Asa Anak Berkebutuhan Khusus Mendapatkan Pendidikan

Muhammad Sahuddin, M.Ed.

Oleh Muhammad Sahuddin, M.Ed*)

Tidak terasa Indonesia sudah 73 tahun mardeka. Tapi merdeka itu tak terasa bagi anak berkebutuhan khusus, ketika melihat kawan-kawannya begitu rapi mengunakan seragam sekolah. Akan tetapi apa hendak dikata. Apakah harus menunggu pikiran kritis dari mereka untuk mendapatkan hak pendidikannya?

Jika pun mereka meminta hak pendidikan yang diamanahkan oleh negara, tentu kalian tidak tahu maksud dari isyarat mereka selaku anak tunarungu. Kalaupun mereka ingin mengkritiknya, tapi pikiran mereka terlalu lemah (tunagrahita) untuk berdebat dengan orang pandai seperti saudara. Mereka yang tunanetra, tidak memiliki cahaya mata untuk melihat.

Dalam serba keterbatasan itu, sudah banyak saudara mereka yang senasip sepenanggungan, memberikan hak suara pada pemilu. Suara mereka yang mereka, sama derajatnya dengan suara manusia paling hebat di Indonesia. Dalam demokrasi, kesetaraan itu diakui.

Tapi, di luar hiruk pikuk pemilu, keberadaan anak berkebutuhan khusus masih termajinalkan. Tidak semua kabupaten dan kota di Aceh memiliki Sekolah Luar Biasa (SLB). Dengan ketiadaan fasilitas itu, anak berkebutuhan khusus, tidak bisa mengakses pendidikan secara layak.

Ini paradoks dengan anak-anak normal yang memiliki sarana belajar sangat lengkap. Seluruh sumber daya pendidikan, dialokasikan untuk anak-anak normal. Bahkan sekolah dengan pola asrama pun disediakan daam berbagai jenjang usia. Bahkan anak-anak yang seharusnya masih harus di bawah pendidikan orangtua mereka sekalipun, kini sudah masuk sekolah berasrama.

Anak berkebutuhan khusus sangat jarang mendapatkan fasilitas SLB di tingkat kecamatan apalagi di desa. Mereka harus berjalan jauh ke pusat kabupaten untuk mendapatkan hak pendidikan. Betapa capek dan jeranya mereka lalui supaya bisa memakai seragam sekolah demi kehidupan mereka yang lebih baik di masa depan.

Anak berkebutuhan khusus tidak selamanya bergantungan semua kebutuhan pada keluarga. Karena suatu hari kelak ketika keluarga mereka meninggalkan mereka, di mana harus bersandar? Tentu pendidikan dan ketrampilan yang mereka dapatkan di SLB menjadi modal dalam mengurus diri dan berdikari di lingkungan masyarakat.

Akhirnya, anak berkebutuhan khusus, haruslah diberikan porsi perhatian yang lebih. Mereka butuh fasilitas pendidikan yang murah dan terjangkau. Mereka ingin mendapat fasilitas pendidikan yang dekat dengan tempat tinggal.

Bukankah negeri kita kaya? Tapi, apakah kekayaan itu bisa turut dirasakan oleh anak berkebutuhan khusus? Sampai kapan mereka harus menunggu?

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2019.

*)Guru SMPLB Negeri Susoh Aceh Barat Daya. Sekarang sedang menyelesaikan program doktor di Nanjing Normal University, Tiongkok.

KOMENTAR FACEBOOK