Gerakkan Semangat Literasi Siswa, Dua Jurnalis Berbagi di SMAN 12 Banda Aceh

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Forum Aceh Menulis (FAMe) dan Muharram Journalism College mengadakan pelatihan menulis bagi 20 siswa SMA N 12 Kota Banda Aceh, Sabtu (27/4/2019).

Pelatihan ini diisi oleh dua narasumber, yaitu Ihan Nurdin dari FAMe dan Zulkarnaini Masry selaku alumnus sekolah jurnalistik Muharram Journalism College. Pelatihan ini sebagai upaya membangun semangat berliterasi di kalangan generasi milenial.

Ihan Nurdin dalam kesempatan itu mengatakan, kebiasaan menulis perlu dibangun sejak dini agar menjadi habituasi (pembiasaan) ketika mereka dewasa nanti. Apalagi kata Ihan, dengan kemudahan teknologi saat ini proses belajar tulis-menulis jadi kian mudah. Sebab, segala informasi, data, dan bahan untuk tulisan mudah didapat.

“Sekarang tinggal bagaimana meramu bahan-bahan itu menjadi tulisan yang menarik,” kata Ihan.

Dalam pelatihan itu, peserta diberikan kiat-kiat menjadi penulis berbobot, seperti ketekunan, peka terhadap berbagai realitas di sekitarnya, dan harus gemar membaca sebagai syarat mutlak dalam praktik literasi. Namun, yang paling penting bagi penulis pemula ialah keberanian menumpahkan isi kepala dalam tulisan.

“Jangan pikirkan tulisan kita jelek dan tidak ada yang baca. Karena tanpa memulai kita tidak akan pernah punya karya,” kata Ihan.

Ihan mengajak siswa untuk mengamati peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungan sehari-hari yang dianggap sepele, tetapi menarik diramu sebagai bahan tulisan. Misalnya, terkait rendahnya kepatuhan pengendara dalam berlalu-lintas atau kebiasaan individu yang membuang sampah sembarangan.

“Kualitas tulisan ditentukan oleh empat hal, yaitu bahan, ide, bahasa, dan teknik penyajiannya. Selain itu juga jangan berhenti berlatih sebab untuk menjadi penulis itu tidak bisa instan,” kata Wakil Pemimpin Redaksi aceHTrend tersebut.

Sementara itu, Zulkarnaini Masry menuturkan, pelatihan ini bagian dari membangun gerakan literasi bagi siswa. Ia mengatakan, menulis jangan menunggu waktu yang tepat, sebab, waktu yang tepat tidak akan pernah datang. Namun, setiap hari harus sediakan waktu untuk menulis walaupun hanya beberapa kalimat.

“Rumus paling gampang, tuliskan apa yang kalian pikirkan, jangan pikirkan apa yang harus kalian tulis,” kata Zul yang juga bekerja sebagai wartawan Harian Kompas itu.

Zul mengatakan, selama ini, media sosial lebih banyak diisi oleh caci maki, amarah, dan pesan penebar kebencian. Seharusnya, ujar Zul, media sosial menjadi tempat mencurahkan isi pikiran yang membangun.

Guru SMA N 12 Banda Aceh, Khairiah, selaku pendamping untuk kelompok siswa menulis menuturkan, minat siswa dalam belajar menulis karya ilmiah maupun sastra harus terus dipompa. Dia berharap, setelah pelatihan tersebut, semakin banyak karya tulis yang dihasilkan oleh siswa. Ia juga menginginkan agar pelatihan ini bisa dilakukan secara berkala.

“Selama ini banyak lomba karya tulis antarsiswa, tetapi tidak banyak yang ikut lantaran kemampuan menulis masih rendah,” ujar Khairiah.[]

KOMENTAR FACEBOOK