Blang Paya Dalam, “Sawah” Ilmu Pengetahuan Islam

Oleh Baihaqi*)

“Barang siapa menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya untuk menuju ke surga” (HR.At Thirmidzi)

Blang Paya Dalam, sebuah tempat di Gampong Birem Puntong, Kecamatan Langsa Baro, Kota Langsa, pada Tahun 50-an dijadikan warga setempat sebagai sawah untuk menanam padi. Maka dinamailah Blang Paya Dalam. Karena sekitar tahun 70-an aktifitas bersawah tidak ada lagi, hingga menjadi rawa (paya) yang sangat dalam ditumbuhi tumbuh-tumbuhan, semak belukar, aktifitas warga pun menjadi buntu di tempat ini, karena konflik yang melanda Aceh juga sebagai alasannya, kecuali ada sebahagian warga untuk mencuci baju, anak-anak berenang dan mencari ikan di sungai pinggiran rawa. Jadi, Blang Paya Dalam merupakan susunan dua kata majemuk yang berbeda fungsi, yakni blang (hamparan yang luas-red) dan paya dalam (rawa yang dalam).

Setelah berakhir konflik di Aceh dengan berdamainya GAM dan RI melalui MoU Helsinky, perlahan-lahan sebahagian warga mulai kembali melakukan aktifitasnya di tempat ini, dengan berkebun menanam cabai, mentimun, dan sayur-mayur lainnya, ada juga yang berburu binatang.

‎Rahmat Allah SWT, awal tahun 2012 berdiri sebuah Dayah di lokasi ini.

Dayah Bustanu Malikussaleh namanya, didirikan oleh Tgk.H.Shalahuddin Muhammad ulama muda alumnus Dayah Malikussaleh Panton Labu.

‎Berdirinya Lembaga Pendidikan Islam Dayah Bustanu Malikussaleh atas inisiatif dan rekomendasi Alm.Abu Muhammad Usman yang lebih dikenal dengan panggilan Abu Seuriget seorang ulama kharismatik di Kota Langsa, pimpinan Dayah Bustanul Mu’arif Gp.Seuriget yang merupakan orang tua dan guru beliau, juga atas inisiatif Alm Abu Ibrahim Bardan (Abu Panton) pimpinan Dayah Malikussaleh Panton Labu.

Beliau menerima dan melaksanakan dengan baik rekomendasi tersebut karena melihat animo dan antusiasme masyarakat yang sangat mendukung berdirinya sebuah Dayah, juga memotret situasi dan kondisi generasi muda yang sangat menprihatinkan dalam hal aqidah, syariat dan moral.

‎Tujuannya untuk mengajak masyarakat ke dalam prilaku yang bersyari’at dan bermazhab serta mencetak kader-kader ulama yang ta’at, berakhlak, bermazhab serta mampu berkiprah secara nyata bagi kepentingan agama dan bangsa demi terwujudnya thayyibatun Warabbun Ghafur.

‎Blang Paya Dalam, lain dulu – lain sekarang. Dulunya merupakan tempat angker bekas konflik yang melanda Aceh, tidak ramai masyarakat pergi ke sini, kini berduyun – duyun masyarakat kota langsa dan sekitarnya mengunjunginya, hingga menitipkan sang buah hati untuk meraup semua ilmu yang bermanfaat.

Dulunya tempat bagi tumbuh-tumbuhan, semak belukar dan hewan liar hidup bebas tak tersentuh tangan manusia, kini telah ditumbuhi dengan bangunan asrama dan beberapa balai tempat bagi para pengembara yang haus akan ilmu Agama.

‎Blang Paya Dalam, seyogianya adalah sawah bagi bibit padi berkualitas yang ditanam secara ikhlas serta kerja keras oleh petani guna menghasilkan hasil yang memuaskan. kini telah berubah fungsi sebagai tempat bagi menciptakan bibit-bibit manusia yang berkualitas, berilmu pengetahuan, bersyariat serta bermoral , di didik dengan rasa Ikhlas dan kerja keras agar setiap bibitnya menghasilkan amalan-amalan yang hasilnya akan dirasakan di akhirat kelak, Amiin.

*)Penulis adalah santri Dayah Bustanu Malikussaleh Ruhul Quddus Gampong Birem Puntong Kota Langsa. Peserta pelatihan jurnalistik tahun 2019 oleh Dinas Pendidikan Dayah Aceh)

KOMENTAR FACEBOOK