Lelaki Aceh, Khitan dan Ramadhan

Seorang anak sedang dikhitan di Aceh Utara. (dok. aceHTrend)

Oleh Muhajir Juli*)

Dalam budaya Aceh, koh boh atau khitan (sering pula disebut sunat) jelang Ramadhan, bukan sebatas memanfaatkan waktu libur sekolah. Karena praktek tersebut sudah dilakukan jauh sebelum orang Aceh mengenal sekolah formal. Ada pesan tersirat dalam lelaku budaya tersebut.

Koh boh adalah arti sesungguhnya dari prosesi pemotongan sebagian kulit kelamin pria kecil, ketika ia dianggap sudah pantas untuk memiliki alat kelamin berkepala plontos. Bila dihitung secara usia, biasanya lelaki Aceh akan melalui prosesi koh boh ketika lulus SD atau sekira 11 sampai 12 tahun.

Sebelum orang Aceh mengenal alat medis modern, proses koh boh dengan menggunakan bambu yang telah dibikin setajam mungkin. Dari cerita yang saya himpun dari para “senior”, dulu, koh boh adalah sesuatu yang menakutkan. Akan tetapi tidak bisa dielak. Karena bila seorang bocah lelaki terlambat melakukan khitan, dia akan menjadi bahan olok-olokan teman-temannya. Bahkan teman sebayanya akan menolak bergaul, dengan dalih tak layak berteman dengan yang masih meu ek boh.

Sebelum seorang pria kecil dibawa ke tukang peusunat aneuk mit, anak-anak lelaki yang akan dikhitan itu akan direndam di dalam air. Biasanya, yang dekat dengan sungai, akan berendam di sungai seusai shalat subuh–bagi yang sholat. Mereka akan direndam selama dua sampai tiga jam, sampai timbul rasa dingin yang menusuk dan kebas di bagian alat vital. Tujuannya untuk mengurangi rasa sakit.

Bila perendaman itu sudah selesai dilakukan, si bocah itupun dibawa ke tukang khitan, untuk mengikuti proses operasi kecil berupa pemotongan sebagian kulit kemaluan dan kemudian dilipat ke belakang, hingga kepala kemaluannya menjadi plontos.

Ini adalah proses yang tidak mudah, karena selama apapun seorang bocah direndam dalam air, tetap saja rasa kebasnya tidak bertahan lama. Penderitaan pun berlanjut setelah proses khitan selesai. Rasa perih bahkan ada yang bertahan hingga berhari-hari.

***
Khitan adalah sebuah media transformasi dari dunia anak-anak menuju remaja tanggung. Siapapun lelaki yang sudah dikhitan, dianggap sudah dapat memikul tanggung jawab lain, berupa kewajiban berpuasa, melaksanakan shalat hingga membantu orangtua masing-masing.

Lalu mengapa dilakukan jelang bulan Ramadhan? Padahal dulunya tidak banyak orang Aceh yang bersekolah formal.

Dari hasil bincang-bincang ringan dengan orang yang layak dijadikan refensi, dipilihnya waktu khitan di bulan Ramadhan, karena adanya pesan tersirat.

Ramadhan adalah bulan mulia, bulan yang diharapkan manusia memperbanyak amalan sembari menjalankan kewajibannya berpuasa. Puasa sendiri adalah bentuk latihan diri, yang bukan semata tentang menahan lapar dan haus secara ragawi, tapi juga melatih untuk membentuk jiwa-jiwa muslim agar mampu menjadi muslim yang sanggup menundukkan nafsu angkara murka yang ada pada dirinya.

Jadi, ketika seseorang dikhitan jelang bulan Ramadhan, dan kemudian melalui masa-masa pingitnya di dalam rumah, dengan harus berpuasa pula, serta rasa perih yang bisa datang kapan saja, khususnya saat ereksi kala hendak buang air kecil, serta tidak bisa bebas menikmati menu berbuka (harus melaksanakan ragam pantangan) para “khitaner” dilatih untuk bersabar, mengendalikan nafsu akan “syahwat dunia” berupa makanan lezat kala berbuka, serta melatih mengelola emosional agar tetap stabil di tengah kondisi serba tidak menguntungkan itu.

Kelak, bila “khitaner” telah sembuh, dan telah menjadi lelaki seutuhnya, ia diharapkan bisa menjadi pria yang mampu mengelola dirinya sendiri, mampu menahan diri dari larangan-larangan, mampu tidak terprovokasi oleh godaan, serta mampu menjadi pria yang bertanggungjawab. Intinya, bila seseorang telah dikhitan, ia dianggap individu yang sudah layak diberikan tanggungjawab dan kepercayaan.

“Ciri khas lelaki yang sudah dikhitan dan sukses menimba ilmu dari proses itu adalah: Senantiasa memelihara lidah, memelihara jemari, memelihara kaki, memelihara hati. Sukses tidaknya seseorang lulus ujian khitan jelang Ramadhan dilihat dari perilakunya setelah ia dikhitan.

Saya teringat satu kalimat orang-orang dulu: Utak bek kapakek bak teuot. Bek lage aneuk mit golom geukoh boh.

*)Penulis adalah Pemimpin Redaksi aceHTrend. Pengasuh rubrik Jambo Muhajir. Dapat dihubungi melalui email: muhajirjuli@gmail.com. Direktur Utama penerbit dan percetakan buku: CV. Kawat Publishing.

KOMENTAR FACEBOOK