Tradisi Hantaran Kue Meugang untuk Mertua Jelang Ramadan di Aceh Selatan

Kue yang akan diantarkan kepada mertua pihak laki-laki oleh keluarga pengantin perempuan. @aceHTrend/Yelli Sustarina

ACEHTREND.COM, Tapaktuan – Banyak tradisi yang dilakukan masyarakat Aceh untuk menyambut kedatangan bulan suci Ramadan. Di Kabupaten Aceh Selatan misalnya, ada tradisi hantaran kue meugang yang khusus dilakukan oleh pasangan pengantin baru untuk diberikan kepada mertuanya.

Salah seorang warga Gampong Air Sialang Hilir, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan, Linda, kepada aceHTrend mengatakan proses persiapan hantaran biasanya sudah dimulai sejak dua pekan menjelang Ramadan. Keluarga dari pengantin lelaki menyiapkan segala bahan baku kue seperti tepung, mentega, gula, beras ketan, dan sebagainya untuk diantar ke rumah pengantin perempuan.

“Kemudian keluarga dari pihak perempuan membuat kue basah dan kering dari bahan-bahan yang diantarkan oleh keluarga laki-laki. Dua atau tiga hari sebelum meugang jelang Ramadan, keluarga dari pihak perempuan mengantarkan kue yang dibuatnya ke rumah keluarga pihak laki-laki,” ujar Linda, yang menjelang Ramadan kali ini bertugas sebagai “seksi sibuk” mempersiapkan hantaran kue meugang untuk keluarga kakaknya kepada aceHTrend, Kamis (2/5/2019).

Kue yang dibuat seperti lemang, lepat, pisang goreng, dan beberapa kue basah lainnya disusun dalam wadah besar hingga membentuk kerucut. Setelah itu ditutup dengan tudung saji yang dibalut dengan benang emas. Selanjutnya susunan kue yang disebut “edang” itu dibungkus dengan kain sarung.

Sebagai pelengkapnya ada juga yang menambahkan kue kering dalam toples dan kue bolu untuk pelengkap edang besar. Semua hantaran itu dibawa oleh keluarga perempuan ke rumah pihak laki-laki. Namun, pengantin perempuannya tidak diperkenankan untuk ikut mengantarkannya ke rumah mertua.

Warga lainnya, Zahara, mengatakan hantaran tersebut sengaja diantar sebelum hari meugang agar kue-kue yang dibawa bisa dicicipi oleh keluarga pihak laki-laki saat hari meugang.

“Sebelum mencicipi lemang dan kue buatan sendiri, maka dimakan dulu hasil kue buatan menantu,” ujar Zahara kepada Aceh Trend (2/5/2019).

Ia juga menambahkan, tempat kue yang dibawa oleh pihak perempuan tersebut ditinggalkan di rumah pihak laki-laki dengan maksud tempat tersebut akan diisi daging dan bahan-bahan dapur seperti cabai, bawang, tomat, kelapa, dan lainnya oleh keluarga pihak laki-laki.

Waktu di hari meugang atau sehari sebelumnya, tempat yang sudah berisi daging dan bahan-bahan perlengkapannya diantarkan kembali oleh pihak keluarga laki-laki ke rumah pengantin perempuan.

“Tradisi seperti ini bermaksud untuk menyatukan dua keluarga baru dan mempererat tali silaturahmi agar lebih saling mengenal satu dengan yang lainnya,” tambah Zahara yang mempersiapkan hantaran tersebut untuk anaknya.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK