A Twelve Year Night: Semangat Bertahan Menembus Batas

@Golden Globes

Oleh Abduh Awab*

Tahun 1973 menjadi awal kebangkitan rezim diktator Uruguay di bawah presiden Juan Maria Bordaberry. Sistem pemerintahan diktator yang berjalan selama 12 tahun menggantikan sistem demokrasi tersebut juga disebut sebagai tahun-tahun kelam pemerintahan Uruguay, sebelum akhirnya sistem demokrasi bangkit kembali di tahun 1984.

Selama rezim ini berjalan, berbagai bentuk kelompok politik yang berlawanan dengan pemerintah ikut dimusnahkan, termasuk Partai Komunis Uruguay dan kelompok antipemerintah Tupamaro. Mungkin, Anda pernah membaca atau mendengar tentang presiden Uruguay yang menjabat dari tahun 2010-2015, dia merupakan presiden termiskin di dunia. Di A Twelve Year Night inilah kisah perjuangannya diceritakan.

Tanggal 7 September 1973, sembilan anggota gerilyawan Tupamaro berpaham Marxisme menjadi sasaran rezim ini. Mereka ditangkap, disiksa, dibiarkan batin mereka mengawang di dalam penjara yang kejam. Namun di film ini, hanya tiga tokoh sentral yang ditampilkan, yakni Jose Mujica (Antonio de la Torre), Mauricio Rosencof (Chino Darin), dan Eleuterio “Nato” Fernandez Huidobro (Alfonso Tort). Sebelum mereka ditangkap, mereka yang tergabung dalam organisasi Tupamero kerap membobol bank untuk selanjutnya dibagikan ke rakyat miskin hingga mereka takluk pada tangan besi pemerintah. Tupamero sudah dianggap sebagai pahlawan yang membela hak-hak masyarakat sekaligus musuh bebuyutan pemerintah.

Semangat Bertahan

A Twelve Year Night yang disutradarai oleh  Alvaro Brechner ingin menampilkan cerita utuh kisah tiga tahanan politik yang mengalami masa-masa sulit di dalam penjara selama 12 tahun. Berstatus tahanan politik, mereka selalu diawasi di dalam penjara. Di awal film, kita langsung diajak untuk melihat kekejaman penjara politik yang menyesakkan hati. Mereka disekap, ditutupi kepalanya dengan karung goni yang disiram bensin memaksa mereka bernafas dengan aroma bensin yang terhirup hingga mengering. Di awal penyekapan mereka masih disatukan dalam satu sel setelah beberapa hari kemudian mereka dipisahkan.

Tidak hanya semi watergate yang mereka alami, mereka juga kerap dipukuli, disiksa, diberi makan tak layak hingga harus menghadapi tiap ancaman yang tak manusiawi sampai urusan buang hajat harus mereka lakukan di tempat tak layak, ini menjadi siksaan tambahan bagi Pepe dan rekan-rekannya.

Dari penjara satu ke penjara lain sampai penjara dalam tanah dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi batin yang dialami oleh Jose Maurica atau yang sering dipanggil Pepe dan kawan-kawannya selama dalam penjara. Bahkan mereka tidak diberi akses untuk melihat cahaya. Namun mereka tidak menyerah, karena menyerah hanya bagi mereka yang kalah, begitu pesan ibu Pepe. Semangat akan ada kebebasan, membuat mereka bertahan dan menguatkan mereka untuk menghadapi semua itu dengan seluruh kekuatan selama 12 tahun.

            “Jika tidak bisa membuat mereka mati, buatlah mereka gila.”

Begitu kata sang jenderal.Barangkali menjadi tahanan politik akan berakhir dengan dua kalimat itu, kalau tidak mati, mereka akan gila. Kalimat perintah ini yang dilakukan untuk mereka selama 12 tahun. Ini sudah menjadi rahasia umum, di mana-mana tahanan politik sering menjadi gila setelah mereka dikeluarkan dari tahanan. Hanya saja kita tidak tahu persis bagaimana mereka diperlakukan.

Nah! Di film ini kita sedikit banyak akan mengetahuinya. Betapa penjara politik merupakan tempat tersadis, tak hanya menimpa fisik tapi juga mental. Bahkan mereka lebih puas melihat tawanan menjadi gila daripada harus mati di dalam penjara. Berdasarkan tujuan ini, Pepe Mujica dan kawan-kawannya harus menghuni tempat yang jauh dari kata layak. Kotor, sempit, penuh tikus, bahkan di dalam penjara pun mereka tak diizinkan melewati garis putih, dipaksa meringkuk di sudut dinding tembok. Namun mereka harus bertahan untuk menunjukkan bahwa penjara tidak bisa mematikan jiwa patriotisme mereka.

Karena mereka dilarang untuk berbicara satu sama lain, mereka terpaksa berkomunikasi lewat ketukan tembok. Mennerjemahkan tiap ketukan dengan kata-kata, mereka ingin memastikan tiap informasi tersampaikan di antara mereka. Rosencof menyalurkan hobinya menjadi ghost writer untuk menulis surat-cinta sang sersan penjaga, menjadi contoh betapa semangat dan kreativitasnya tak bisa ditaklukkan. Betapapun gerak mereka sangat dibatasi, tapi selalu ada cara untuk menembusnya.

Tidak Berlebihan Mendramatisisi Sejarah

Tidak seperti halnya film-film yang diangkat dari kisah nyata (based on true story), A Twelve Year Night merupakan film yang tidak berlebihan dalam mendramatisasi sejarah. Berbeda dengan film-film genre drama history yang dibuat Hollywood khususnya yang bertema penjara kerap mendramatisir kisahnya sehingga kita menjadi ragu akan bentuk keasliannya. Misalnya saja Papilon 1970 dan di-remake pada tahun 2018, banyak memperlihatkan cerita dasar ketimbang menyempurnakannya secara detail kisah tentang usaha mereka untuk kabur dari penjara yang super ketat. Namun tidak di film ini, detail kerasnya penjara menjadi fokus utama di awal film, tanpa ada origin story atau pembuka lainnya, kita langsung melihat perkembangan karakter para tokoh. Untuk menghilangkan kebingungan penonton, unsur dramatisasi hanya disajikan sekilas kilas balik guna mendapatkan penyebab para tokoh tersebut ditahan dan kisah-kisah bersama keluarga di beberapa adegan saja. Kecerdasan sang sutradara juga terlihat dengan kemampuannya menyelipkan berbagai satir gelap yang membuat kita tertawa yaitu di saat Nato ingin buang air besar dengan kondisi tangan diborgol yang menyulitkannya untuk berjongkok. Untuk menolongnya dari siksaan membuang hajat, para sipir harus meminta izin komandan tertinggi. Karena tidak seorang pun berani membantunya sebelum mendapat perintah dari sang jenderal. Hal ini menunjukkan bagaimana sistem diktator dibangun berdasarkan ketergantungan pada keputusan pimpinan. Namun Nato tetap tidak bisa berjongkok!

Layaknya sebuah film yang berlatar belakang sejarah, atau kisah perjuangan tokoh utama Pepe Mujica, A Twelve Year Night bisa dikatakan mampu mendaur ulang kisah sejarah kelam nan menyentuh dan sarat akan pesan-pesan kemanusiaan. Dengan menghindari banyaknya adegan dramatisasi pada tokoh Pepe dan kawan-kawannya menunjukkan betapa sebuah filem mampu mengajak penonton untuk membayangkan keperihan dan kekejaman tahanan politik lainnya, ini semua ada di film A Twelve Year Night.

Begitu juga dengan toko antagonis yang tidak lahir secara alami melainkan dibentuk dan digerakkan oleh sistem diktator yang pada akhirnya hancur seiring dengan lahirnya people power yang tak bisa lagi dibendung. Sistem ini pula yang membentuk Pepe dan kawan-kawannya menjadi tokoh yang sangat terkenal dan disegani di negaranya dan juga mengarahkan mereka, seperti Rosencof dia menjadi jurnalis terkenal sekaligus menteri kebudayaan Uruguay, Pepe Mujica menjadi presiden Uruguay termiskin di dunia karena pendapatannya diberikan kepada orang miskin, sementara Nato sempat menjabat sebagai menteri pertahanan Uruguay. Kini kedua kawan Pepe telah tiada, meninggal membawa kenangan pahit sekaligus semangat yang menjadi contoh bagi generasi setelahnya.

Kejujuran dalam film ini barangkali akan membuat Anda sedikit mendesah bagi yang tidak terbiasa menonton film bergenre drama dengan tempo sedikit lambat. Namun ada sisi lain yang membuat film ini hidup yakni harapan, kekuatan lahir menembus batas sehingga semua itu terbayar di saat akhir kisahnya. Alih-alih berkutat pada narasi kemenangan dan arti sebuah kebebasan, A Twelve Year Night justru mampu menyajikan fokus pada bagaimana mereka kuat bertahan menghadapi sekuel-sekuel terburuk di dalam penjara, demi menyakini gerak hati mereka untuk kebebasan dari belanggu kekejaman.

Penutup

A Twelve Year Night merupakan filem Uruguay dengan alur cerita yang sederhana dan menyentuh menjadi sebuah paket kisah tiga tawanan, yakni Jose Mujica (Antonio de la Torre), Mauricio Rosencof(Chino Darin) dan Eleuterio “Nato” Fernandez Huidobro(Alfonso Tort) yang sulit dilewatkan. Ditambah lagi kisah jujur yang tampak jelas memberi makna dari sebuah perjuangan. Film di bawah arahan sutradara Spanyol ini telah memenangi 32 penghargaan dan 20 dominasi, telah tayang di Netflix sejak 28 Desember 2018. Selamat menyaksikan saudara![]

*Penulis adalah penikmat film dan berdomisili di Samalanga

KOMENTAR FACEBOOK