“Nafi-nafi” dan Pentingnya Merawat Ingatan dalam Pengurangan Risiko Bencana

Ilustrasi tsunami

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Tsunami Aceh yang terjadi pada 26 Desember 2004 silam telah membuka ruang bagi para peneliti untuk mengkaji jejak tsunami di Aceh. Salah satu yang menarik perhatian peneliti ialah minimnya korban jiwa di Pulau Simeulue yang ternyata hanya tiga orang saat gempa 9,3 SR yang diikuti dengan tsunami 14 tahun silam itu.

Secara khusus, penelitian di Pulau Simeulue ini dilakukan oleh Dr. Alfi Rahman, M.Si, dosen FISIP dan Magister Kebencanaan Universitas Syiah Kuala. Sekaligus peneliti di Tsunami Disaster Mitigation Research Center Unsyiah.

Dalam seminar bertajuk Literasi Bencana dari Masa ke Masa yang diselenggarakan Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) dan Forum Aceh Menulis (FAMe) di Aula BPBA pada Rabu (24/4/2019), Alfi Rahman mengatakan cerita turun-temurun tentang tsunami di Simeulue yang dalam bahasa lokal disebut smong telah menyelamatkan masyarakat Simeulue saat bencana besar itu.

“Di Simeulu pernah terjadi tsunami pada tahun 1907 yang mereka sebut sebagai smong. Cerita tentang peristiwa bencana ini terus-menerus mereka turunkan kepada anak cucunya melalui nafi-nafi atau syair sehingga gambaran mengenai peristiwa itu melekat di ingatan masyarakat Simeule. Ketika terjadi gempa besar 2004 silam mereka semua naik ke gunung untuk menyelamatkan diri,” kata Alfi.

Pesan-pesan yang disampaikan dalam nafi-nafi tersebut kata Alfi, berisi tentang kisah pengalaman nenek moyang masyarakat Simeulue pada tahun 1907. Dikisahkan gempa kuat terjadi dan orang-orang tidak bisa bergerak, kemudian air laut surut dan ikan-ikan menggelepar di pantai. Sayangnya banyak penduduk desa berlarian ke pantai untuk mengumpulkan ikan. Ketika gelombang besar datang dari laut dan mencapai daratan, orang-orang pun berteriak smong berulang kali. Namun, banyak orang yang tidak punya waktu untuk berlari ke atas bukit. Mereka menjadi korban dari keganasan smong, orang-orang dan binatang ternak tersangkut di pohon dan beberapa di antaranya terdampar di bukit yang tingginya mencapai 10-15 meter.

Dari kisah nafi-nafi tersebutlah masyarakat Simeulue belajar yang kemudian dijadikan sebagai alat mengkomunikasikan mitigasi bencana.

Smong adalah air mandimu, gempa adalah ayunan tidurmu, hujan badai adalah musikmu, guntur adalah lampumu. Begitulah penggalan nafi-nafi yang dituliskan dalam dalam Bahasa Devayan,” ujar Alfi menerjemahkan penggalan syair nafi-nafi tersebut.

Dalam nafi-nafi tersebut mengandung pesan tindakan mitigasi bencana yang bisa dilakukan ketika gempa besar terjadi, yaitu segeralah amati perubahan ketinggian air laut di pantai atau sungai. Jika Anda menemukan air surut, harap segera melarikan diri dari pantai. Kemudian bawalah beras, gula, lampu senter, pisau, korek api, dan pakaian sebagai perbekalan darurat. Ingatlah cerita ini dan sampaikan ke generasi berikutnya.

Begitulah masyarakat Simeulue mengkomunikasikan bencana melalui cerita lisan yang disebut nafi-nafi. Jauh sebelum orang mengenal istilah tsunami untuk menggambarkan air laut dengan gelombang besar yang naik ke darat, masyarakat Simeulu telah lebih dulu mengenal smong. Tinggal bagaimana cerita-cerita tentang mitigasi bencana tersebut diteruskan ke anak cucu secara terus-menerus.

Selain Alfi Rahman, seminar itu juga menghadirkan dua narasumber lain, yaitu Yarmen Dinamika selaku Wakil Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana dan penulis buku Tsunami Aceh Getarkan Dunia dan penyunting buku Tsunami Purba Aceh, dan Filolog Aceh Hermansyah, S.Th, M.Hum.

Yarmen Dinamika dalam kesempatan yang sama mengatakan, bahwa dalam konteks lokal ada beberapa istilah yang merujuk pada tsunami, yaitu gloro (Singkil), smong (Simeulue), ie beuna (Aceh Besar), dan alon buluek yang diistilahkan oleh masyarakat di pesisir utara Aceh dan ternyata berasal dari bahasa Tagalog. Yarmen menekankan pentingnya merawat ingatan tentang sebuah bencana sebagai upaya penting dari mitigasi bencana.

“Dengan cara itu paling tidak kita dan generasi berikutnya tidak akan mudah melupakan bencana besar, karena lupa merencanakan strategi pengurangan risiko bencana dalam membangun, berarti merencanakan kegagalan dan itu sengaja mengundang bencana,” ujarnya.

Menurut Yarmen, pengetahuan tentang bencana mempunyai relevansi yang sangat erat dengan keselamatan masyarakat ketika terjadi bencana berikutnya. Kondisi ini bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebuah perencanaan dan pengetahuan. Senada dengan apa yang disampaikan Alfi Rahman, Yarmen mengatakan pengetahuan tentang kebencanaan yang dimiliki masyarakat Simeulue secara turun-temurun melalui kearifan lokal bernama smong yang diwariskan melalui nandong, berhasil menyelamatkan mereka dari amukan tsunami.

Sedangkan Hermansyah yang juga ahli manuskrip mengatakan, saat terjadi bencana tsunami pada 2004 silam masyarakat seperti terkaget-kaget dengan istilah tersebut, padahal sejak tahun 1976 sudah ada media massa yang menurunkan laporan tentang bencana alam tersebut dengan istilah tsunami. Hal ini menurutnya mengindikasikan literasi masyarakat di bidang kebencanaan masih sangat rendah.

“Catatan lainnya tentang gempa yang diikuti tsunami yaitu Catatan Gempa Tanoh Abee yang terjadi pada Kamis, 9 Jumadil Aakhir 1248 H / 3 November 1832 M. Kemudian gempa pada Senin, 24 November 1833 dan Jumat, tanggal 29 September 1837. Sedangkan pada dokumen Belanda tercatat beberapa gempa besar pada Selasa, 12 Februari 1861 dan Rabu, 31 Januari 1906,” ujar Hermansyah.

Dari referensi yang ditemukan Hermansyah, terlihat jelas bahwa istilah smong, ie beuna, dan tsunami sudah pernah digunakan sebelumnya karena Aceh memang sudah berkali-kali diterpa tsunami. Hermansyah berharap agar generasi muda Aceh gemar membaca khususnya yang berhubungan dengan kebencanaan karena orang Aceh dulunya memang gemar membaca naskah-naskah yang biasanya ditulis dalam catatan-catan kecil.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK