Pidato Kekalahan Caleg Muda

Oleh Usamah El- Madny*)

Banyak kawan kawan saya yang memutuskan bertarung dalam kontestasi Pileg 2019. Ada yang berhasil dan ada juga yang keberhasilannya tertunda .

Saya yakin semua politisi —- terutama yang muda —- pada masanya nanti akan berhasil, sepanjang yang bersangkutan terus bergiat dan merawat optimisme. Bukankah politisi itu tidak mati- mati. Mati berkali-kali, dan kembali hidup berkali kali.

Energi utama seorang politisi adalah menguasai narasi, memperjuangkan narasi yang diyakininya itu, serta tetap merawat semangat.

Memang banyak ketidakmungkinan dalam dunia politik, tapi politik itu sendiri adalah seni mengubah ketidakmungkinan menjadi kemungkinan.

Banyak politisi yang lemas setelah tidak berhasil dalam pertarungan. Tapi tidak dengan adik saya yang satu ini : Miswar Ibrahim Njong.

Dia ini politisi muda yang saya tahu punya narasi politik, dia punya peta jalan yang akan diperankannya andaikata kepercayaan rakyat itu ada. Tidak seperti kebanyakan politisi lain yang berjalan dalam “kegelapan”, meraba- raba.

Sepanjang musim pileg ini saya jarang jumpa, karena masing-masing masing-masing dengan kesibukan sendiri. Tapi yang pasti kami dalinya mendoakan kebaikan.

Yang luar biasa dari Miswar adalah daya tahan psikologisnya sebagai politisi muda, mentalnya yang membaja, dan semangatnya merawat optimisme, dan bahkan mencoba menularkan kepada para politisi lain yang senasip.

Ada rasa menyesal yang luar biasa, ketika tadi saya tahu melalui akun FB nya, bahwa hari ini ada sebuah kegiatan inspiratif yang digelarnya bersama Komunitas Kanot Bu dan saya tidak bisa hadir. Komunitas tersebut adalah sebuah komunitas yang selama ini ia geluti bersama kawan kawan nya.

Kegiatan itu diberinya nama “ Orasi Mantan Caleg”. Sebuah thema yang menggelitik dan cerdas.

Bagi saya ini adalah kegiatan inspiratif. Ini adalah tindakan jentelmen seorang mantan caleg. Baginya, ia telah berikhtiar tetapi rakyat belum bersepakat.

Seharusnya apa yang dilakukan Miswar dkk ini, juga dilakukan caleg menang.

Kalaulah Miswar dkk menyampaikan pidato kekalahan, maka yang menang pun menyampaikan pidato kemenangan. Konten dari kedua pidato itu adalah pertanggungjawaban moral sekaligus komitmen yang akan dijalankan sang politisi, setelah mereka melihat respon rakyat terhadap tawaran politik yang mereka sampaikan.

Di negeri kita, pidato semacam ini masih ada yang melihat aneh.

Padahal di negara-negara yang demokrasinya telah mapan, sebut saja Amerika Serikat, ada satu tradisi yang cukup baik terkait hal tersebut, yakni pidato kekalahan. Pihak yang kalah tanpa sungkan-sungkan menyampaikan pidato kekalahan di hadapan para pendukungnya seraya meminta maaf atas kegagalannya itu seraya tetap membesarkan hati mereka agar tetap semangat. Dan yang terpenting, memberikan dukungan kepada pihak yang menang.

Bahkan baru selesai penghitungan saja, misalnya dengan hitung cepat (quick count), pihak yang kalah segera mengangkat telepon untuk mengucapkan selamat kepada rivalnya atau pihak pemenang. Jika ada persoalan yang layak digugat, hal itu diserahkannya kepada pihak pengadilan, tanpa mengganggu ucapan selamat tadi. Artinya, budaya demokrasi yang baik –mengucapkan selamat kepada yang menang– tidak menghalanginya untuk mengajukan gugatan hukum, karena itulah mekanismenya.

Tradisi seperti inilah, yakni pidato kekalahan, yang tampaknya perlu dibudayakan di Indonesia oleh pihak-pihak yang berkompetisi. Ada beberapa keuntungan jika tradisi tersebut dibiasakan. Pertama, bisa mendinginkan suasana. Seperti diketahui bahwa jelang hari pencoblosan kompetisi antara dua pasangan capres-cawapres luar biasa panas.

Para pendukung dari kedua pasangan bahkan jauh sebelum waktu kampanye ditentukan sudah banyak terlibat dalam aksi saling serang, saling ejek, dan sebagainya. Penyebaran berita-berita hoaks, kampanye hitam, dan ujaran kebencian, terutama di media-media sosial seolah tak terbendung.

Tidak jarang pula, aksi saling serang di dunia maya tersebut terbawa pula ke dunia darat. Maka, pertentangan dan pertikaian antar kelompok-kelompok sosial di masyarakat terkadang muncul akibat beda pilihan politik. Tidak sedikit pertemanan dan persahabatan menjadi renggang hanya karena aksi dukung mendukung semacam itu.

Oleh karena itu, kalau pihak yang kalah kemudian menyampaikan pidato kekalahan yang sekaligus mengakui kekalahannya, massa pendukungnya pun tidak akan berbuat di luar batas kewajaran. Massa seringkali melihat pada apa yang diperintahkan pemimpinnya. Jika sang pemimpin legowo atas kekalahannya, pastilah massanya juga demikian.

Kedua, secara personal pidato kekalahan juga akan menunjukkan kebesaran hati dari pihak yang kalah. Publik mungkin akan memberikan apresiasi yang luar biasa jika pihak yang kalah bersedia mengakui kekalahannya secara gentle. Sebaliknya, jika yang bersangkutan tidak mau mengakui kekalahan, justru antipati yang akan muncul dari publik. Hal ini malah memberikan kerugian bagi dirinya di masa yang akan datang.

Ketiga, dari sisi demokrasi, pidato kekalahan akan dianggap sebagai pemberian pendidikan politik yang baik bagi masyarakat. Pihak yang kalah besar kemungkinan bakal dipandang sebagai sosok negarawan yang lebih mengutamakan kepentingan bersama ketimbang kepentingan diri dan kelompoknya. Ia tidak akan diposisikan sebagai pihak yang memiliki nafsu kekuasaan berlebih dan sejenisnya.

Dengan demikian, siapa pun pihak yang kalah akan mendapatkan kesempatan untuk menjadi tokoh atau pioner dalam konteks penegakan nilai demokrasi di negeri ini jika bersedia menerima kekalahan dengan menyampaikan pidato. Sebuah tradisi yang baik pastilah akan dikenang baik oleh generasi-generasi yang akan datang.

Tabik untuk Adinda Miswar, Anda telah melakukan pembelajaran dan memberikan pendidikan politik.

Bagi saya dan sejumlah kawan lainnya , Anda lah dkk lainnya yang seide pemenang sejati. Karena, Pemenang adalah Mereka yang mampu berdiri ketika jatuh dan masih tetap bertahan ketika yang lain menyerah.

Sekali lagi, selamat, Anda Politisi Muda yang hebat. []

*)Penulis adalah penikmat dunia literasi.

KOMENTAR FACEBOOK