Melirik Pembuatan Kue Sapik di Aceh Singkil

ACEHTREND.COM, SINGKIL– Sebagaimana daerah-daerah lain di Indonesia. Di Aceh Singkil tepatnya di Kemukiman Gosong Telaga, Singkil Utara, belum sempurna hari raya Idul Fitri jika warganya tidak memasak dan menyediakan beraneka ragam kue.

Kue-kue yang telah dimasak itu, biasanya ditata sedemikian rupa di dalam toples. Lalu saat lebaran tiba, kue-kue tadi dihidangkan oleh ahlul bait kepada sang tamu ketika mereka datang bersilaturrahmi atau halal bi halal.

Dari sekian banyak dan beraneka macam jenis dan cita rasa kue, salah satu kue yang tak pernah ketinggalan dibuat dan disuguhkan, adalah kue sapik.

Bahkan, kue sapik ini, adalah kue “wajib” yang harus disajikan di tengah-tengah kue lainnya. Bagi warga Gosong Telaga, ia semacam “kue raja” atau kue mahkota.

Tentang kue sapik ini, di Gosong Telaga, ada anekdot, “Puasa Ramadhan, bayar zakat fitra wajib hukumnya, tarawih sunat dikerjakan, masak kue sapik harus dilaksanakan. Belum abdal hari raya jika tidak masak kue sapik.” Begitu agungnya kue sapik ini.

***

Kue sapik ini menurut keterangan ibu-ibu di Gosong Telaga, termasuk salah satu kue tradisional dan telah dibuat sejak dulu kala, secara turun temurun.

Bahan pembuat kue ini, tidaklah terlalu susah. Adonannya pun sangat sederhana. Kita cukup menyediakan, tepung beras, tepung terigu, telur ayam.

Jangan ketinggalan, harus ada santan, gula pasir, dan rempah-rempah.

Ibu Latifah seorang warga Gosong Telaga kepada AceHTrend menjelaskan, setelah adonan diaduk, lalu dituangkan dalam wadah cetakan yang terbuat dari besi. Kemudian dipangang di atas bara api.

Kue sapik yang dalam bahasa Indonesianya bernama kue semprong, rasanya manis, guri, dan renyah.

Sangat cocok jika dikudap pada pagi dan sore hari sembari minum kopi atau teh.

***

Kendati kue sapik rasanya manis, renyah, gurih dan maknyuus bila dimakan. Apalagi disukai pula banyak orang, tua maupun muda. Namun, membikinnya sangat repot.

Membutuhkan banyak personil dan tenaga ekstra. Sejak menumbuk beras hingga memasaknya.

Pokoknya, dalam membuat kue sapik, kata Ibu Latifah, spirit gotong royong dan kebersamaan plus kekeluargaan, sangat diperlukan.

“Jika sendiri mengerjakan, jelas tidak mampu. Perlu banatuan tenaga dusanak,” tutur Ibu Latifah.

***

Diakui, saat ini tepung beras kemasan banyak dijual di pasar. Dengan berbagai macam merek, kualitas, dan harganya pun terjangkau.

Akan tetapi, warga Gosong Telaga masih percaya bahwa membuat kue sapik, tak perlu menggunakan beras mahal. Beras yang murah, justru lebih bagus.

Tetapi beras itu, harus ditumbuk menggunakan alu dan lesung yang terbuat dari kayu secara tradisional. Tidak digiling menggunakan mesin.

Beras kue sapik yang ditumbuk secara tradisonal, aromanya lebih wangi. Rasanya pun lebih enak dan renyah.

***

Uniknya,  dulu, menumbuk tepung untuk bahan kue sapik, di Gosong Telaga, dikerjakan secara beramai-ramai atau bergotong royong. Biasanya, kalangan muda-mudi.

Sembari menumbuk tepung, muda-mudi itu, bercengkerama dan berkelakar dengan riang gembira.

Wardin seorang warga lainnya kepada AceHTrend menjelaskan, biasanya satu lesung juru tumbuknya, berjumlah dua atau tiga orang.

Jika juru tumbuk tiga orang, kata Wardin, alu yang digunakan tetap dua potong.

Saat alu dijatuhkan ke lubang lesung, masing-masing juru tumbuk harus sigap menyambut alu tadi, secara bergantian. Satu menjatuhkan yang lain menarik atau sebaliknya.

Sehingga suara alu dan lesung terdengar bertalu-talu, tingkah-meningkah, membentuk irama yang enak didengar.

Layaknya seperti suara gendang yang sedang ditabuh dramer kawakan.

“Di sinilah kegembiraan dan riuhnya kaum pemuda-pemudi saat menumbuk tepung. Tak terasa beras yang ditumbuk habis. Pekerjaan pun selesai,” ujar Wardin sembari mengingat saat-saat indahnya menumbuk tepung.

Setelah tepung dijemur sekejap diterik mentari, tibalah prosesi mengaduk adonan kue sapik. Nah, dalam meracik adonan kue sapik itu, dibutuhkan kelihaian dan ketelatenan.

Uning Ana, seorang peracik adonan kue sapik menjelaskan, dalam meracik adonan, tidak perlu terburu-buru.

“Dalam mengaduk jangan sekali-kali menggunakan peralatan, seperti mixer atau peralatan lainnya,” katanya.

Tetapi tambah Uning Ana, cukup dengan tangan telanjang, karena adonan harus diaduk perlahan-lahan dengan perasaan.

Ini dimaksudkan,  agar adonan rata sehinga tidak lengket, mentah atau tasapo saat dicetak dan dipanggang.

“Tidak semua orang memiliki kemampuan mengaduk adonan ini,” ucap Uning Ana yang tergolong cakap dan sering dipercaya mengaduk adonan kue sapik.

Karena mengaduk adonan kue sapik, tutur Uning Ana lagi, memerlukan syarat-syarat dan memiliki pantangan.

Jika syarat dan pantangan ini tidak diperhatikan, biasanya kue sapiknya tidak jadi. Ada yang lengket dipencetakan, berkapiek, mentah, hangus dan lain-lain. Hal ini lazim disebut oleh ibu-ibu, kue sapiknya sedang tasapo.

Setelah tepung dan bahan-bahan lain diaduk, tibalah saatnya memanggang kue sapik. Di sinilah pekerjaan yang membutuhkan tenaga ekstra dan banyak orang. Biasanya yang diajak membantu memanggang, tetangga dan famili dekat.

“Itulah makanya, masak kue sapik acap dilakukan secara bareng-bareng atau kroyokan. Tolong menolong. Jika tidak ditolong, tidak akan sanggup,” ungkap Eva warga pendatang yang sudah berdomisili di Gosong Telaga 20 tahun.

Sebab, masak kue sapik menggunakan api yang membara, bukan lidah api dan peralatan cetaknya pun termasuk penyangga atau tungkunya terbuat dari besi. Sehingga lokasi sekitar pemanggangan selalu berhawa panas.

Ada dua onggokan api dalam memasak kue sapik. Satu api besar yang diunggun menggunakan kayu bakau. Bagian lain, bara api yang diratakan di depan sipembuat kue.

Untuk mengatur bara api ini, dibutuhkan seorang juru api. Ia bertugas menjaga api besar lalu diambil arangnya.

Kemudian juru api membagikan secara merata ke hadapan sipembuat kue yang sedang menjaga cetakan kue.

Begitu seterusnya sehingga tidak ada, pemanggangan yang kekuarangan api. Semakin bagus api, semakin cepat pula proses pematangan kue sapik.

Jika luberan kue sapik di pencetakan, sudah berwarna kuning kecoklatan, berati kue sapik telah matang dan siap diangkat lalu sisa luberan tadi dikikis menggunakan pisau.

Ini harus dilakukan dengan cepat dan cermat. Lalu mengisinya kembali dan ditaruh di atas pemanggangan.

Setiap sipemanggang, didampingi satu orang asisten. Tugas asisten ini, menghimpit kue sapik yang baru saja dikikis dan dikeluarkan dari percetakan. Tujuan dihimpit agar kue sapik rapi terlipat dan elok dilihat.

Menariknya, si pemanggang dengan asisten, harus adu sigap dan cermat. Sekejap saja lalai, akan menghasilkan kue sapik yang hangus dan rasanya pahit.

Begitu pula si asisten, jika lengah melipat, kue sapik menjadi tegang dan akan sulit dilipat.

Memasak kue sapik sangatlah melelahkan, bahkan membuat badan “setengah mampus”. Ia membutuhkan fisik yang prima.

Di samping duduk berjam-jam lamanya, juga menahan hawa panas. Apabila stamina tak mendukung, akan menimbulkan demam.

Itulah makanya, memasak kue sapik acap dilaksanakan warga menjelang memasuki bulan Ramadhan. Tidak terlalu lelah, jika pun lelah dan kecapekan, masih bisa makan-minum.

Apalagi, pekerja membuat kue sapik, tidak pernah mendapat upah sepeser pun. Mereka bekerja, tanpa pamrih. Kalau pun ada jerihnya, hanya diberikan hasil kikisan sisa tepung yang meluber dari pencetakan.

Sisa kikisan ini oleh warga sering disebut, rabuk-rabuk kue sapik. Rabuk ini, tak kalah enaknya dari kue sapik sesungguhnya. Gurih dan ada pahit-pahitnya sedikit.

***

Bila ditilik, kue sapik ini sebenarnya jenis kue yang sangat potensial untuk dikembangkan. Apabila dikelola secara profesional akan bisa menjadi icon dan oleh-oleh khas daerah.

Tinggal lagi sekarang, kemasannya harus menarik plus cita rasanya mesti divariasikan. Atau apakah tradisi memasak kue sapik yang telah berlangsung turun temurun ini akan punah? Seiring dengan terkikisnya semangat gotong royong? Tak tahulah kita. Biarlah zaman yang menjawabnya.[]

KOMENTAR FACEBOOK