Bersihkan Penyakit Batin Menyambut Ramadan

Ilustrasi

Dalam hitungan beberapa hari ke depan, bulan suci Ramadan yang di dalamnya penuh rahmat, berkah, dan pengampunan dari Allah Swt akan segera menemui umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Setiap muslim yang beriman kepada Allah, pasti akan menyambut bulan suci ini dengan gembira dan penuh suka cita, karena Ramadan merupakan bulan yang sangat ditunggu-tunggu untuk bisa meraih pahala yang tak terhingga dari berbagai ibadah dan amal saleh yang dikerjakan.

Layaknya kedatangan tamu istimewa yang akan menemui kita, maka sebagai tuan rumah yang baik kita harus melakukan sejumlah persiapan penting sejak dini, terutama menjauhi berbagai penyakit batin dan melatih diri untuk menghindari segala hal yang sangat terlarang nanti saat menjalani puasa Ramadan.

Demikian antara lain disampaikan Ketua Umum DPP Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh, Tgk Bustamam Usman, MA saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Kantor LKBN Antara Biro Aceh, di Lampineung, Banda Aceh, Rabu malam (24/04/2019).

“Ramadan adalah tamu istimewa yang akan segera datang. Persiapan diri sebelum kedatangannya merupakan sebuah kemestian. Pastikan diri kita sebelum memasuki Ramadan hati ini sudah bersih dari penyakit-penyakitnya batin. Jangan sampai kita berpuasa masih memendam penyakit hati, karena akan merusak nilai pahala puasa bahkan menghilangkannya‎,” ujar Tgk Bustamam Usman.

Anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh ini menyebutkan, hakikat Ramadan yang di dalamnya diperintahkan berpuasa selama satu bulan penuh, sebenarnya adalah untuk membersihkan jiwa dan hati dari segala penyakit batin‎, yang pada akhirnya akan memperoleh penghargaan tertinggi dari Allah dengan predikat takwa.

Di antara penyakit batin tersebut adalah iri, dengki, hasad, tamak, kikir, angkuh, sombong, takabbur, dan riya,‎ serta berbagai sifat-sifat kebinatangan lainnya yang ada pada diri manusia. Penyakit ini bisa menyerang siapa pun, bahkan termasuk orang yang paling kuat ibadahnya kepada Allah, tapi jika hatinya tidak bersih maka virus penyakit batin akan menimpanya.

Puasa di bulan Ramadan menjadi obat yang dapat menghilangkan berbagai penyakit batin ini. Dengan hilangnya penyakit hati, maka kita akan menjalani hidup nyaman, tenang, dan tidak resah dalam pergaulan dengan siapa pun, karena hanya kepada Allah tujuan akhir hidup kita.

“Orang yang tidak berpenyakit hati dan batinnya, bisa memosisikan dirinya itu siapa, harus bagaimana, dan berbuat seperti apa dengan proporsional. Hidupnya tidak dituntun oleh hawa nafsu, tapi aturan dan rida Allah yang dicari. Karena itu, hilangnya penyakit hati ini merupakan bekal dari bulan Ramadan untuk sebelas bulan berikutnya hingga bertemu dengan bulan Ramadan lagi,” jelasnya.

Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry ini menjelaskan, sebelum memasuki Ramadan, umat Islam sudah bisa melakukan persiapan sejak bulan Rajab untuk sterilkan dari sifat-sifat tercela hingga berakhirnya bulan Syakban sebelum Ramadan.

“Jika kita telah lulus seleksi sebelum Ramadan di bulan Rajab dan Syakban, sehingga jiwa raga kita akan adem dan bersih luar dalam. Maka dengan ‎begitu akan kita bisa merasakan dan melaksanakan ibadah puasa pada bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan semata-mata mengharap ridha Allah, dan dosa-dosa kita yang telah berlalu akan diampuni semuanya,” terangnya.

Alumni Dayah Istiqamatuddin Darul Muarrif Lam Ateuk Aceh Besar ini juga menjelaskan, puasa itu memiliki keistimewaan dibanding amalan lainnya. Amalan lainnya akan kembali untuk manusia yaitu dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan hingga lebih dari itu. Namun tidak untuk amalan puasa. Amalan tersebut, Allah khususkan untuk diri-Nya. Sehingga pahala puasa pun bisa tak terhingga pahalanya.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabb-nya.”

“Setiap amalan akan dilipatgandakan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kebaikan yang semisal. Kemudian dikecualikan amalan puasa. Amalan puasa tidaklah dilipatgandakan seperti tadi. Amalan puasa tidak dibatasi lipatan pahalanya. Karenanya, amalan puasa akan dilipatgandakan oleh Allah hingga berlipat-lipat tanpa ada batasan bilangan,‎” jelasnya.

Kenapa bisa demikian? ‎Karena orang yang menjalani puasa berarti menjalani kesabaran. karena sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang pahala mereka tanpa batas.

Tgk. Bustamam Usman juga mengimbau agar umat Islam dalam menyambut Ramadan tahun ini untuk memperkuat dan menyambung tali silaturahmi dan saling meminta maaf atas segala salah dan khilaf, atau jika ada hati sesama muslim yang pernah tergores akibat sikap, perbuatan, atau ucapan kita menyakiti orang lain.

Sedangkan hal yang harus dihindari dalam menyambut Ramadan adalah menjauhi segala yang tidak bermanfaat untuk memperkuat iman, kepentingan ibadah dan amaliah kita di bulan suci nanti, seperti memanfaatkan hari-hari terakhir di bulan Syakban untuk bersenang-senang pergi ke laut atau tempat-tempat wisata lainnya, yang lebih akrab dengan suasana maksiat.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK