Euforia Asmara Subuh di Bulan Ramadan

@aceHTrend/Yelli Sustarina

ACEHTREND.COM, Tapaktuan – Sudah menjadi kebiasaan bagi para muda-mudi menikmati “asmara subuh” di bulan Ramadan. Seusai salat Subuh mereka berjalan menuju ke suatu tempat seperti pantai, jalan raya, atau tempat-tempat keramaian untuk sekadar mengisi aktivitas subuh di bulan Ramadan.

Pada hari kedua puasa tahun ini, euforia asmara subuh terlihat jelas di Kecamatan Samadua, Aceh Selatan. Di sepanjang jalan terlihat para perempuan yang masih mengenakan mukena dan laki-laki yang memakai peci berjalan secara berkelompok. Mereka menuju Pantai Ujung Tanah dan duduk di atas tanggul sambil asyik bermain gadget.

Ada juga yang bermain air laut dan menyalakan petasan sehingga tawa menyelimuti kegembiraan mereka. Begitulah amatan aceHTrend saat menelusuri Pantai Ujung Tanah di Kecamatan Samadua, Aceh Selatan, Selasa (7/5/2019).

“Sudah dua hari saya kemari dan berjalan kaki sekitar satu kilometer bersama teman-teman untuk melakukan asmara subuh. Kalau di rumah bosan dan ngantuk, mending asmara subuh supaya lebih segar,” ujar Dio, salah seorang remaja yang ditemui aceHTrend di pantai tersebut.

Meskipun berjalan jauh, Dio dan teman-temannya tidak merasa lelah karena dilakukan pada subuh hari dan bersama banyak teman. Selain itu, suasananya juga ramai sehingga tidak ada rasa takut walau hari masih gelap.

Istilah asmara subuh memang sudah ada sejak dulu. Entah siapa yang mempopulerkan penyebutan ini, tidak diketahui. Namun, kebiasaan jalan-jalan seusai salat Subuh yang dikenal dengan asmara subuh seolah menjadi hal yang tidak boleh terlewatkan, terutama bagi kalangan anak-anak dan remaja.

“Asmara subuh memang sudah ada sejak dulu, malah menjadi dambaan bagi anak-anak seusia saya dulu waktu kecil-kecil. Kalau sempat tertidur dan terlewatkan asmara subuh, rasanya kecewa sekali,” ujar Bakri yang saat ini sudah menjadi ayah dari satu anak.

Meskipun masih menggunakan istilah yang sama yaitu asmara subuh, tapi tiap generasi beda euforia dan cara menikmatinya.

“Pada zamannya saya dulu, saat asmara subuh kami menghabiskan waktu dengan bermain di Pantai Ujung Tanah yang kondisi pantainya jauh berbeda dengan yang sekarang. Dulu hamparan pasirnya luas hampir 500 meter dari pinggiran jalan sehingga kami bisa bermain bola kaki, main galah-galah, main ranjau darat, main basen-basen dan permainan tradisional lainnya. Sungguh masa-masa yang indah saat itu,” kata Bakri kepada aceHTrend (7/5/2019).

Suasana seperti itu tidak bisa dijumpai lagi karena zaman sudah berubah. “Dari amatan saya tadi, banyak anak-anak dan remaja disibukkan dengan bermain HP. Saya pun bergumam di dalam hati, andai saja kesibukan itu diganti dengan aktivitas menghafal Alquran, mungkin bisa lebih bermanfaat dan menjadikan mereka hafiz/ah dalam waktu singkat. Namun, itulah perkembangan zaman,” pungkas Bakri yang juga sebagai pengajar di Taman Ramadan.

Zaman memang terus berubah, generasi pun terus berganti. Namun, asmara subuh tetap menjadi salah satu kegiatan yang masih bertahan sampai saat ini.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK