Mengembalikan Aceh yang Kosmopolit

Muhajir Juli. Doc. pribadi.

Aceh tidak dibentuk oleh nenek moyang tunggal. Bangsa ini–bila sepakat disebut sebagai bangsa– dibentuk dari asimilasi antar bangsa besar yang hadir ke tanah ini dalam rangka mencari penghidupan baru. Baik sebagai pedagang, pelarian politik, petualang, hingga migran yang mencari tanah harapan sebagai ekses dari perkembangan interaksi antar bangsa di dunia.

Dalam banyak cerita, disebutkan bila ACEH merupakan arti dari Arab, Cina, Eropa dan H(india). Walau pola terjemahan ini mengikuti kata paling mutakhir setelah perkembangam bahasa sesuai EYD, tapi setidaknya hal tersebut tidak sepenuhnya keliru.

Datanglah ke Aceh, maka kita tidak akan menemukan rupa yang seragam. Wajah-wajah orang Aceh sangatlah tidak sama. Ada yang mirip Arab, mirip Cina, bahkan ada yang mirip Belanda. Perilaku mereka juga beragam, yang bila ditilik dengan seksama, perilaku nenek moyang yang darahnya masih mengalir di tubuh mereka, masih dipraktekkan dalam keseharian, walaupun banyak yang tidak menyadarinya.

Hal ini tentu sesuatu yang patut kita syukuri, karena bangsa ini dibentuk oleh keturunan yang tidak tunggal. Mendefinisikan Aceh, sama rumitnya dengan meluruskan hoaks yang bertebaran sejak 2014 hingga saat ini.

Bila membaca sejarah tentang masa lampau Aceh, negeri ini besar justru karena perpaduan yang harmoni antar bangsa itu yang meujampu lawok dan kemudian menjadi Aceh yang kita warisi saat ini.

Saya tidak tahu kapan semua kemunduran cara berpikir orang Aceh dimulai. Banyak yang menuding bila semua kerusakan berpikir diawali oleh adu domba Cristian Snouck Hurgronje, orintalis Belanda yang sempat diagung-agungkan oleh orang Aceh di masa lampau sebagai ulama, cum cendekia besar yang dihormati. Profesor Universitas Leiden itu pun dilakap dengan Teungku Abeudo Ghafo. Orang Aceh era lampau bukan saja menyanjung provokator kebudayaan dan politik itu, tapi juga menempatkannya sebagai salah satu tokoh yang tidak boleh dikritik. Andaikan kedoknya tak terbongkar, saya meyakini, kuburnya akan diziarahi sebagai bentuk memuliakan ulama.

Semakin ke sini saya menemukan Aceh yang semakin terkotak-kotak dalam bingkai yang semakin mengecil. Bila dulu pembingkaian kebencian berpola blah no dan blah deh Seulawah serta blah deh geurute, kini kian tajam, menjadi antar kecamatan. Bila sudah bicara perbedaan, maka antara kecamatan A dan B bisa melahirkan “permusuhan”. Hal ini sangat terasa kala pemilu tiba. Dokrin sesat tentang keburukan saudara di luar kecamatan semakin kental dibahas dalam berbagai forum tidak resmi. Sehingga memunculkan pemilahan identitas politik yang kian memperlebar jarak antar saudara, hanya karena beda tempat lahir dan domisili.

Misalnya, saya ambil contoh Bireuen. Pada pileg 2019, dapil Juli-Jeumpa kembali dibicarakan, karena walaupun jumlah pemilih lebih banyak di Kecamatan Juli, tapi untuk kursi legislatif DPRK Bireuen yang jumlahnya lima kursi dari dapil itu, Juli, hanya satu kursi yang berhasil diraih oleh caleg yang berdomisili di Juli. Empat lainnya diraih oleh caleg yang berdomisili di Jeumpa.

Ribut-ribut kecil di media sosial pun terjadi. Bahwa orang Juli bodoh dan orang Jeumpa pintar. Orang Juli terpecah belah dan orang Jeumpa solid. Bahkan ada yang mengejek bahwa Juli, selain hanya memiliki nama besar, dalam politik selalu kalah. Ada-ada saja ulah “provokator”

***

Aceh semakin ke sini semakin kalah, saya kira disebabkan oleh satu hal mendasar, yaitu telah membingkai diri dalam wilayah yang sempit. Ini kemunduran peradaban. Orang Aceh yang pernah bergaul dengan masyarakat dunia, justru menjadi jumud menjadi kelas-kelas kecil yang antar satu dengan lainnya saling menyerang. Ibarat biji nangka, orang Aceh tak pernah bisa bersatu, semenjak Belanda berhasil menjejakkan kakinya di bumi Iskandar Muda.

Ini adalah pekerjaan rumah terbesar yang sedang kita hadapi. Bingkai-bingkai yang telah memisahkan kita dalam entitas-entitas kecil, bila kita telisik dengan hati yang lapang, adalah biang dari kekalahan kita selama ini dalam bergelut dalam dinamika pembangunan.

Lihatlah, selama ini, semua gagasan besar tentang pembangunan selalu gagal terwujud. Salah satu penyebabnya adalah bila yang memberikan gagasan itu adalah orang Pidie, maka ditolak oleh orang Pase. Bila yang menyampaikan gagasan adalah orang Gayo, maka akan dipeukabeeh oleh orang dari kabupaten lain. Demikian terus-menerus terjadi. Ini belum lagi konflik terpendam antara Muhammadiyah dan NU plus Perti yang telah mengakar di Aceh. Juga konflik antara PUSA dan ule balang, yang masih menyisakan dendam sejarah sampai sekarang.

Kita semua tidak akan pernah bisa memperbaiki masa lalu. Tapi kita bisa merencanakan masa depan yang gilang-gemilang.

Aceh akan mencapai kegemilangan kembali, bila saja sudah berhasil kembali sebagai bangsa yang kosmopolit dan solid secara internal. Musuh kita bukan di luar dan bukan bangsa luar. Musuh terbesar kita adalah kita sendiri. Ego keacehan yaitu merasa diri paling Aceh adalah persoalan besar yang harus diselesaikan.

Sekat-sekat daerah, sekat sejarah harus sesegera mungkin diruntuhkan. Kita harus punya nilai bersama tentang bangsa ini. Bahwa musuh kita bukan Gayo, Pase, Pidie, Bireuen, Aceh Selatan, Meulaboh, dll. Musuh kita adalah kebodohan dan keangkuhan.

Kita telah memiliki modal besar untuk merajut kebersamaan, yaitu Islam. Nilai-nilai Islam haruslah menjadi modal dan alat ukur bagi kita dalam menentukan arah politik untuk merencanakan masa depan Aceh. Bahwa siapapun dia, dari kabupaten apapaun dia, selama memiliki rekam jejak yang baik, memiliki pengetahuan agama yang baik, serta memiliki niat baik, dan dari keturunan baik-baik, pantaslah untuk kita dukung menjadi pemimpin kita bersama. Bila semangat dan nilai itu sudah menjadi nilai kita untuk menentukan sikap, maka menuju kemajuan Aceh yang gilang-gemilang, bukan lagi khayalan semata.

Kita hanya punya dua pilihan, kembali menjadi bangsa yang kosmopolit, atau akan terus menjadi entitas yang kalah dan tidak pernah mampu bangkit. Pilih mana?

KOMENTAR FACEBOOK