Perempuan Aceh Garis Cantik

Aceh ini unik. Hal-hal yang serius dibincangkan di dalam berbagai forum pembangunan, justru tak maujud di dalam implementasi. Aceh, dengan dana melimpah pascakonflik, justru menjadi daerah miskin di Sumatera. Di tengah ketidakberuntungan itu, kita justru untung. Perempuan Aceh mewarisi kecantikan yang eksotis. Mameh meunan dan hana meujan tabeu wate tapandang.

Semua teori dan rumus ekonomi, sepertinya tidak bisa diimplementasikan di Aceh. Buktinya, dengan ragam program pengentasan kemiskinan yang dikerjakan di Aceh, nyaris tidak 5 persen yang sukses menghasilkan kegembiraan. Ibarat ie raya lam krueng, semua program pemberdayaan ekonomi hanya jalan sebentar, kala masih didampingi oleh petugas. Setelah pendampingan selesai, maka semuanya pun selesai. Lage habeh eh lam uroe tarek.

Perilaku negatif sulitnya orang Aceh move on dari status quo, saya kira hasil dari konflik berkepenjangan. Masyarakat kita sudah terlalu lama hidup dalam ketiadaan perencanaan dan tiada mau lagi bekerja keras. Di sisi lain, dalam kondisi seperti ini, satu-satunya hal yang paling gemar diperbincangkan di Aceh adalah politik. Bila sudah bicara politik, semua orang akan merasa diri ahli. Bahkan si tukang sipak oen pisang bineh jalan pun merasa diri setara dengan ilmuwan.

Lupakan semua itu, karena bicara politik adalah sesuatu yang tidak berujung. Apalagi kontestasi pemilu sudah selesai. Kita hanya menunggu KPU mengumumkan hasilnya. Mau 01 maupun 02 yang terpilih, pastinya yang penting pembangunan Aceh harus tetap jalan.

***
Kita adalah bangsa beruntung. Di tengah ketidakmampuan pemerintah membangun ekonomi rakyat, dan di tengah keengganan mayoritas kita untuk benar-benar menjadi entitas yang mandiri, ada hal menarik, yang dihasilkan dari asimilasi berbagai bangsa besar dunia yang kemudian melahirkan Aceh.

Perpaduan Arab, Cina, Eropa dan H (India), kita menjadi bangsa yang paling tidak seragam bentuk badan, bentuk wajah, serta paras yang selalu tidak sama, bahkan dalam satu keluarga. Saya misalnya, dengan mata sipit dan badan yang tidak cocok mendaftar sebagai tentara dan polisi, menurut ahli kalam, mewarisi darah Korea zaman lampau. Tapi kulit saya yang eksotis dapat saya duga mewarisi darah bangsa lain, mungkin India atau Arab. Padahal bapak dan ibu saya memiliki tinggi badan ideal untuk bangsa Aceh. Dua saudara laki-laki saya memiliki wajah India bercampur Arab. Adik perempuan saya memiliki rambut agak pirang, kulit kuning langsat dan hidung bangir.

Tentang kecantikan perempuan Aceh, oleh beberapa teman saya di luar propinsi ini, telah memberikan pengakuan secara personal. Bahwa inong Aceh memiliki kecantikan yang unik dan takkan bosan untuk dipandang lama-lama. Perpaduan sempurna antara manis dan cantik. Kulit mereka pun beragam. Dari hitam adang kanot, hingga kuning langsat. Bahkan ada yang layak disebut putih walau bukan seperti Eropa tulen.

Soal mahar mereka pun, sangat beragam. Sangat tergantung dari trah dan latar belakang pendidikan. Secara sosial, lulusan keperawatan, kebidanan dan kedokteran, memiliki mahar tertinggi di kelas sarjana dan diploma.

Dengan mahar yang membuat perjaka muda harus bekerja lebih keras, masih saja belum menjamin bahwa semuanya memiliki kemampuan mengelola rumah tangga dengan baik. Unik kan?

Seorang abang saya yang gemar merantau dan sudah menjajal banyak propinsi di Sumatera, membuat pengakuan yang senada dengan rekan saya di luar Aceh. Mengatakan bahwa kecantikan perempuan Aceh membuat rindu.

“Ureung inong Aceh meudeh lagak. Han glak teuh sampoe tuha,” begitulah perumpamaan yang dibuat kala kami berbincanng ringan pada suatu sore.

Karena di Aceh sedang hangat-hangatnya diperbincangkan tentang garis-garis, merujuk pada pernyataan Mahfud MD tentang kekalahan Jokowi daerah garis keras, maka kiranya pantas pula saya sampaikan bahwa perempuan Aceh garis cantik. Tapi kecantikan dara Aceh tidak untuk dipertandingkan di kontes kecantikan. Kecantikan dara Aceh hanya untuk dimiliki dengan cara dinikahi.

By the way, mari seruput kopi sore di warung-warung langganan masing-masing, sembari melihat lalu lalang manusia di jalan. Ingat, jangan lama-lama menatap perempuan cantik di jalan, karena berbahaya bagi ingatan. Soalnya, akan melahirkan rindu. Ups!

KOMENTAR FACEBOOK