Memahami Bijak Frasa “Garis Keras” Mahfud MD

Muhajir Al Fairusy. Mahasiswa Antrhopologi UGM, Peneliti Budaya Perbatasan Aceh. (Koleksi pribadi)

Oleh Muhajir Al Fairusy*)

(Wawancara Mahfud MD di Yogyakarta)

Mahfud duduk santai di depan kami yang datang untuk meminta klarifikasi pernyataannya tempo hari dan sempat menghebohkan jagad netizen. Dengan bahasa Indonesia logat Madura, ia memulai diskusi dengan menarik ke arah sejarah, kekagumannya pada Aceh dan beberapa negeri lain seperti Minangkabau yang merupakan kawasan penyumbang tokoh nasional paling ramai. Dia kagum melihat spirit orang Aceh dan mengeluarkan kalimat “orang Aceh itu pintar-pintar.” Selanjutnya, Mahfud mulai berbicara mentalitas dan konotasi dari frasa garis keras, baginya ini hanya jebakan di tengah kondisi politik yang carut marut pasca pilpres.

“…Saya orang Madura dan garis keras. Publik keliru memahami, garis keras itu tidak semata-mata berkonotasi radikal, garis keras juga bagian dari mental teguh pendirian. Misalnya, di Aceh, Madura kampung saya yang masyarakatnya tegus pada pendirian tidak mau memilih pemimpin yang dianggap tidak memihak Islam, itu garis keras bukan berarti bermakna radikal,” demikian ucap Prof Mahfud MD pada kami mahasiswa dan santri Aceh yang menetap di Jogja. Pertemuan dan diskusi ini sengaja digelar untuk mengklarifikasi pernyataannya yang berseleweran dan menuai kontroversi publik, khususnya pada kawasan dan daerah yang memenangkan presiden nomor urut 02.

Setidaknya, dari sikap dan tutur Mahfud MD tampak dia memang tak pernah bermaksud menyandingkan kata garis keras sebagaimana terlanjur dipahami selama ini berkonotasi radikal dan fundamental-tidak toleran seperti Islam garis keras dan lainnya. Karena memang, kata-kata ini dipakai oleh media untuk mengkampanyekan radikalisme agama selama ini. Padahal, garis keras juga memiliki konotasi pada mental-teguh pendirian. Menurut Mahfud ini hanya soal tafsir dan pemahaman publik yang dapat diseret ke wacana politik yang belum stabil pasca-pemilu kemarin.

Dalam konteks Aceh sendiri, segala sesuatu yang menyentuh agama cepat dipahami sensitif dan reaktif. Dari sejak dahulu, Snouck telah memperingatkan kondisi mental dan kultur orang Aceh era kolonialisme. Segala sesuatu yang berbau agama dimaknai serius oleh orang Aceh.

Bahkan di era poskolonial gejala ini masih dapat ditemui, dalam konteks kekinian istilah-istilah yang berbau agama, seperti wahabi, aliran sesat, dan ahlusunnah wal jamaah merupakan simbol bahasa yang justru memiliki kekuatan di Aceh dalam rangka membangkitkan emosi massa, spontanitas menyulut dan kerap digunakan untuk tujuan kelompok dan segala sesuatu yang berhubungan dengan politik identitas. Agama dan bahasa merupakan dua segmen yang mendapat ruang paling ketat dalam kultur dan struktur berpikir sebagian masyarakat Aceh. Keduanya, dapat digunakan untuk mempengaruhi emosi publik.

Tulisan ini hanya ingin memaparkan kondisi dan maksud pernyataan Prof Mahfud MD-tokoh nasional yang selama ini kerap mengisi ruang media nasional, berdasar wawancara yang berlangsung hampir dua jam. Aceh sendiri bagi Mahfud sudah sering dikunjungi. Bahkan, pada era Zaini Abdullah, dia pernah beberapa kali berkunjung ke Aceh dan sempat menjadi khatib di Mesjid Raya Baiturrahman. Tidak hanya itu, berkat tangan dinginnya juga, partai PA dapat mengikuti kembali Pemilihan Gubernur periode 2012-2017 setelah sempat macet yang memenangkan pasangan Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf.

Di ILC, arena media yang ditunggu banyak manusia Indonesia, kehadiran Mahfud pun ikut ditunggu memberikan pernyataan simpulan. Terakhir, saat itu meluruskan pernyataan Permadi Arya (Abu Janda) yang salah mengutip hadits, mendapat apresiasi dari public. Pun demikian, namanya kehidupan dan manusia yang cepat pelupa, ada ucapan Mahfud yang dianggap sensitif menjadi penyulut wacana politik kemudian hari. Padahal, di era digital yang canggih dan terkoneksinya manusia dengan perangkat teknologi, klarifikasi dan menyaring informasi adalah keniscayaan.

Indonesia memang belum pulih benar dari dialektika dan pertarungan politik pemilihan presiden tempo hari. Klaim kemenangan dan tuduhan kecurangan adalah kalimat-kalimat yang sering bermunculan di media sosial. Bahkan, fitnah hingga caci maki telah menjadi makanan sehari-hari sejak Pilpres mulai digelar hingga usai. Agama sendiri menjadi alat identitas paling ampuh saat itu untuk menarik emosi massa. Miris memang, sebagai umat Islam yang mayoritas dan senasib serta sebangsa Indonesia, rajutan kebhinekaan dikoyak koyak oleh politik identitas dan sentimen politik yang sigap menyerang siapa saja.

Karena itu, di tengah kondisi belum stabilnya politik dalam negeri pasca-Pemilu Raya lalu, segala bentuk ucapan dan tindakan elit dapat mengarah pada pemaknaan simbol politik dan kerap digiring ke hal yang berbau politis. Apalagi dalam skop dunia yang dilipat akibat terkoneksi melalui media sosial, semua manusia akan merasakan dampak emosi dari wacana yang berkembang. Segala sesuatu dapat menjadi penyulut psikologi massa, apalagi banyak wacana yang muncul kerap memicu sentiment identitas agama dan etnis.

Penyebutan garis keras yang dilontar Mahfud MD, tak perlu menunggu hitungan jam, dalam laju menit langsung menjadi adonan dan dimasak oleh netizen menjadi komoditas politik. Akibatnya, frasa yang dianggap berbau identitas agama dan etnis ini langsung menyulut wacana politik. Tak tanggung-tanggung, beberapa pentolan elit daerah dan tokoh daerah yang dimaksud angkat suara, meskipun kita tahu mereka bersuara karena bagian dari tim pemenangan salah seorang presiden yang diusung dan menang pada daerah garis keras yang diucap Mahfud MD. Andai, kalimat itu diucap oleh tokoh yang mendukung 02, mungkin suasanya tak sepanas ini.

Padahal, Mahfud sendiri adalah akademisi yang cenderung netral selama ini. Bukankah ia juga person yang sempat “dikhianati” oleh Jokowi saat diprediksi akan mendampingi jadi wakil presiden. Mahfud berbicara atas latar realitas, hanya emosi politik massa yang tak terkendali pasca pemilu mendorong ia dihujat habis-habisan.

Sebagian orang Aceh, pun tidak semuanya, memang kerap tersinggung dengan istilah-istilah tertentu yang dimaknai memojokkan agama. Dulu, saat Gusdur berpidato di hadapan masyarakat Aceh dengan menganologikan diri sebagai “Nabi orang Aceh”-kecaman hingga ancaman terus berdatangan ke Gusdur. Bahkan, orang-orang yang dianggap berseberangan dengan ideology Islam kultural di Aceh dituduh wahabi yang langsung berkonotasi pada kelompok dan kumpulan orang-orang yang dituduh bermasalah dengan akidah dan mengancam identitas keacehan.

Sebagai muslim yang bijak, dan pintu masuknya Islam pertama di Indonesia. Aceh dikenal memiliki spirit Islam Nusantara kental. Meskipun, kini istilah Islam Nusantara juga dimusuhi oleh orang Aceh karena dianggap dibajak dan telah menodai Islam puritan yang dipahami. Apalagi, karena Islam Nusantara yang sempat menghebohkan jagad Nusantara karena frasa ini dinilai nyeleneh oleh segelintir pihak yang kaku cara beragama. Seyogjanya, Aceh merupakan basis rekonsiliasi yang dapat menjadi contoh baik cara berislam-menuju puncak peradaban.

Bukankah, tasawuf yang mengakar di Aceh dengan basis kemanusiaan tinggi tempo dulu telah berhasil mendamaikan konflik agama hanya karena istilah wahdatul wujud yang dikembangkan Hamzah Fansuri. Lalu, kenapa kita masih terjebak pada pengurasan energi dan mengeluarkan emosi berlebihan hanya untuk tampak gagah mengecam pendapat yang frasanya masih ambigu.

*)Penulis adalah mahasiswa Antrhopologi UGM, Peneliti Budaya Perbatasan Aceh.

KOMENTAR FACEBOOK