Partai Aceh, Kemenangan di Atas Kekalahan

Oleh Muhajir Juli*)

Politik pilpres 2019, berhasil menyedot perhatian publik yang luar biasa di Aceh. Di Aceh, Muzakkir Manaf (Mualem) berhasil menunjukkan taringnya sebagai pelaku politik level lokal yang tidak bisa ditandingi dalam urusan ini. Tapi kemenangan besar Prabowo-Sandi di Aceh, tidak diikuti oleh pencapaian kursi Partai Aceh di DPRA.

Magnet pilpres memang luar biasa di Aceh. Isu-isu agama yang dimainkan dengan cukup apik, berhasil mengeliminir suara Joko Widodo yang kalah di Aceh pada 2014. Kala itu, Prabowo Subianto-M Hatta Rajasa menang tipis atas pasangan nomor urut 2, Joko Widodo (Jokowi)-HM Jusuf Kalla (JK). Prabowo-Hatta meraih 1.089.294 suara atau 54,39 persen dari total suara sah 2.002.599 lembar. Sedangkan Jokowi-JK meraih 913.309 suara.

Pada pilpres 2019, walaupun sudah menggandeng ulama besar sebagai wakilnya, tapi justru publik Aceh semakin percaya bila Jokowi adalah calon yang tidak pro Islam, tidak sayang kepada ulama dan antek aseng. Maka wajar bila kemudian paslon Prabowo-Sandi berhasil menguasai 82,2 % suara rakyat Aceh. Jokowi-Amin, walau dengan begitu banyaknya tim pemenangan seperti Tim Kampanye Daerah (TKD), Sekretariat Bersama (Sekber), dan berbagai organisasi relawan lainnya, dibuat tak berdaya oleh Mualem dkk.

Partai NasDem yang dulunya perkasa di Aceh, juga dibuat tak berdaya. Sebagai pendukung utama Joko Widodo, NasDem yang awalnya memiliki 8 kursi di DPRA, harus menelan pil pahit. Kursi mereka tersisa dua saja. Hoaks yang begitu gencar ditujukan kepada partai besutan Surya Paloh tersebut, membuat mereka menjadi public enemy di Aceh.

Kalah Dalam Kemenangan

Efek ekor jas dari badai pilres 2019 adalah Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Dua partai nasional yang awalnya tidak begitu mendapat tempat di hati rakyat Aceh, justru perkasa dengan mendapatkan kursi yang gilang gemilang. Gerindra di pileg 2014 hanya mendapatkan 3 kursi, kini bisa meraup 8 kursi. Demikian juga PKS yang di pileg 2014 mendapatkan 3 kursi, kini meraup 6 kursi. Kedua partai ini pun bisa membangun fraksi masing-masing. Luar biasa lagi, kedua partai ini tidak perlu bekerja sangat keras di Aceh kali ini. Dengan isu agama yang kencang dimainkan, mereka seperti terhembus masuk ke dalam jaring kekuasaan. Kalau dalam pepatah Melayu disebut: Orang tidur disodori bantal.

Mualem, boleh berjaya di pilpres, tapi tidak demikian untuk pileg. Ia sukses sebagai Ketua Badan Pemenangan Daerah (BPD) Aceh, tapi tidak sebagai Ketua Umum DPA PA. Ia justru gagal mewujudkan sesumbarnya.

“Pileg kali ini kita Partai Aceh menargetkan 35 kursi untuk DPR Aceh. Lebih banyak dari tahun sebelumnya,” kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Aceh Partai Aceh (DPA-PA), Muzakir Manaf alias Mualem kepada wartawan, seperti dilansir detik.com, yang saya kutip kembali pada Rabu (8/5/2019).

Dari 29 kursi yang berhasil diraih oleh PA pada pileg 2014, kini –sesuai data yang tersedia, belum pengumuman KPU– kursi mereka di Parlemen Aceh hanya tersisa 18. Bila dilihat secara umum, PA masih tetap juara umum, tapi bila diukur dari persentase kemenangan, kali ini PA kalah melawan dirinya sendiri.

Tulisan ini tidak bermaksud hendak mendelegitimasi Mualem dengan segenap kehormatan yang ia miliki. Tapi ini menjadi catatan penting bagi Partai Aceh bahwa sibuk dengan urusan orang lain, justru merusak diri sendiri. Kali ini Mualem bukan hanya gagal memcapai target yang dibuatnya sendiri, tapi juga kalah dengan dirinya sendiri. Mualem kalah dengan Mualem yang menjadi Ketua PA pada pileg 2014.

Mualem kali nyoe brat sibok peusapat jamee keu khauri peusunat aneuk gob, tuwoe geumita ureung jak bak khauri peukawen aneuk droe,” demikian kalimat yang diucapkan oleh beberapa kalangan.

Benarkah demikian? Ataukah kharisma Partai Aceh yang memang kian luntur dan tergerus zaman? Wallahua’lam.

*)Penulis adalah pemred aceHTrend. Pengasuh kolom Jambo Muhajir. Email: muhajirjuli@gmail.com.

KOMENTAR FACEBOOK