Indonesia Carut Marut Zaman Now

Oleh Muhamnmad Putra Adha, S.Pd, M.Sc*)

Kondisi yang sangat mencemaskan dan memprihatinkan hari ini membuat hati saya tergugah untuk membuat secuil goresan – goresan tinta. Mengungkap kondisi di era millenial hari ini baik kondisi sosial, budaya, ekonomi, dan politik bahkan pendidikan nampak begitu meresahkan dan membingungkan merujuk dari fakta fenomena yang terjadi dalam masyarakat dan bangsa ini, seolah – olah jebakan dalam sebuah permainan yang menguras fikiran dan menyeret sejumlah persepsi untuk mencari jalan keluar tiada hentinya.

Fikiran dan persepsi yang sarat akan arus – arus negatif yang membuat masyarakat bimbang dan selalu bertanya – tanya akan sebuah kejadian dan solusi yang sebenarnya itulah yang disebut teka – teki dalam sebuah permainan baik permainan ekonomi, hukum, pendidikan dan politik sendiri.

Dibutuhkan sebuah pemahaman, fikiran dan ilmu yang mantap dan mendalam agar hal ini semua tidak dapat menyesatkan cara / sistem berfikir kita dalam menghadapi jebakan – jebakan penuh belokan tersebut. Sangking menariknya untuk ditelaah, kita pun ingin menelitik bagimana maksud dari jebakan – jebakan itu sebenarnya.

Secara umum jebakan merupakan alat atau taktik yang ditujukan untuk mendeteksi, mengancam, atau menangkap pengacau, baik manusia, hewan yang dalam permainan dapat berupa benda fisik maupun konsep metafora. Berdasarkan definisi itulah sehingga saya membuat impikasi bahwa ini perlu menggunakan pemahaman, fikiran dan ilmu yang mantap agar tidak tersesat dan menyeleweng dari kebenaran berupa fakta, data dan informasi yang akurat. Bukan sekedar mendengar dari pembicaraan – pembicaran orang lain, diskusi – diskusi kecil, musyawarah – musyawarah biasa yang tidak membawa kea arah pencapaian ilmu, pengetahuan, science dan mindset yang terstruktur.

Jadi, kita harus betul – betul teliti dalam menelaah, memeriksa dan menganalisa kondisi yang terjadi hari ini dalam masyarakat. Tidak perlu mementingkan ide, gagasan, dan citra dalam menghadapi masalah hari ini tapi yang terpenting adalah bagaimana ilmu, science dan pendidikan dapat kita tarik dan kita jadikan sebagai pacuan dan bimbingan bagi kita semua.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, disimpulkan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang terstruktur seperti ketika kita menyebutkan ilmu agama, ilmu filsafat, ilmu moral dan lainnya, karena mereka memiliki struktur dan metodenya masing-masing.

Tentu ilmu yang dimaksud di sini adalah kata “ilmu” yang berada dalam ranah akademik. Sedangkan sains lebih dari sekedar pengetahuan yang terstruktur yang mempunyai ciri khusus lainnya yaitu diperoleh melalui observasi, penelitian dan uji coba.

Selanjutnya, mindset sebenarnya adalah kepercayaan (belief), atau sekumpulan kepercayaan (set of beliefs), atau cara berfikir yang mempengaruhi perilaku dan sikap seseorang. Pemikiran yang mendalam sehingga mencapai level yang disebut dengan keyakinan. Mindset ini dapat dibentuk dari apa yang masuk ke dalam diri kita selama bertahun-tahun.

Seperti yang saya sebut di atas dengan kata “tersesat dan menyeleweng”, itu artinya bahwa kesalahan dalam berfkir dan berpersepsi maka dia akan menyebakan seseorang salah dalam mengambil tindakan dengan prilaku dan sikap yang negatif. Oleh sebab itu, diperlukan mindset berfikir yang jernih untuk menyelesaikan masalah baik itu masalah yang timbul dari luar maupun dari dalam. Inilah yang disebut dengan keseimbangan dalam mengambil langkah untuk bertindak.

Jika mindset kita salah maka tindakan juga akan salah, dan jika mindset berfikir kita benar maka tindakan kita pun akan terarah dan sistematis dalam bertindak seperti yang terjadi pada hari ini.

Hari ini adalah kebanyakan orang bertindak tanpa melihat apa efek baik dan buruknya ke depan bagi anak – anak, generasi muda, asalkan menguntungkan bagi diri sendiri maka apapun dilakukan untuk bertindak, dan inilah mindset berfikir yang salah. Ketika kita berfikir dan bertindak dengan salah, maka kita juga bisa berkaca untuk mencari kebenaran dari tindakan itu.

Kesalahan dijadikan sebagai cermin untuk menjadi lebih baik dan benar dalam berprilaku atau bersikap. Kebenaran dan kesalahan adalah satu mata uang dengan sisi yang berbeda yang dapat berbolak – balik dalam melakukan tindakan atau perbuatan dan itu semua tidak terlepas dari satu hal yaitu niat atau kepentingan yang melingkari semua perbuatan kita di dunia ini. Memang sangat sulit untuk menentukan niat atau kepentingan kita karena sangat banyak dan bervariasi sesuai dengan kemampuan kita masing – masing atau bisa dikatakan sesuai dengan mindset pikiran kita yang tergantung apa, bagaimana dan sejauh mana tujuan atau kepentingan itu sendiri.

Fenomena yang membingungkan hari ini terjadi akibat pengaruh teknologi dan era globalisasi. Penyalahgunaan dunia globalisasi menyebabkan manusia lupa akan efeknya yang negatif. Padahal jika kita mau perhatikan sebenarnya manfaat dari globalisasi lebih banyak dibanding kerugiannya, contohnya seperti menciptakan peluang kerja, kemajuan ekonomi, pendidikan serta budaya dan masih banyak lagi contoh lainnya, namun hal itu semua diselewengkan dan disalahgunakan oleh orang – orang atau kelompok – kelompok yang tidak ingin melihat kedamaian di muka bumi ini demi tercapainya ambisi mereka. Lagi – lagi kembali kepada seperti yang saya katakan di atas bahwa niat dan kepentingan itu sesuai dengan ambisinya apa dan bagaimana di rencanakan dengan teratur (setting) dan ini yang menjadi sebuah pemicu untuk melakukan tindakan yang mencemaskan dan meresahkan.

Berbicara masalah pendidikan dan ekonomi, maka nasib pendidikan Nasional umumnya dan daerah khususnya kita lihat sangatlah parah yang berpengaruh kepada hambatan dalam pemerolehan kehidupan yang layak melalui ekonomi. Masyarakat susah mendapatkan pendidikan dan yang mendapatkan susah pula mendapatkan pekerjaan. Angka pengangguran nasional telah mencapai 40 juta (Bakrie, 2003).

Hal ini terkait dengan pertumbuhan ekonomi yang sedikit banyaknya berkaitan dengan apa yang terjadi di jajaran dunia pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga tingkat pendidikan tinggi. Dunia pendidikan kita masih cenderung dan seolah – olah harus menjadikan peserta didik agar dapat berfikir namun tidak mesti berbuat. Lebih mengutamakan teori daripada praktek sehingga mereka gagal dalam menghadapi tantangan kehidupan. Dengan kata lain, peserta didik justru dilatih untuk “hidup di langit”, sementara faktanya mereka berada dan hidup di bumi (Daud, 2003).

Dalam bidang politik, Indonesia sekarang ini mengalami degradasi yang sangat kuat dalam makna dan praktek politik. Praktik politik akhir-akhir ini menunjukkan kecenderungan penurunan (degradasi) “nilai”. Makna politik dipersempit oleh sebagian pelakunya menjadi persoalan kekuasaan (power) semata mata. Politik tidak lebih sebagai upaya perjuangan kepentingan (interest) pribadi dan kelompok untuk memperoleh, menjalankan, dan mempertahankan kekuasaan. Celakanya, perjuangan merebut kekuasaan secara konstitusional tersebut juga diracuni oleh prilaku menghalalkan segala cara, intrik, isu SARA, intimidasi, money politic, kecurangan, melakukan hoaks, fitnah, dan sebagainya. Pengalaman dalam berbagai pileg dan pilpres, serta pilkada, sudah terlalu banyak menggambarkan situasi ini.

Kebohongan (hoaks) terjadi di mana – mana, kegaduhan dan kericuhan tanpa dasar ideologi yang jelas yang dilakukan demi tercapainya kekuasaan. Kesadaran dan intuisi masyarakat sangatlah peka dalam melihat kebohongan – kebohongan yang terjadi sekarang ini dengan tidak harus berpendidikan tinggi. Mereka dapat melihat dan membaca sendiri baik di Koran maupun televisi dan media sosial yang menghadirkan berita – berita politik, sosial dan lainnya yang mempengaruhi langkah dalam kehidupan mereka terutama dalam pola pikir (mindset) mereka.

Masyarakat menginginkan sebuah kebenaran hadir dalam setiap permasalah politik yang dapat membawa kehidupan mereka kearah yang baik atau menginginkan pendidikan yang baik dalam politik. Agaknya sudah menjadi hukum alam, percaturan politik dan kekuasaan lumrah adanya dalam tamadun manusia, sehingga Aristoteles menyebut manusia sebagai “hewan politik” (political animal, zoon politicon). Politik bersifat “omni present”, selalu hadir di dalam segala aspek kehidupan manusia: mulai dari kehidupan keluarga sampai kepada kehidupan bernegara dan hubungan antar negara, semuanya tidak dapat dilepaskan dari yang disebut sebagai “politik.” Proses politik turut mempengaruhi kehidupan.

Sekarang ini, pemilu baru saja berlangsung dengan harapan aman dan damai pada akhirnya. Namun ternyata, di belakang proses itu semua lahir efek buruk yang selama ini tersembunyi di publik yaitu hoaks dan kecurangan, pembagian uang, penyogokan tokoh – tokoh, dan masih banyak lagi. Untuk Pemilu 2019, Kali ini, kecurangan terjadi di mana – mana, bukan hanya pada pilpres, tetapi juga DPR. Tingkat DPR pun terjadi kecurangan bukan hanya pada tingkat DPR-RI tetapi juga DPD, DPRA dan DPRK. Begitu juga dengan penyelenggara pemilu bukan hanya PPS, KPPS, PPK tetapi juga Panswaslu.

Lalu, untuk apa dilaksakannya pemilu adil, jujur dan rahasia yang seharusnya merajut keutuhan bangsa dan demokrasi namun berubah menjadi penyembelihan demokrasi? Tidak heran jika kemudian berbagai intrik dan kegaduhan politik menjadi menu sehari hari, tersaji dalam berbagai pemberitaan media cetak dan elektronik, serta media sosial. Tentu saja, gejala seperti ini merupakan salah satu bentuk degradasi nilai (value) dari politik yang sejatinya bersifat mulia, sebagaimana tercermin dalam pemikiran politik: Socrates, Plato, Aristoteles, St. Augustinus, St. Thomas Aquinas, Thomas Hobbes, Montesquieu, JJ. Rousseau, G.W.F Hegel, dan lain lain.

Berdasarkan fenomena di atas, maka timbul pertanyaan yang sangat mendasar yaitu salah siapa. Ini salah siapa sehingga masyarakat dan bangsa kita moralitasnya hancur dan integrasinya bobrok sekarang ini? Sebenarnya, ini bukan salah masyarakat dan juga lainnya tetapi ini merupakan kesalahan bersama baik calon pemimpin dan anggota dewan yang mau melalukan itu semua sehingga masyarakat seakang sudah mulai cerdas akan pekerjaan – pekerjaan yang menyesatkan dan merusak moral tersebut yang seharusnya tidak dicontohkan kepada mereka.

Sudah saatnya kita selaku para intelek, cendikia, ulama dan bersatu untuk memikirkan sebuah titik cerah akan keadaan yang sangat mereseahkan diatas dan mau merenungkan bagaimana nasib kita dan anak bangsa kita kedepan dalam menghadapi perubahan – perubahan yang signifikan ke depan dalam hal pendidikan, budaya, ekonomi, sosial dan politik bangsa dan negara kita Republik Indonesia. Kita harus betul – betul memiliki kesadaran akan pembangunan moral dan akhlak bagi mereka dan kita sendiri bersama demi tergapainya kesatuan dan keutuhan Negara dengan prinsip baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

*)Pengurus Al Washliyah Pidie Jaya, Aceh.
Dosen Luar biasa Mata kuliah; Filsafat Pendidikan UIN Ar-raniry 2017. Dosen Universitas Ubudiyah Indonesia Banda Aceh. Alumni Universitas Pendidikan Sultan Idris 2016.

KOMENTAR FACEBOOK