwal operasionalnya 24 jam. Jika Anda melewati jalan utama Sigli-Garot, mini marketnya akan selalu standby dan menyapa Anda.

“Ka hana tajak sikula, hana peu-peu. Tapi harus beu sunggoh bak ta keurija,” ujarnya sebagai nasihat bagi adik-adik yang putus sekolah.

“Hai yang ka teunte sit utama that doa dari ureung syik teuh beuna sabe,” tutupnya.

Hari semakin sore, suara orang mengaji di menasah mengingatkan kami akan hampir tibanya waktu salat Maghrib. Saya pun izin pamit. Wallahu ‘alam.[]

*Aidil Ridhwan, pria bersahaja, asal Pante Garot, suka bercerita & mengabadikan momen dengan lensa

KOMENTAR FACEBOOK