Melihat Rumah Peristirahatan Belanda di Tangse dan “Kulam Kaphe” yang Tak Lagi Berjejak

Rumah peristirahatan Belanda di Tangse, Kabupaten Pidie @aceHTrend/Taufik Ar-Rifai

ACEHTREND.COM, Sigli – Kedua lelaki itu satu per satu menaiki anak tangga. Pada anak tangga ke-12, langkah kaki mereka tiba di selasar sebuah rumah tua di Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, Minggu (5/5/2019). Selain memiliki panorama alam yang indah, Tangse juga menyimpan warisan pusaka berupa rumah tua yang sudah berusia seabad lebih. Rumah tua yang berada persis di kaki bukit Singgah Mata ini merupakan peninggalan Belanda. Kedua lelaki tadi, yaitu Hasnanda Putra dan Bakhtiar Minggu kemarin bertandang ke rumah tua tersebut untuk tapak tilas.

Rumah tua itu dalam bahasa Belanda disebut sebagai Het gezelschap met olifanten te Tangse in Atjeh (Rumoh Peusanggrahan di tahun 1931). Amatan aceHTrend, rumah tua ini masih kokoh berdiri menghadap ke jantung pusat Kecamatan Tangse. Kondisi rumah berkonstruksi kayu ini terlihat tidak terawat. Rerumputan liar dan ilalang terlihat tumbuh subur mengelilingi rumah. Begitu halnya dengan kondisi kayu dan langit-langit rumah yang sudah mulai lapuk dimakan usia.

“Ciri khas rumah yang dibangun Belanda adalah ukuran pintu setinggi 2 meter. Ini dikarenakan postur badan orang Belanda yang rata-rata di atas 175 cm,” ujar Hasnanda Putra.

Berdasarkan penelusuran resmi pustaka digital Belanda http://media-kitlv.nl, potret rumah lengkap dengan pemilik rumahnya diambil di tahun 1931. Kuat dugaan, rumah tersebut dibangun sekitar tahun 1920. Rumah ini dibangun sebagai tempat peristirahatan (pesanggarahan) perwira Marsose bersama none-none kulit putihnya lengkap dengan kolam renang bertingkat.

“Dari data yang berhasil kita telusuri, tidak dijelaskan nama-nama pemilik rumah tua ini. Yang Jelas, rumah ini adalah rumah peristirahatan perwira-perwira militer Belanda,” ujar Hasnanda Putra, warga Tangse kepada aceHTrend.

Keindahan panorama membentang di kejauhan. @aceHTrend/Taufik Ar-Rifai

Hasnanda Putra merupakan salah satu dari sekian “aneuk bineh glee” Tangse penakluk Kota Gemilang. Meski sudah memegang posisi empuk sebagai orang nomor wahid di BNP Kota Banda Aceh, ia tak sungkan menjadi pemandu bila kebetulan sedang ada di kampung kelahirannya. Rupanya, sosok yang kini bertansformasi nama kerennya menjadi Bang Has, memiliki pengetahuan luar biasa soal jejak Belanda ke Tangse.

Begitu juga halnya dengan Bakhtiar atau akrab disapa Dekyan ini. Bila dilihat sekilas, sosok berkulit gelap dan bermata tajam ini seperti tipikal pria berwajah garang, tetapi enggan dipanggil bengis.

“Tapi lon got akai hai, casing luwa sagai leumah lagee ureueng bingkeng,” ujar Bakhtiar sambil tertawa terkekeh.

Lantas, kapan nama Tangse itu muncul? Pertanyaan ini seringkali ditanyakan banyak orang. Jawabannya pun seringkali beragam, yang populer adalah Tangse berasal dari kata “tangsi” atau barak militer. Berbeda dengan nama-nama daerah lain yang lebih mudah dilacak asal usul nama, Tangse termasuk sulit ditelusuri asal mula daerah ini dan siapa yang pertama memberi nama untuk dataran tinggi ini.

“Mungkin kata tangsi inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya nama kota Tangse,” kata Hasnanda Putra.

Hasnanda menuturkan, Tangse menjadi tempat peristirahatan perwira-perwira Belanda. Selain berfungsi menjadi markas penting untuk menangkis serangan mujahidin Aceh, Belanda juga menjadikan Tangse sebagai rumah peristirahatan. Ini dibuktikan adanya Kompleks Pesanggrahan Belanda yang lengkap dengan kolam renang bertingkat dan asrama prajurit Belanda. Menurut cerita yang diceritakan para orang tua terdahulu, rumah Pesanggrahan ini merupakan rumah kedua terbesar di Aceh setelah di Seulawah.

“Sebagian masih tersisa bukti, selebihnya seperti kolam renang bertingkat atau dikenal ‘Kulam kaphe” kondisinya sangat menyedihkan karena sekitar tahun 1990-an telah ditimbun menjadi sawah. Di masa konflik, rumah tua ini pernah dijadikan pos militer,” ujar Hasnanda Putra.

Ia berharap adanya keseriusan Pemkab Pidie agar menjaganya serta menjadikannya sebagai salah satu situs peninggalan bersejarah. Pasalnya, rumah tersebut salah satu aset bersejarah yang berusia seratus tahun lebih dan harus mendapat perhatian dari pemerintah. Bukan hanya menjadikannya sebagai salah satu objek wisata sejarah, tetapi juga turut serta melakukan perawatan terhadap bangunan dan rumah bekas kapiten Belanda tersebut.

Hal senada juga diungkapkan Bakhtiar yang miris melihat kondisi rumah kian memprihatinkan. Ia mengaku akan berusaha sekuat mungkin memperjuangkan keberadaan berbagai aset-aset bersejarah di kota Tangse, sehingga nantinya menjadi saksi peradaban yang pernah maju pada masa Belanda.

“Kami merasa miris melihat kondisi bangunan bersejarah ini. Seharusnya kita semua peduli dan membantu mempertahankan bangunan tua bersejarah yang telah dimakan usia tua ini,” tambah Baktiar.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK