Menjaga Nalar dan Akal Sehat Usai Pemilu

Oleh T. Zulfikar

Dalam delapan bulan terakhir bangsa Indonesia disibukkan dengan proses pesta demokrasi. Pada 17 April 2019, semua warga negara Indonesia sudah melaksanakan hak pilihnya untuk mencari sosok presiden dan wakil presiden ideal dan juga para wakil rakyat. Diskusi mengenai pergantian kepemimpinan di sebuah bangsa memang menjadi sebuah keniscayaan, bahkan merupakan diskursus penting yang memang harus selalu didiskusikan oleh semua pihak.

Sejarah Islam sudah membuktikan bahwa peralihan kepemimpinan ini menjadi penting untuk disegerakan karena menyangkut dengan nasib hidup dan kehidupan sebuah bangsa. Misalnya, ketika Nabi Muhammad meninggal dunia, Saidina Abu Bakar dan Saidina Umar bersegera untuk mencari sosok yang dapat menggantikan posisi rasulullullah sebagai pemimpin negara. Para sahabat muhajirin dan anshar berkumpul di Saqifah bani Sa’idah untuk membicarakan kekosongan kepemimpinan. Peristiwa ini menunjukkan betapa pentingnya upaya mencari sosok pemimpin ideal. Bahkan dalam Islam pemimpin yang adil merupakan salah satu golongan dari tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan merupakan isu super penting sehingga semua komponen bangsa diharapkan ambil bagian dalam proses demokrasi ini.

Oleh karena itu, menjadi lumrah kalau pembicaraan tentang pemilu 2019, sebagai proses pemilihan kepemimpinan nasional ini menghiasi semua media informasi, baik media cetak maupun elektronik, sehingga menyerap energi semua pihak, bukan hanya energi politisi yang memang terlibat langsung dalam politik praktis, tapi juga energi para akademisi. Debat ilmiah maupun debat kusir terus berlangsung sebelum bahkan setelah hari pencoblosan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Sepertinya para akademisi sudah terpolarisasi di dalam mendukung pihak tertentu.

Terpampang secara gamblang bahwa ada ilmuwan yang menghabiskan waktu mereka berdiskusi dalam grup WA sehingga menggerus kewibawaan para akademisi itu sendiri. Itu jelas terbaca dari narasi yang dibangun. Memberi dukungan kepada paslon tertentu merupakan hak setiap warga negara dan hal itu dilindungi oleh undang-undang. Namun rasionalitas, profesionalitas, dan kapabilitas harus dikedepankan, bukannya mengedepankan emosi.

Warga negara Indonesia, apa pun profesinya memiliki kemerdekaan untuk menentukan sosok pilihan calon pemimpin bangsa. Para akademisi atau ilmuwan tersebut juga merdeka untuk mengeluarkan narasi tertentu untuk melegitimasi pilihan mereka, sebagai upaya penggiringan isu untuk menarik simpati orang lain. Namun, menjadi sebuah masalah ketika para akademisi tersebut, yang notabenenya kelompok orang-orang ilmiah dan berpendidikan tinggi melakukan upaya-upaya untuk mengerdilkan dan mendelegitimasi pilihan orang lain dengan berbagai cara. Sumpah serapah, makian, bahkan ejekan terhadap calon tertentu menghiasi media sosial, seperti Facebook, grup WA, dan berbagai bentuk media sosial lainnya.

Nah, perilaku seperti ini bukan hanya merusak profesi keilmuan yang disandangnya, tapi juga merusak tatanan kehidupan sosial dan menciptakan friksi-friksi di masyarakat. Sumpah serapah yang dipertontonkan oleh sebagian akademisi atau ilmuwan di media sosial sudah menggerus kewibawaan akademisi itu sendiri sehingga label ilmuwan atau schoolar menjadi sulit untuk kita sematkan ke mereka.

Oleh karena itu, besar harapan para akademisi menggunakan akal sehat mereka dalam merespons perbedaan-perbedaan dalam afiliasi politik mereka, dan hendaklah para ilmuwan tersebut lebih elegan di dalam membuat narasi di dalam melakukan pembelaan terhadap jagoannya. Oleh karena itu, upaya untuk menghilangkan sumpah serapah, cercaan, bahkan hinaan terhadap calon yang bukan jagoannya merupakan suatu kemestian. Ilmuwan memang harus kritis dalam melihat fenomena yang ada, tetapi ilmuwan sejati memiliki cara-cara yang baik di dalam menyikapi perbedaan tersebut. Akal sehat harus selalu dikedepankan, sehingga para akademisi dan ilmuan memang pantas menjadi suluh dalam kegelapan.

Marilah kita para akademisi kembali ke posisi mulia kita masing-masing, yaitu sebagai pencerah bagi kegelapan dan oleh karena itu pula, para ilmuwan diberikan posisi yang mulia bahkan Allah menaikkan derajatnya melebih level manusia lainnya. Para ilmuwan juga dinamai sebagai ulul albab di dalam Alquran dan mereka yang menyandang gelar ini pastinya bukan orang-orang yang berhati picik yang senang melakukan fitnah, cercaan, makian, dan celaan kepada kelompok mana pun. Bukankah ulul albab itu adalah manusia yang memiliki keilmuan, sehingga dapat membedakan mana yang buruk dan mana yang baik, dan sifat itulah yang perlu kita pertahankan. 

Memperkuat akal sehat

Untuk itu, dalam merespons hiruk-pikuk pemilu 2019, para ilmuwan perlu menggunakan akal sehatnya untuk: pertama, membuat narasi yang adil dan elegan dalam merespons isu-isu yang berkembang dalam masyarakat, sehingga mereka dapat menyuarakan keberpihakan tanpa mendelegitimasi posisi mulia mereka sendiri. Tentu para ilmuwan tersebut memiliki preferensi untuk paslon tertentu. Namun, tanpa melakukan pemaksaan kehendak melalui debat-debat kusir dan narasi yang menyudutkan pihak tertentu. Narasi yang adil dan berimbang ini dapat direliasasikan melalui media cetak dan media elektronik melalui kolom opini. Para ilmuwan harus mengunakan akal sehat mereka untuk melakukan jihad ilmiah melalui pemberian informasi yang berimbang. Walaupun mereka memiliki preferensi tertentu, mereka bisa menyampaikan dengan cara yang elegan dan baik, sehingga tidak menggerus kewibawaan mereka sebagai para ilmuwan dan menyuguhkan informasi yang adem kepada masyarakat luas.

Kedua, melakukan critical analysis tentang fenomena yang ada, sehingga mereka mampu memberikan argumentasi yang berimbang di dalam merespons fenemona yang ada. Critical analysis ini memang menjadi ranahnya para ilmuwan, karena hanya dengan metodologi itulah perkembangan ilmu dapat dipastikan. Para ilmuwan seperti dosen bisa mengajak mahasiswa dalam proses pembelajaran untuk menggunakan critical analysis dalam menyikapi fenomena perpolitikan di Indonesia. Kegiatan tersebut, bukan hanya memosisikan para ilmuwan pada posisinya yang pantas sebagai ilmuwan, tapi juga melatih para mahasiswa di dalam mengasah critical thinking mereka, sehingga perguruan tinggi mampu melahirkan para lulusan yang memiliki wawasan yang luas.

Ketiga, para ilmuwan juga bisa menggunakan akal sehatnya untuk melakukan penelitian. Proses pemilu ini bisa dijadikan problem penelitian akademik. Para ilmuwan atau akademisi seperti dosen bisa saja mengikutsertakan para mahasiswa untuk melakukan penelitian yang berhubungan dengan proses pemilu 2019 ini. Melalui kegiatan ini, dosen mampu memperkaya pemahaman mahasiswa dalam proses penelitian.

Keempat, akal sehat ilmuwan harus digunakan untuk memberikan informasi yang fair dan balanced sehingga mereka terhindar dari sikap berstandar ganda, yaitu mereka cenderung kritis terhadap sesuatu yang tidak menguntungkan mereka, tetapi para ilmuwan tersebut cenderung diam ketika yang terjadi menguntungkan jagoan mereka.

Apabila para ilmuwan mampu menggunakan akal sehatnya untuk hal-hal yang positif, mereka sudah kembali menempatkan dirinya pada posisi yang mulia dan dimuliakan, karena mereka menjadi rujukan masyarakat dalam hal apa pun. Akal sehat harus terus dipelihara supaya para ilmuwan benar-benar dapat menjadi pencerah ketika gelap, menjadi petunjuk ketika salah, dan menjadi penasihat ketika lalai sehingga label mereka sebagai ulul albab memang layak untuk mereka sandang.[]

*Peneliti Aceh Institute

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK