Aceh Pernah Alami Tsunami Kembar Tiga dalam Kurun Satu Abad

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Setiap tanggal 26 April, Badan Nasional Penanggulangan Bencana memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana. Peringatan itu mulai dicanangkan sejak 26 April 2017. Tahun ini tema yang diangkat, yakni Perempuan sebagai Guru Kesiapsiagaan Bencana, Rumah Menjadi Sekolahnya.

Dua hari sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) bekerja sama dengan Forum Aceh Menulis (FAMe) mengadakan seminar bertajuk Literasi Bencana dari Masa ke Masa untuk memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana di Aceh yang berlangsung di Aula BPBA.

Seminar ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu akademisi Unsyiah Dr. Alfi Rahman, M.Si, akademisi UIN Ar-Raniry Hermansyah, S.Th, M.Hum, dan Wakil Forum Pengurangan Risiko Bencana sekaligus Pembina FAMe Yarmen Dinamika.

Baca: “Nafi-nafi” dan Pentingnya Merawat Ingatan dalam Pengurangan Risiko Bencana

Yarmen dalam paparan materinya mengatakan, jejak tsunami purba (paleotsunami) di Aceh tercatat telah terjadi sejak 7.400 tahun lalu. Jejak itu ditemukan setelah peneliti melakukan penelitian di Guha Ek Leuntie di Gampong Meunasah Lhok, Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar. Kawasan itu sekarang telah ditetapkan sebagai Geopark Tsunami Aceh. Bahkan kata dia, di Aceh pernah terjadi tsunami “kembar” tiga dalam kurun waktu satu abad. Yaitu, peristiwa tsunami yang terjadi dalam rentang waktu berdekatan.

“Di Aceh pernah terjadi tiga kali tsunami dalam satu abad, yaitu pada tahun 1907, 2004, dan 2005 di Simeulue dan Pulau Banyak, Singkil. Tsunami kembar saja langka, apalagi kembar tiga, tapi itu terjadi di Aceh,” ujar penyunting buku Smong Purba yang ditulis Teuku Ahmad Dadek, Murizal Hamzah, dan Hermansyah itu.

Oleh karena itu, di Aceh punya banyak kosakata tentang tsunami seperti smong, gloro, ie beuna, dan alon buluek. Ini mengindikasikan bahwa peristiwa tsunami sudah sering terjadi di Aceh, tapi dikenal dengan nama lokal yang beragam.

Sebagai daerah yang berada di ring of fire atau cincin api, Aceh tidak bisa dianggap enteng terhadap masalah bencana. Sebab itu perlu berbagai upaya dilakukan untuk melakukan mitigasi bencana. Salah satunya dengan merawat ingatan tentang bencana bahwa kejadian serupa bisa saja terjadi lagi di Aceh.

Beruntung ingatan tsunami tahun 1907 itu diingat oleh masyarakat Simeulue dengan kata smong yang diwariskan melalui nandong sehingga mereka terselamatkan dari peristiwa tsunami pada tahun 2004. Pengetahuan seperti inilah yang harus dijaga untuk kita yang berada di daerah yang mempunyai potensi tinggi terhadap tsunami.

“Wariskan pengetahuan tentang mitigasi bencana kepada generasi setelah kita antara lain dengan cara menuliskannya. Ingat pesan Ali bin Abi Thalib: bingkailah ilmu dengan cara menuliskannya. Maka, kembangkanlah literasi kebencanaan,” kata Yarmen.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK