Siapa Bilang Santri Tidak Punya Masa Depan?

Gamal Faraby

Oleh Gamal Faraby*)

Kita pasti sering mendengar kata santri. Siapa yang tidak tahu santri? Secara umum, santri itu merupakan panggilan untuk seseorang yang menimba ilmu pendidikan agama Islam di pesantren.

Para santri memiliki pembelajaran khusus di pesantren. Selain menimba ilmu agama Islam berupa tauhid, fiqih, tasawuf, saraf, nahwu, manthiq, dll, mereka juga harus mondok atau tinggal di pesantren tersebut. Selain itu mereka juga harus bersikap akhlakul kharimah dan hidup sesuai dengan nuansa Islam. Ada juga beberapa peraturan dan larangan yang harus ditaati. Tidak boleh membawa dan menggunakan hp, tidak boleh berbicara dengan lawan jenis, pacaran, merokok, dll. Harus fokus terhadap pembelajaran yang dipelajari baik menghafal bait manthiq, tasrif, kaidah ushul, dll, serta harus mengulang pelajaran yang telah dipelajari.

Namun, dari sistem pembelajaran yang terlindung dari maksiat serta disalupi oleh syari’at Islam yang begitu banyak aturan yang bermanfaat masih ada juga sebagian para masyarakat berkeyakinan bahwa santri tidak memiliki masa depan, masa depan santri suram, pembelajaran nya kuno serta banyak lagi isu-isu yang melemahkan mental santri.

Dalam sejarah menyebutkan bahwa Pancasila yang sekarang ini lahir setelah perdebatan antara para ulama seperti K.H.Wahid Hasyim dan K. H Agus Salim dengan Bung Karno di mana sebelumnya Bung Karno meletakkan sila ketuhanan paling terakhir. Tentu ini menjadi kontroversi di kalangan ulama, kenapa tidak! Tuhan yang seharusnya kita junjung tinggi di letakkan di sila terakhir.

Akhirnya hasil dari perdebatan itu lahirlah Pancasila di mana sila ketuhanan dipindahkan menjadi sila pertama atas landasan para ulama. Jelas bahwa peran para ulama lulusan pesantren membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia. Apakah kita masih berpikir bahwa lulusan pesantren tidak punya masa depan? Malah masa depan Indonesia saja lahir dari pemikiran dan perjuangan para lulusan pesantren.

Oleh karena itu, harus kita sadari dan sadarkan bahwa santri bukanlah hal yang kuno bukan tidak punya masa depan tapi merekalah yang menggenggam masa depan. Coba kita lihat di media sekarang apakah di media banyak terlihat para dosen yang memberikan ceramah, apakah ada dosen yang memiliki pendengar ceramah nya sampai jutaan orang?

Tentu tidak, para dosen hanya memiliki pendengar di dalam kelas saja itupun jika ada yang mendengarkan. Mereka hanya berceramah di kelas saja tidak di media. Karena mereka hanya bekerja mencari uang, bekerja untuk hidup bukan untuk mensyiarkan agama yang telah membantu memerdekaan Indonesia.

Pepatah mengatakan “harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, orang mati meninggalkan nama” apakah nama baik yang kita tinggalkan ataupun nama buruk. Sekarang saja banyak orang -orang terkenal dan dijadikan panutan itu yang dari lulusan pesantren bukan lulusan universitas yang memiliki ijazah S1,S2,S3 dan S lainnya.
Masihkah kita berfikir santri lulusan pesantren tidak punya masa depan?.

*)Penulis adalah santri Dayah Darul Abral, Aceh Jaya. Peserta pelatihan jurnalistik yang digelar Dinas Pendidikan Dayah Propinsi Aceh, pada akhir Februari 2019.

KOMENTAR FACEBOOK