Garis Keras Sama Seperti Kesetiaan, Bukan Hal Terlarang

Mahfud MD. (Internet)

ACEHTREND.COM, Jakarta- Jagad maya Aceh mendadak kembali panas. Para netizen, Senin (29/4/2019) membicarakan tentang pernyataan “kontroversial” Profesor Mahfud MD tentang wilayah kalahnya Joko Widodo pada Pilpres 2019, yang disebut di daerah yang menganut aliran garis keras dalam beragama.

Video yang berisi pernyataan Mahfud MD tersebut tidaklah utuh. Tapi berupa potongan video yang isinya sebagai berikut:

Kemarin itu sudah agak panas dan mungkin pembelahannya sekarang kalau lihat sebaran kemenangan ya mengingatkan kita untuk lebih sadar segera rekonsiliasi. Karena sekarang ini kemenangan Pak Jokowi ya menang dan mungkin sulit dibalik kemenangan itu dengan cara apapun

Tapi kalau lihat sebarannya di beberapa provinsi-provinsi yang agak panas, Pak Jokowi kalah. Dan itu diidentifikasi tempat kemenangan Pak Prabowo itu adalah diidentifikasi yang dulunya dianggap provinsi garis keras dalam hal agama misal Jawa Barat, Sumatera Barat, Aceh dan sebagainya, Sulawesi Selatan juga.

Saya kira rekonsiliasinya jadi lebih penting untuk menyadarkan kita bahwa bangsa ini bersatu karena kesadaran akan keberagaman dan bangsa ini hanya akan maju kalau bersatu .

Bukan hanya publik di Aceh, pernyataan Mahfud MD tersebut lebih dahulu diramaikan oleh politikus di level Nasional seperti Fadli Zon dan Dahnil Ahzar Simanjuntak. Juga Said Didu ikut memberikan komentar yang berapi-api.

Lalu seperti apa maksud sebenarnya Mahfud MD memberikan pernyataan tersebut. Lewat akun twitternya, menjawab Said Didu, Minggu (28/4/2019) Mahfud MD menulis:

“Garis keras itu sama dengan fanatik dan sama dengan kesetiaan yang tinggi. Itu bukan hal yang dilarang, itu term politik. Sama halnya dengan garis moderat, itu bukan hal yang haram,” tulis Mahfud.

“Dua-duanya boleh dan kita bisa memilih yang mana pun. Sama dengan bilang Jokowi menang di daerah PDIP, Prabowo di daerah hijau,” sambungnya.

Mahfud menegaskan bahwa istilah ‘garis keras’ adalah istilah biasa dalam ilmu politik. Dia mencontohkan Madura, yang merupakan kampung halamannya.

“Dalam term itu saya juga berasal dari daerah garis keras yaitu Madura. Madura itu sama dengan Aceh dan Bugis, disebut fanatik karena tingginya kesetiaan kepada Islam sehingga sulit ditaklukkan. Seperti halnya konservatif, progresif, garis moderat, garis keras adalah istilah-istilah yang biasa dipakai dalam ilmu politik,” jelas Mahfud.

KOMENTAR FACEBOOK