The Love Affair, Kate Middleton, dan Perkembangan Sinema Filipina

Sumber : Star Cinema

Kenapa orang bisa jatuh cinta berkali-kali? bahkan bagi mereka yang pernah disakiti pun bisa kembali merasakan jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Bagi neuroscientist, hal ini bisa dijelaskan secara ilmiah, hormonlah yang mengatur skenarionya. Manusia juga bisa jatuh cinta kembali tanpa harus disakiti terlebih dahulu. Ini terjadi pada mereka yang biasanya berselingkuh dengan orang lain di saat status mereka masih dalam ikatan pernikahan. Inilah yang terjadi di dalam film The Love Affair, sebuah film Filipina yang diproduksi pada tahun 2015 oleh Star Cinema. Film ini bercerita tentang  pasangan yang sudah menikah yang hubungan mereka berada di ambang perceraian setelah sang suami menemukan istrinya berselingkuh dengan sahabatnya. Dia kemudian berkonsultasi dengan seorang pengacara yang baru saja putus dengan pacarnya.

Film ini jadi menarik untuk ditonton karena dua hal, pertama adalah pemberitaan yang sedang hangat dalam minggu ini yaitu kabar bahwa Kate Middleton diselingkuhi oleh Pangeran William. Seperti yang kita bahas di atas, perselingkuhan tidak mengenal keluarga kerajaan. Siapa saja bisa terjerumus ke dalam hal yang menghancurkan rumah tangga ini. Karena jatuh cinta adalah proses kimiawi tubuh yang sulit untuk diterima oleh logika. The Love Affair disutradari oleh Nuel C. Naval, berdasarkan skenario hasil tulisan Vanessa R. Valdez. Film ini kuat secara emosi karena mengandalkan bahasa tubuh dari tokoh-tokohnya, Richard Gomez, Dawn Zulueta, dan Bea Alonzo. Di sisi lain, penonton Indonesia juga akan sangat dekat merasakan apa yang terjadi di dalam film karena budaya Asia Tenggara yang sama. Drama keluarga ini tidak berlebihan secara dialognya. Sutradara menuntut emosi penonton secara perlahan melalui keputusan untuk menentukan siapa yang benar dan salah.

Baik Tricia (Dawn Zulueta) maupun Vince (Richard Gomez) sama-sama melakukan kesalahan. Namun, Vince yang belum bisa memaafkan dosa istrinya justru terperangkap ke dalam rasa nyaman bersama Adrianne (Bea Alonzo), yang juga sedang mengalami patah hati karena mengetahui calon suaminya berselingkuh dengan seorang artis papan atas Filipina. Menurut Box office Mojo, film ini meraup penghasilan sebesar ₱170 juta di dalam negeri, setelah empat pekan pemutaran di bioskop dan menempati peringkat kedua film Filipina dengan penghasilan tertinggi (₱300 juta) yang tercatat pada tahun 2015, setelah Crazy Beautiful You.

Kedua, sinema Filipina memang sedang dalam jalurnya menuju kesuksesan di Asia Tenggara bahkan di dunia. Beberapa minggu lalu sebuah film aksi Filipina, Maria dibeli hak tayangnya oleh raksasa streaming Netflix. Film-film Filipina tidak lagi dipandang sebelah mata di dunia. Mereka terus berproses memperbaiki segala kekurangan yang ada. Filipina sebelumnya, punya masalah yang sama dengan Indonesia. Mereka sulit untuk menyaingi  film-film blockbuster Hollywood di bioskop tanah air. Klasifikasi secara ekstrem bahkan terjadi untuk film produksi tanah air, muncul istilah film indie untuk film lokal Filipina dan yang kedua tentu saja film Hollywood. Selain itu, pengkajian terhadap sinema di Filipina hanya meliputi hal-hal teknis, produksi, dan cerita. Tidak ada yang membahas masalah distribusi film, potensi ekonomi, dan daya saing film lokal dengan Hollywood (Michael Kho Lim: 2019).

Dalam empat belas tahun terakhir, filmmaker independen Filipina mulai merebak dan telah memproduksi lebih dari seratus film dari festival film independen yang bervariasi. Festival film membantu produksi film-film ini dan kemudian membuka jalur untuk menjangkau daya eksibisi film yang lebih luas. Sekarang, akademisi dan pelaku industri film di Filipina sama-sama melakukan kerja nyata untuk kemungkinan memasarkan film Filipina secara luas dan terpusat. Dalam pergaulan sinema di Asia Tenggara, penonton Indonesia masih sedikit asing dengan sinema Filipina. Kita lebih dekat dengan film-film dari Malaysia dan Thailand. Distribusi dan eksibisi film mungkin berpengaruh dalam hal ini. Film Filipina tidak diputar di bioskop-bioskop di Indonesia dan hanya beberapa festival film di Indonesia yang memutar film-film dari Filipina.

Sinema independen Filipina dulu secara tidak langsung lahir sebagai perlawanan atas situasi sosial-politik, di mana film menjadi medium social change dan reformasi politik. Darurat Militer yang dideklarasikan di Filipina pada tahun 1972 secara krusial mengubah tatanan industri film di Filipina. Sinema Filipina harus jatuh kembali setelah mengalami era Golden Age pertama mereka. Namun, setelah itu mereka bangkit kembali, era ini kemudian ditandai dengan “Rise of Filipino Avant-Garde” (Deo-Campo: 1985). Pada masa itu, banyak filmmaker Filipina mulai mentransfomasikan diri kepada industri film komersil. Meskipun itu, masih ada beberapa filmmaker yang keukeuh mengerjakan film dengan tema yang personal untuk penonton tertentu. Contohnya, film Mababangong Bangungot (Perfumed Nightmare) karya pertama Kidlat Tahimik (bapak sinema Filipina) yang berhasil memenangkan Prix de la Critique di Berlin International Film Festival 1977.

Asia Tenggara, yang dalam pemetaan film versi Hollywood adalah wilayah “dunia ketiga” mulai bangkit dan unjuk gigi. Baik itu Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Festival-festival film independen di “dunia ketiga” ini mulai menarik perhatian para kurator film kelas dunia seperti Philip Cheah. Dengan demikian, Aceh punya kesempatan untuk berperan dalam perkembangan sinema di Asia Tenggara. Aceh terletak pada posisi strategis secara geografis untuk mengembangkan perfilmannya, baik dalam hal produksi, distribusi, hingga eksibisi ke negara-negara di Asia Tenggara bahkan Asia. Bahkan tanpa harus melalui Jakarta pun, Aceh sangat mungkin untuk terlibat dalam industri film global di Asia Tenggara.

Belajar dari sinema independen Filipina yang juga pernah melewati masa konflik hingga ditetapkannya darurat militer, Aceh siap untuk menjadi gerbang lalu lalang sinema Asia. Tapi ini tidak akan terjadi jika perhatian filmmaker Aceh masih terbatas pada hal-hal yang tekstual dan teknis serta mengabaikan potensi distribusi dan eksibisi. Salah satunya dengan berpartisipasi dalam Aceh Film Festival, karena ia akan menjadi jembatan Aceh menunjukkan diri di kancah perfilman Asia Tenggara.[]

Akbar Rafsanjani, Programmer Aceh Film Festival

KOMENTAR FACEBOOK