Angka perceraian Tinggi, Syariat Tak Masuk Rumah Tangga di Aceh?

Ilustrasi. Dikutip dari internet.

ACEHTREND.COM, Banda Aceh-Sepanjang tahun 2017 angka perceraian di Aceh mencapai 4.917 kasus. Bukannya menurun, angka tersebut justru meningkat menjadi 5.562 kasus pada 2018. Atau meningkat sebanyak 13,11 persen.

Ketua Mahkamah Syar’iyah Propinsi Aceh Jamil Ibrahim, Kamis (31/1/2019) mengatakan bahwa kasus perceraian itu semunya sudah berkekuatan hukum tetap dan putusannya itu di 23 kabupaten dan kota di Aceh.

Ia merincikan pada 2017 perkara cerai talak 1.331 dan cerai gugut 3.586. Kemudian, di 2018 cerai talak 1.562 dan cerai gugat 4.000.

Jamil menerangkan faktor penyebab terjadinya perceraian di daerah yang memberlakukan hukum Syariat Islam, di antaranya perselisihan dan pertengkaran yang berkelanjutan serta meninggalkan salah satu pihak tanpa ada kabar.

Selanjutnya, faktor ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga, dihukum penjara, terlibat kasus narkoba, poligami, terlibat judi, cacat badan dan lain sebagainya.

Secara persentase, perceraian paling tinggi ada tiga faktor, pertama perselisihan dan pertenagkaran dalam rumah tangga. Kedua, meninggalkan salah satu pihak, dan terakhir faktor ekonomi.

Istri Gugat Suami

Menurut data yang berhasil dihimpun aceHTrend, ada fenomena menarik yang terjadi di Kota Lhokseumawe. Di sana, dalam tiga tahun terakhir kasus perceraian lebih dominan berupa cerai gugat istri kepada suami. Angkanya mencapai 35 sampai 65 persen.

Hal yang melatarbelakangi cerai gugat itu karena faktor ekonomi, pertengkaran berkepanjangan dalam rumah tangga, dan kasus perselingkuhan.

Fenomena yang sama juga terjadi di Aceh Utara. Mahkamah Syar’iyah Lhoksukon juga banyak menangani gugat cerai ketimbang talak. Selain faktor ekonomi dan perselingkuhan, narkoba ikut masuk sebagai alasan.

Hal yang sama juga terjadi di Bireuen. Dengan alasan yang sama pula, kasus cerai gugat pun marak di Kota Juang itu. Faktor ekonomi menjadi yang utama. Bila diperiksa lebih detail, karena suami malas, pendapatan tidak tetap serta ketidakmampuan suami menyediakan kebutuhan rumah tangga sesuai tuntutan istri.

Suami Sibuk di Media Sosial

Dikutip dari Republika, Psikolog Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), Provinsi Aceh, Endang Setianingsih menyatakan, media sosial (medsos) menjadi pemicu perceraian di daerah yang dijuluki Serambi Mekkah itu. Banyak kasus pernikahan yang kandas karena perilaku pasangan yang terlalu sibuk dengan medsos.

“Di era digitalisasi media sosial menjadi pemicu terjadinya perceraian di Aceh,” kata Endang Setianingsih di Banda Aceh, Sabtu (2/2/2019).

Dewasa ini, kata Endang, tidak sedikit kepala keluarga disibukkan dengan media sosial. Perilaku seperti itu berdampak atau berpeluang terjadinya miskominukasi di dalam sebuah rumah tangga.

“Pengamatan saya di lapangan, suami-istri duduk semeja di warung kopi, tapi masing-masing sibuk dengan media sosial, sehingga waktu untuk berinteraksi dengan keluarga sangat sedikit,” kata dia.

Menurut Endang, selain media sosial faktor ekomoni juga menjadi pemicu terjadinya perceraian. Dan tidak sedikit perempuan menjadi tulang punggung bagi ekonomi keluarga atau perempuan yang mencari nafkah.

“Jika pendapatan perempuan lebih tinggi dari suaminya, suami merasa tidak dihargai, padahal itu tidak,” ujar dia.

Psikolog P2TP2A Provinsi Aceh juga berpesan kepada setiap kepala keluarga bisa memberikan contoh yang baik dalam membina rumah tangga. Selain itu, kepala keluarga juga perlu mendorong anak-anak bertumbuh kembang menggapai masa depan yang lebih baik.

Suami Tidak Bertangungjawab

Dari ragam cerita yang berhasil dihimpun aceHTrend dari berbagai testimoni perempuan yang melakukan cerai gugat, didapatkan informasi bahwa mereka melakukan cerai gugat tidaklah serta merta. Telah melalui pertimbangan matang dan memakan waktu yang lama.

Sebut saja Kiki (45) perempuan beranak tiga. Dia mengatakan hidup dengan suaminya ibarat mengasuh bayi besar. Sang suami tak pernah fokus mengurus ekonomi keluarga. Karena kebutuhan yang dari hari ke hari semakin membengkak, Kiki pun harus turun tangan menjadi tulang punggung utama.

“Bekas suami saya memang tidak melakukan kekerasan fisik. Tapi ia seperti lupa bahwa dirinya suami. Semua yang dikerjakan tidak fokus. Bahkan justru pendapatan saya yang habis untuk keperluan dirinya. Saya seperti memelihara bayi besar yang harus disusui tiap hari,” kata Kiki pada medio Maret 2019.

Lain lagi cerita seorang IRT sebut saja Ida (40), suaminya selain tidak memiliki pekerjaan tetap, juga lalai dengan internet. Bila tidak sedang bekerja, sang suami sibuk berinternet. Selain itu, bila ditegur sang suami selalu marah-marah.

“Saya masih bisa maklum bila ia memang tak memiliki pekerjaan tetap. Saya tidak 100 persen menopang pada dirinya. Saya lakukan apapun yang bisa, asalkan dapur tetap ngebul dan anak-anak bisa sekolah. Yang membuat hati saya kian hari bertambah sakit, kalau ditegur, bapaknya anak-anak akan marah-marah dan memaki saya. Coba saya tahan-tahan, tapi akhirnya lelah juga,” kata Ida, pada April lalu.

Dari banyak wawancara yang dilakukan aceHTrend sepanjang Maret hingga April 2019, ditemukan pengakuan bahwa, dalam banyak kasus gugat cerai, serta sengketa cinta yang belum masuk Pengadilan Agama, para suami banyak sekali yang tidak paham tanggungjawabnya dari sudut pandang agama. Jangankan diharapkan akan menunaikan tugas sebagai penanggung jawab utama keluarga, bahkan mengurus diri sendiri saja mereka belum mampu.

“Dulu saya tidak peduli. Cinta membuat mata hati saya tertutup. Tetapi makin ke sini, semakin makan hati. Ayah anak-anak seperti tidak tahu apa-apa tentang agama. Bahkan disuruh shalat saja, enggan dilakukan. tapai kalau cang panah di depan orang lain, dia nomor satu,” ungkap RR (39).

KOMENTAR FACEBOOK